Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional

Hobi dan Hiburan

Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional

Sejak jaman penjajahan sampai dengan saat ini. Industri film di Indonesia terus mengalami pasang surut. Hal itu tentunya dipengaruhi oleh kondisi negara pada waktu itu. Beberapa hal seperti sulitnya memproduksi film di era kolonial dikarenakan pada waktu itu merupakan masa-masa terjadinya Perang Dunia II adanya pembatasan film di zaman orde baru membuat industri film Indonesia sempat mengalami fase terburuknya sepanjang sejarah.

Mengutip HM. Johan Tjasmadi dalam bukunya yang berjudul 100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000), sebenarnya industri film di Indonesia pernah sangat meningkat pesat di era kolonial atau di rentang waktu 1926 sampai dengan 1940.

Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional Loetoeng Kasaroeng

1962

Semua berawal dari film Loetoeng Kasaroeng yang muncul pada tahun 1926. Meski disutradari oleh dua orang Belanda yakni oleh G. Kruger dan L. Heuveldrop, film tersebut menjadi film pertama di Indonesia yang menggunakan cerita asli Indonesia. Produksi film ini juga didukung penuh oleh Wiranatakoesoemah V yang pada masa itu menjabat sebagai Bupati Bandung.

Kesuksesan produksi film Loetoeng Kasaroeng pun membangkitkan semangat penduduk pribumi untuk membuat film. Di rentang waktu tersebut, setidaknya ada sekitar 92 film yang mulai diproduksi di tanah air. Sebagian besarnya mengambil tema cerita rakyat atau dongeng kedaerahan.

[Baca Juga: Sambut Hari Film, Inilah Sejarah Bioskop Indonesia dari Masa ke Masa]

1940

Kemudian selepas tahun 1940 yang juga bertepatan dengan kehadiran Jepang ke tanah air, produksi film di Indonesia pun kembali mengalami penurunan. Di tahun 1942, industri perfilman di Indonesia hanya mampu memproduksi 4 film saja. Bahkan di rentang tahun 1945 hingga 1947 tak ada satupun film Indonesia yang dihasilkan.

Hal itu tidak lepas dari kebijakan Jepang yang melakukan pengontrolan ketat terhadap produksi film. Pada masa itu, beberapa industri film pun dibubarkan. Hanya film yang mendukung pemerintahan Jepang saja yang boleh tayang.

Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional Darah dan Doa

1950

Industri film Indonesia mulai bangkit lagi 5 tahun pasca kemerdekaan atau lebih tepatnya pada tahun 1950. Pada saat itu, banyak sineas yang menjadikan film sebagai alat perjuangan. Bangkitnya industri film nasional untuk yang kedua kalinya ini juga melambungkan nama Usmar Ismail.

Nama Usmar mencuat lewat debut filmnya berjudul Darah dan Doa. Bisa dikatakan, film Darah dan Doa menjadi film pertama yang diproduksi sepenuhnya oleh orang Indonesia. Bahkan hari pertama syuting film Darah dan Doa yang jatuh pada tanggal 30 Maret 1950 ini juga ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Hingga 1960

Di rentang waktu 1950 sampai dengan 1960 ini pula rata-rata industri film tanah air menghasilkan 30 film tiap tahunnya. Imbas dari produktifnya industri film nasional pada saat itu, maka digelarlah Festival Film Indonesia (FFI) di tahun 1955 untuk pertama kalinya. Di gelaran perdana, film garapan Usmar Ismail berjudul ‘Lewat Djam Malam’ tampil sebagai pemenang dengan meraih gelar sebagai film terbaik.

1960-1970

Berlanjut ke dekade selanjutnya yakni pada tahun 1960 sampai dengan 1970, industri film nasional kembali mengalami kemerosotan. Salah satu faktor yang membuat perfilman Indonesia kembali terpuruk dikarenakan gejolak politik pada waktu itu.

Transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru mau tak mau mempengaruhi kondisi perfilman Indonesia. Pada masa itu, film-film garapan anak negeri banyak ditunggangi oleh kepentingan politik. Selain itu, adanya kebijakan sensor dan regulasi film impor juga sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas film Indonesia.

1970-1992

Lepas dari masa transisi, barulah pada tahun 1970 perfilman Indonesia bangkit untuk yang ketiga kalinya. Bisa dikatakan masa-masa ini merupakan masa keemasan industri film Indonesia di era modern. Mulai dari tahun 1970 sampai 1992 industri perfilman nasional diisi dengan tema yang variatif, mulai dari genre drama, komedi, legenda dan horor.

Pada rentang ini, banyak sekali sineas berbakat yang muncul ke permukaan. Sebut saja beberapa nama seperti Teguh Karya, Syuman Djaya, Arifin C. Noer dan Wim Umboh. Film-film yang dihasilkan pun cukup berkualitas. Mulai dari film Pengantin Remaja (1971), Si Doel Anak Betawi (1973), Cinta Pertama (1973) dan Badai Pasti Berlalu (1977) yang sukses menguasai pasar perfilman tanah air.

Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional Si Doel Anak Betawi

Selain disuguhkan film bertemakan percintaan remaja, penonton film pada masa itu juga banyak dicekoki film horor dan film komedi. Terbukti beberapa film horor yang dibintangi mendiang Suzana serta film komedi yang dibintangi trio Dono, Kasino dan Indro pun masih sering diputar di TV swasta hingga saat ini.

Jangan lupakan juga beberapa film yang dibintangi si Raja Dangdut, Rhoma Irama. Pada masa ini, film Rhoma Irama juga sering menjadi box office di pasar film Indonesia sejak era 1970 hingga awal 1990-an.

1990an

Setelah melewati 2 dekade dimana industri film nasional berada di atas angin, industri film nasional kembali mengalami kemunduran. Salah satu alasannya dikarenakan pada waktu mulai muncul sejumlah stasiun televisi swasta yang menyajikan hiburan murah. Selain itu, peran pemerintah yang terlalu ikut campur dalam urusan industri film dalam negeri juga menjadi salah satu penyebab matinya perfilman Indonesia pada waktu itu.

Pada rentang itu, jumlah produksi film Indonesia pun menurun drastis dan banyak diwarnai tema berbau vulgar dan erotis. Hingga akhirnya rumah produksi Miles Film meluncurkan film bertema drama musikal berjudul Petualangan Sherina pada tahun 1999.

Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional Petualangan Sherina

Film Petualangan Sherina pun membuka harapan baru bagi perfilman Indonesia di “era digital” atau era di mana mulai berkembangnya teknologi digital. Film yang melambungkan nama penyanyi Sherina ini pun mampu meraup 1,6 juta penonton jelang memasuki tahun 2000an.

Beralih ke tahun 2001, muncul nama Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardhoyo yang sukses menjadi idola anak muda. Keduanya sukses memukau penonton lewat aktingnya di film Ada Apa dengan Cinta?. Film AADC pun sukses menggaet 2,6 juta penonton pada masanya. Bahkan sang sutradara, Rudi Soedjarwo, berhasil meraih piala citra pada FFI 2004 kategori sutradara terbaik.

Naik Turunnya Industri Perfilman Nasional Berbagi Suami

2000an

Setelahnya, film Indonesia pun perlahan bangkit kembali. Pasar bioskop kembali menggeliat dengan memutarkan film-film laris dan juga film-film berkualitas. Sebut saja Eiffel I’m in Love (2003), Gie (2005), Berbagi Suami (2005), Ayat-ayat Cinta (2008) dan Laskar Pelangi (2008) yang sukses menjaring banyak penonton.

Hal itu pun berlanjut sampai dengan hari ini. Bahkan film seperti Warkop DKI Reborn (2016) dan Dilan (2018) pun mampu menggaet lebih dari 5 juta penonton ketika ditayangkan di bioskop.

[Baca Juga: Metropole, Gedung Bioskop Tua yang Tak Lekang Dimakan Usia]

Perjalanan film Indonesia masih panjang dengan potensi pasar dan eksplorasi seni yang masih bisa terus berkembang. Salah satu film berkualitas yang terus menuai penghargaan nasional maupun internasional adalah Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho yang sukses meraih 8 penghargaan dari 10 nominasi di Piala Citra tahun 2020, Pada tahun 2020, film karya ini meraih penghargaan dalam ajang Festival Film Asia Pasifik (APFF) ke-59 yang digelar di Macau. Menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia, Kucumbu Tubuh Indahku berhasil menyabet penghargaan Best Original Screenplay di ajang tersebut. Selamat Hari Film Nasional, dan maju terus perfilman Indonesia!


Read More

Artikel Lainnya

Musisi Jalan Digandeng Melalui Beranda Kreatif Medan.jpg

Hobi dan Hiburan

Musisi Jalan Digandeng Melalui Beranda Kreatif Medan

08 August 2022, 17:15

Tak hanya para seniman serta band konvensional atau yang sudah memiliki nama saja yang diundang Pemko Medan ke Beranda Kreatif Medan, ternyata musisi jalanan juga turut digandeng.

Sampai 28 Agustus 2022, Pameran Karya Abah Ropih Digelar di Jalan Braga.jpg

Hobi dan Hiburan

Sampai 28 Agustus 2022, Pameran Karya Abah Ropih Digelar di Jalan Braga

08 August 2022, 14:14

Mengenang wafatnya senimaan kenamaan di arean Jalan Braga Kota Bandung, pameran Pulau Emas digelar di Galeri Seni Ropih.

Produk Jakpreneur Diboyong ke Pujafest 2022 di Candi Prambanan.jpg

Bisnis

Produk Jakpreneur Diboyong ke Pujafest 2022 di Candi Prambanan

08 August 2022, 11:12

: Dalam upaya membantu pemasaran produk wirausaha di wilayahnya, Pemprov DKI Jakarta baru-baru ini mengikutsertakan produk Jakpreneur di event Pujafest 2022 di Candi Prambanan.

Gratis! Pameran Filateli Internasional Digelar di Jiexpo Kemayoran Hingga 9 Agustus 202 2.jpg

Hobi dan Hiburan

Gratis! Pameran Filateli Internasional Digelar di Jiexpo Kemayoran

05 August 2022, 17:28

Pameran sekaligus kompetisi filateli tingkat internasional saat ini tengah digelar di Jiexpo Kemayoran dan bisa Anda kunjungi tanpa biaya sepeser pun.


Comments


Please Login to leave a comment.