Meski WFH, Pekerja Perempuan Tetap Rentan Alami Pelecehan Seksual

Bisnis

Meski WFH, Pekerja Perempuan Tetap Rentan Alami Pelecehan Seksual

Penerapan work from home atau WFH ternyata tak serta merta membuat pekerja perempuan bebas dari ancaman pelecehan seksual. Hasil survei terbaru menunjukkan adanya risiko pelecehan seksual yang dialami oleh pekerja perempuan saat WFH di masa pandemi COVID-19.

Menurut hasil survei daring yang dilakukan Never Okay Project dan Southeast Asia Freedom of Expression (SAFEnet), dari 315 responden yang WFH, sebanyak 86 di antaranya menjadi korban pelecehan seksual. Lalu sebanyak 68 responden lainnya mengaku menyaksikan pelecehan seksual dan 30 responden pernah menjadi korban sekaligus saksi pelecehan seksual selama WFH.

“Risiko pelecehan seksual pada masa bekerja di rumah tetap tinggi karena tidak didukung dengan instrumen-instrumen keselamatan kerja, dalam hal ini kebijakan anti-pelecehan seksual. Dari survei kami, 85 persn perusahaan belum punya kebijakan pelecehan seksual selama WFH,” kata Inisiator Never Okay Project Alvin Nicola, dilansir dari siaran persnya (15/06/2020).

Dear Ladies, Pelecehan di Kantor Termasuk Kekerasan Seksual

Lebih lanjut Alvin mengatakan, mayoritas korban tidak melaporkan ke manajemen atau HRD. Sebanyak 94 persen korban beralasan tidak percaya HRD akan berpihak dan melindungi mereka. Kemudian sebesar 38 persen responden merasa HRD tidak akan melakukan apapun.

“Ada juga yang khawatir kariernya akan terpengaruh, khawatir tidak akan ada yang percaya padanya, sampai takut disalahkan atau kena victim blaming,” ungkapnya.

Alvin turut mengungkapkan bahwa bukan hanya perempuan saja yang menjadi korban pelecehan seksual. Dalam survei yang dilakukan pada 6-19 April tersebut turut ditemukan bahwa semua identitas gender dapat menjadi korban pelecehan seksual selama WFH.

Pelecehan Melalui Aplikasi Percakapan

Sementara itu, Digital At-Risks, SAFEnet Ellen Kusuma mengungkapkan, media yang paling sering digunakan pelaku yakni aplikasi percakapan seperti WhatsApp, Line, Telegram, dan lainnya. Sebanyak 40 persen pekerja mengalami pelecehan melalui aplikasi pesan singkat, 19 persen melalui media sosial, 16 persen melalui aplikasi konferensi video.

Kemudian sebanyak 10 persen aplikasi internal perusahaan, 7 persen melalui email, 5 persen melalui telepon, dan 3 persen melalui SMS. “Jika kemudian teknologi ini justru menjadi tempat pelecehan seksual terbanyak yang dialami oleh pekerja, artinya budaya pemakluman atau normalisasi terhadap bentuk pelecehan masih sangat kuat sehingga bisa dilakukan di dalam komunikasi grup, yang isinya rekan-rekan kerjanya sendiri,” jelasnya.

WhatsApp Siapkan 7 Fitur Baru di Tahun 2020

Dalam survei ini turut ditemukan 9 bentuk pelecehan seksual yang dialami korban. Adapun bentuk pelecehan seksual yang dialami korban yakni bentuk candaan atau lelucon seksual, atau dikirimkan konten multimedia, seperti foto, video, audio, pesan teks, atau stiker yang bernuansa seksual secara non-konsensual.

“Ditambah lagi, semua kejadian ini bisa berlangsung di multi-platform. Kami menemukan 78 persen korban pernah mengalami pelecehan seksual di lebih dari dua platform,” jelasnya.

[Baca Juga: Dear Ladies, Pelecehan di Kantor Termasuk Kekerasan Seksual!]

Terkait adanya masalah tersebut, Never Okay Project dan SAFEnet mendesak agar perusahaan segera membuat protokol anti pelecehan seksual. Selain itu, keduanya juga merekomendasikan Kementerian Ketenagakerjaan agar segera berkomitmen meratifikasi Konvensi ILO No. 190 Tahun 2019 dan Rekomendasi No. 206 tentang Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja.

Pekerja pun juga diharapkan agar segera membangun inisiatif anti pelecehan seksual di tempat kerja. Serikat pekerja juga diharapkan untuk terus mendorong agar terselenggaranya mekanisme tripartit untuk memastikan keselamatan dan keamanan pekerja yang WFH.

[Baca Juga: Hari Buruh, Komnas Perempuan Ingatkan Kerentanan Pekerja Kala Pandemi]


Read More

Artikel Lainnya

Titipku Perkuat Ekosistem Digital di Pasar Modern Paramount.jpg

Bisnis

Titipku Perkuat Ekosistem Digital di Pasar Modern Paramount

09 February 2023, 14:46

Titipku mengklaim ekosistem digital yang diterapkan perusahaannya di Pasar Modern Paramaount mampu mendorong model bisnis B2B2C, hingga menjadi lahan mengumpulkan pundi-pundi rupiah bagia Jatiper.

Lebih Dari 65 Ribu Penggemar Dewa 19 Sukses Semakkan Konser di JIS.jpg

Hobi dan Hiburan

Lebih Dari 65 Ribu Penggemar Dewa 19 Sukses Semarakkan Konser di JIS

09 February 2023, 11:44

Pada akhir pekan kemarin konser Pesta Rakyat 30 Tahun Berkarya Dewa 19 sukses menghibur puluhan ribu baladewa dan baladewi yang berkumpul di JIS.

580 Usulan Masyarakat Diajukan di Musrenbang Kecamatan Bekasi Selatan untuk RKPD 2024.jpg

Berita Kawasan

580 Usulan Masyarakat Diajukan di Musrenbang Kecamatan Bekasi Selatan untuk RKPD 2024

08 February 2023, 15:59

Dalam Musrenbang Kecamatan Bekasi Selatan untuk RKPD 2024, lima kelurahan mengajukan 580 usulan dengan total pagu mencapai lebih dari ratusan miliar rupiah.

Kasus Diabetes Anak di Indonesia Meningkat Tajam, Ini Saran Pakar UG M.jpg

Kesehatan

Kasus Diabetes Anak di Indonesia Meningkat Tajam, Ini Saran Pakar UGM

08 February 2023, 13:57

Dengan data yang belum lama ini dirilis IDAI terkait semakin meningkatnya kasus diabetes terhadap anak, pakar kesehatan UGM memberikan sarannya agar buah hati Anda terhindar dari penyakit ini.


Comments


Please Login to leave a comment.