ANCOL-KAWASAN-PEMKOT JAKARTA UTARA TAMBAH SARANA DAN PRASARAN PENYANDANG DISABILITAS-RACHLI-1100 px X 600 px-01.jpg

Pendidikan

Pastikan Keadilan Sosial Bagi Orang dengan Disabilitas di Tempat Ibadah

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik dalam Survei Penduduk antar Sensus (SUPAS) tahun 2015, jumlah orang dengan disabilitas di Indonesia sekitar 39 juta jiwa. Jumlah tersebut relatif cukup besar dalam persentase jumlah penduduk di Indonesia. Meskipun demikian, orang dengan disabilitas masih terpinggirkan dari masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, hingga politik.

Apalagi, memasuki bulan Ramadan seperti saat ini dimana masih banyak orang dengan disabilitas belum bisa mengikuti kegiatan di tempat-tempat ibadah di sekitar lokasi mereka tinggal. Antara lain karena tempat ibadah yang tersedia belum mengakomodasi kebutuhan mereka secara layak atau belum aksesibilitas bagi orang dengan disabilitas.

Memastikan Keadilan Sosial Bagi Penyadang Disabilitas, Akomodasi Yang Layak Untuk Tempat Ibadah

Untuk itu, Majelis Taklim Hilful Fudhul mengadakan kegiatan “Ceramah Ramadhan Inklusif dan Shalat Tarawih Berjamaah” secara virtual setiap hari sejak 19 April- 11 Mei 2021 mulai pukul 18.50- 21.00 WIB. Salat Tarawih Berjamaah Virtual ini diadakan dengan mengikuti syariat dan merupakan ijtihad sementara pada masa darurat pandemi. Selain memudahkan warga tidak dapat ke masjid karena alasan kesehatan. Acara ini juga hendak menyajikan ceramah- ceramah yang mencerahkan seperti menghadirkan penceramah ulama perempuan dan orang dengan disabilitas atau difabel. Para penceramah akan merefleksikan tema- tema keadilan sosial, keadilan gender, dan keadilan iklim.

Pada tema ceramah volume II, Selasa (20/4/2021) malam “Memastikan Keadilan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas” oleh Penceramah Bahrul Fuad, M.A. Ceramah ini mengajarkan kenyataan bahwa hingga saat ini, manusia masih dinilai dan dihormati dari apa yang melekat pada dirinya terutama harta, jabatan, dan tampilan fisiknya. Apalagi pandangan masyarakat terhadap orang dengan disabilitas selalu didasarkan pada tampilan fisik atau mental yang dimilikinya.

[Baca Juga: Cara Efektif Bangun Komunikasi Anak Disabilitas]

Di luar keterbatasan fisik, mental, dan intelektual kalangan disabilitas, tantangan yang mereka hadapi secara umum ada lima kategori. Berikut kami rangkum untuk Pointers.

  1. Pertama problem cara pandang. Secara umum, cara pandang terhadap disabilitas didominasi oleh cara pandang mistis dan cara pandang naif. Cara pandang mistis adalah cara pandang yang menganggap bahwa disabilitas adalah takdir Tuhan. Tuhan menentukan apakah seseorang memiliki keterbatasan atau tidak. Manusia tidak bisa berbuat apa- apa kecuali pasrah menjalaninya. Sebagian beranggapan bahwa disabilitas adalah aib atau bahkan kutukan.
  2. Kedua sikap dan perlakuan terhadap penyandang disabilitas. Disabilitas seringkali dipandang sebagai aib atau bahkan kutukan, sehingga masyarakat cenderung menjauhi orang-orang dengan disabilitas, bahkan memperlakukan mereka dengan salah. Hal ini tentunya merupakan masalah. Masyarakat selama ini memperlakukan orang dengan disabilitas secara berbeda lebih didasarkan pada asumsi atau prasangka bahwa dengan kondisi fisik tertentu, mereka dianggap tidak mampu melakukan aktivitas sebagaimana orang lain pada umumnya. Dari prasangka inilah diskriminasi lahir dalam berbagai bentuknya.
  3. Ketiga keterbatasan layanan publik yang ramah disabilitas. UU No. 8 Tahun 2016 sudah mengamanatkan kepada pemerintah bahwa pemenuhan hak- hak orang dengan disabilitas adalah kewajiban, bukan sekedar santunan. Oleh karena itu, tidak ada alasan apa pun untuk mengabaikan hak- hak kelompok disabilitas. Namun, UU ini baru berumur dua tahun. Paradigma atau cara pandang masyarakat dan pengambil kebijakan masih terlalu kuat dengan cara pandang lama seperti yang tertuang dalam UU No. 4 Tahun 1997. UU inilah yang kemudian direvisi oleh UU No. 8 Tahun 2016.
  4. Keempat keterbatasan peluang kerja bagi orang dengan disabilitas. Diskriminasi kepada orang dengan disabilitas di dunia kerja terlihat dengan kurangnya perhatian pemerintah dalam upaya membantu kelompok disabilitas mendapatkan pekerjaan. Alih- alih, badan- badan usaha milik negara pun sepertinya tidak peduli terhadap kelompok disabilitas. Kantor- kantor pemerintah masih belum semuanya memiliki akses bagi orang dengan disabilitas
  5. Kelima hambatan dan pelaksanaan kewajiban keagamaan. Hambatan yang dialami orang dengan disabilitas dalam melaksanakan hak- hak keagamaan nyaris tidak pernah mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun agamawan seperti tempat- tempat ibadah nyaris tidak ada ramah untuk orang dengan disabilitas. Hambatan kelompok disabilitas di bidang keagamaan tidak terbatas pada aspek- aspek ibadah, tetapi juga aspek- aspek lain, diantaranya terbatas bahan bacaan keagamaan seperti Al Quran, hadis, fiqih, dan seterusnya untuk orang dengan disabilitas terutama tunanetra. Kedua terbatasnya kyai, dai, dan ustadz dari kalangan disabilitas. Ini menjadi persoalan karena para kyai, dai, dan ustadz yang ada sekarang tidak sepenuhnya punya perspektif yang ramah disabilitas. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan para kyai, dai, dan ustadz dari kalangan mereka sendiri yang sudah pasti sangat paham situasi yang dihadapi komunitasnya. Keterbatasan ketiga adalah majlis taklim atau kegiatan-kegiatan keagamaan tidak menyediakan akses untuk orang dengan disabilitas. Di samping tempat penyelanggaraan kegiatan- kegiatan keagamaan kurang akses, jamaah sendiri seringkali punya stigma atau prasangka negatif terhadap kelompok disabilitas, sehingga mereka juga tidak merasa nyaman berada di tempat pengajian. Belum lagi penceramahnya jarang yang punya sensitivitas pada kelompok disabilitas.

Berdasarkan rangkuman di atas, tim redaksi Pingpoint.co.id mencoba menghubungi Suryandaru, penyandang tuna netra bertempat tinggal di Jalan Sadewa Semarang, yang sempat mengikuti acara di atas pada Rabu (21/4/2021) apakah beliau mengikuti kegiatan salat tarawih berjamaah secara virtual tadi? “Walaupun tidak virtual saya tetap tidak bisa mengikuti salat berjamaah karena saya tidak bisa melihat alias total blind. Jadi saya cuma mengikuti kegiatan ceramahnya saja,” jawab Suryandaru.

[Baca Juga: ThisAble Enterprise Berdayakan Ekonomi Disabilitas Dengan Pelatihan]

Lalu kami tanyakan kembali akomodasi seperti apa yang layak yang dibutuhkan kawan- kawan tunanetra di tempat- tempat ibadah seperti di masjid? Secara gamblang Suryandaru menjawab yang pertama jemaah salat harus tahu cara menggandeng tunanetra. Kedua aksesibilitas bangunan agar memudahkan tunanetra bemobilitas dan menempatkan diri dalam barisan salat. Sarana yang lain seperti adanya hand real sehingga tunanetra bisa menyusuri jalur menuju tempat wudhu dan tempat salat. Jika memungkinkan lantai diberi guiding block, permukaan lantai tidak licin, warnanya mencolok agar mudah terlihat oleh low vision, dan hindari adanya anak tangga.


Read More

Artikel Lainnya

Kenali PCOS, Pakar UNABPA Hingga Obesitas Bisa Jadi Pemicuny a.jpg

Kesehatan

Kenali PCOS, Pakar UNAIR: BPA Hingga Obesitas Bisa Jadi Pemicunya

31 January 2023, 16:40

Berdasarkan keterangan Pakar UNAIR, terdapat sejumlah pemicu kaum hawa terkena PCOS dengan di antaranya adalah paparan bahan kimia BPA sampai obesitas.

Walau Banyak Bisnis Penyewaan Buku Punah, Pitimoss Fun Library Mampu Tetap Eksis.jpg

Pendidikan

Walau Banyak Bisnis Penyewaan Buku Punah, Pitimoss Fun Library Mampu Tetap Eksis

31 January 2023, 12:38

Di tengah hantaman digitalisasi yang membuat akses membaca buku novel serta komik mudah, Pitimoss Fun Library tetap mampu bertahan hingga hampir 20 tahun terakhir.

Wow, Bank Sampah di Kota Tangerang Ini Hasilkan Produk Lilin Aromat erapi.jpg

Bisnis

Wow, Bank Sampah di Kota Tangerang Ini Hasilkan Produk Lilin Aromaterapi

30 January 2023, 15:01

Bank sampah ternyata tak hanya bisa mendapatkan cuan dari pemilahan sampah semata, karena bank sampah satu ini menunjukan bahwa mereka juga mampu membuat produk yang bernilai ekonomi.

Perayaan Imlek 2023 di Taman Banteng, Pj Gubernur DKI Jakarta Dampingi Jokowi.jpg

Berita Kawasan

Perayaan Imlek 2023 di Taman Banteng, Pj Gubernur DKI Jakarta Dampingi Jokowi

30 January 2023, 12:58

Pada akhir pekan kemarin, Presiden Jokowi terlihat hadir bersama Pj Gubernur DKI Jakarta dalam momen perayaan Imlek Nasional yang digelar di Taman Banteng


Comments


Please Login to leave a comment.