Meskipun Masih Jadi Gold Standard, 4 Faktor Ini Bisa Pengaruhi Hasil Tes PCR

Kesehatan

Meskipun Masih Jadi Gold Standard, 4 Faktor Ini Bisa Pengaruhi Hasil Tes PCR

Para ahli setuju, tes polymerase chain reaction (PCR) merupakan tes terbaik untuk mendeteksi COVID-19 alias sudah menjadi golden standrd. Meskipun demikian, berbagai faktor masih bis memengaruhi hasil. Baru-baru ini, Badan Intelijen Negara (BIN) yang terlibat signifikan dalam respons pandemi, mendapat kritik dari organisasi masyarakat sipil menyusul berita mengenai tes PCR-nya tidak akurat.

BIN, yang telah menerima Rp5,57 triliun dari anggaran respons COVID-19 mengatakan, positif dan negatif palsu juga ditemukan di negara lain dan beberapa faktor memengaruhi hasil tes di antara berbagai laboratorium. "Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan dalam uji usap. Diantaranya adalah kondisi mesin, waktu pemeriksaan, kondisi pasien, dan kualitas alat uji," kata juru bicara lembaga tersebut Wawan Hari Purwanto seperti diberitakan thejakartapost.com (5/10/2020).

Tes COVID-19 PCR VS Antibodi, Apa Bedanya

Para ahli mengatakan kepada The Jakarta Post, akan adil untuk membandingkan hasil tes jika sampel diambil pada waktu yang sama dan dikirim ke laboratorium berbeda yang memiliki pengaturan PCR yang sama. Berikut penjelasan mengenai empat faktor tersebut:

1) Kondisi Mesin

Indonesia mengoperasikan sekitar 263 laboratorium untuk pengujian COVID-19, dan mereka memiliki berbagai mesin dan alat penguji. Tetapi bahkan sebelum sampel mencapai laboratorium, variasi tertentu dapat memengaruhi hasil, termasuk kapan dan bagaimana sampel diambil, diangkut, dan disimpan.

Selain itu. proses pengujian PCR juga membutuhkan personel yang terlatih dengan baik, dan kelangkaan tenaga medis seperti itu telah disebutkan sebagai alasan rendahnya tingkat pengujian di Indonesia.

Test Kit qPCR COVID-19 Buatan Negeri Masuk Tahap Produksi Massal

2) Waktu Pemeriksaan

"Tes PCR menunjukkan hasil terbaik dalam tiga hari pertama sejak timbulnya gejala - jika pasien menunjukkan gejala apa pun - karena saat itulah viral load diyakini berada pada tingkat tertinggi," kata Maria Lucia Inge Lusida, seorang profesor. mikrobiologi klinik di Universitas Airlangga (Unair).

3) Kondisi Pasien

“Semakin lama periode antara onset gejala dan pelaksanaan tes, semakin rendah viral load dan semakin tinggi kemungkinan untuk hasil negatif,” tambah Inge, yang memimpin Institut Penyakit Tropis di universitasnya.

[Baca Juga: Tes COVID-19: PCR VS Antibodi, Apa Bedanya?]

4) Kualitas Alat Uji

Aryati, guru besar patologi klinis dari Unair yang mengetuai Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn), mengatakan pekerjaan pengujian membutuhkan perhatian besar terhadap detail, mulai dari pengambilan sampel dengan tepat hingga bahan pemipetan dan pemrosesan pengujian. "Tanpa kehati-hatian, bisa jadi ada kontaminasi," katanya.

Potong Waktu Pemeriksaan, Pemkab Bekasi Punya Alat  PCR

Perlu Adanya Quality Control

Selain empat faktor di atas, pengaturan mesin dan reagen yang digunakan juga dapat mempengaruhi hasil tes. Mesin yang berbeda menargetkan set gen yang berbeda milik SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, dan beberapa gen terdegradasi lebih cepat daripada yang lain, menyebabkan variasi dalam pendeteksian dari waktu ke waktu, kata Aryati.

[Baca Juga: Test Kit qPCR COVID-19 Buatan Anak Negeri Masuk Tahap Produksi Massal]

Memperhatikan bahwa kompleksitas tes PCR dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap hasil tes, para ahli mendesak masyarakat untuk menyerahkan interpretasi kepada profesional medis dan telah menekankan bahwa tes PCR tetap menjadi standar emas dalam mendeteksi virus meskipun kemungkinan negatif palsu dan positif. Inge mengatakan bahwa meskipun tidak sempurna, tes PCR adalah cara terbaik untuk mendeteksi virus untuk saat ini. “Perlu ada quality control rutin lab. Lab baru banyak, dan tanpa kontrol seperti itu kita tidak akan tahu performanya,” ujarnya.

Read More

Artikel Lainnya

Kuliner Otentik di Restoran NSNTR untuk Rayakan Imlek

Kuliner

Kuliner Otentik di Restoran NSNTR untuk Rayakan Imlek

25 January 2021, 18:35

Para tamu dapat menikmati masakan Tionghoa autentik dan hidangan khas Indonesia sekaligus sebagai pengalaman kuliner yang unik di restoran NSNTR.

Depok Tingkatkan Kampanye Donor Plasma Konvalesen

Kesehatan

Depok Tingkatkan Kampanye Donor Plasma Konvalesen

25 January 2021, 17:39

Mohammad Idris mengatakan, pencanangan kampanye plasma konvalesen ini merupakan salah satu upaya untuk membantu masyarakat yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Penyelundupan 380 Burung Asal NTT ke Surabaya Digagalkan

Bisnis

Penyelundupan 380 Burung Asal NTT ke Surabaya Digagalkan

25 January 2021, 16:38

Sebanyak 380 ekor burung berkicau asal Ende, Nusa Tenggara Timur, gagal diselundupkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak.

Aldiv Bahas Realitas Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Melalui Single Perdananya .jpg

Hobi dan Hiburan

Aldiv Bahas Realitas Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Melalui Single Perdananya

25 January 2021, 15:41

Penyanyi solo Aldiv secara resmi merilis single perdananya yang berisi curahan hati mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Comments


Please Login to leave a comment.