Pekerja Kala Pandemi Upah Kurang, PHK Tanpa Pesangon, THR Dicicil

Bisnis

Pekerja Kala Pandemi: Upah Kurang, PHK Tanpa Pesangon, THR Dicicil

Melambatnya roda perekonomian akibat pandemi COVID-19 berdampak pada kehidupan pekerja. Sebab, kebijakan karantina wilayah guna menekan penyebaran COVID-19 berpengaruh pada aktivitas industri, seperti sektor pariwisata dan jasa. Alhasil, para pekerja di sejumlah sektor industri pun turut merasakan dampaknya.

Survei online oleh Trade Union Rights Center (TURC) mengenai kondisi pekerja di tengah pandemi COVID-19 menunjukkan adanya berbagai dampak yang dialami pekerja di berbagai sektor industri yang mengancam kesehatan dan perekonomian mereka.

Dari 665 responden yang merupakan pekerja formal, hanya 16 persen pekerja yang bekerja dari rumah dan menerima upah penuh. Sedangkan 6 persen bekerja dari rumah dengan upah tidak penuh.

[Baca Juga: Survei LIPI Temukan 30 Persen Korban PHK Lulusan Sarjana]

Lalu, sebanyak 21 persen pekerja dirumahkan dengan upah tidak penuh dan 7 persen di PHK tanpa pesangon. Hanya 2 persen pekerja yang di PHK mendapat pesangon. Tak hanya itu, ada pula 9 persen pekerja yang harus tetap masuk dengan upah tidak penuh. Sebanyak 38 persen pekerja tetap masuk dan menerima upah penuh.

Terkait temuan survei tersebut, Direktur TURC Andriko Otang mengisi celah data dan informasi yang bersumber dari kementerian tenaga kerja perihal dampak pandemi terhadap pekerja. Menurutnya, sejauh ini pemerintah hanya menginformasikan secara umum jumlah pekerja yang di PHK.

Pekerja Kala Pandemi Upah Kurang, PHK Tanpa Pesangon, THR Dicicil

“Ketiadaan data yang komprehensif akan mempersulit Pemerintah untuk memberikan respon kebijakan dengan tepat sesuai kebutuhan pekerja yang paling terdampak”, kata Andriko dilansir dari keterangan rilisnya, (18/5/2020).

Andriko mengatakan, dengan adanya kondisi pekerja yang terdampak ini membuat pemerintah seharusnya membuat kebijakan dengan cermat. Menurutnya, jangan sampai kebijakan yang memiliki tujuan baik, justru tidak dirasakan manfaatnya oleh pekerja.

Hal ini terbukti dengan sikap responden yang menyatakan tidak setuju, tidak minat, dan ragu untuk mengakses berbagai kebijakan pemerintah untuk mengurangi dampak pandemi di sektor ketenagakerjaan. Seperti kebijakan THR yang dapat dicicil dan program kartu prakerja.

[Baca Juga: Ancaman PHK Intai Pekerja Ibu Kota di Kala Pandemi]

Oleh karenanya, pihaknya akan menggunakan temuan survei ini sebagai bahan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pekerja. “Peran Pemerintah sebagai regulator menjadi sangat krusial agar alokasi dana APBN triliunan rupiah yang telah dialokasikan tepat guna dan tepat sasaran untuk melindungi kelompok pekerja, agar bencana kelaparan dan potensi bertambahnya jumlah penduduk miskin bisa diantisipasi sejak dini”, jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), total pekerja formal dan informal yang terdampak pandemi COVID-19 yakni sebanyak 1.722.958. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.034.618 merupakan pekerja sektor formal yang dirumahkan, dan 377.386 terkena PHK. Sedangkan jumlah pekerja sektor informal yang terdampak yaitu sebanyak 316.501 pekerja.

Read More

Artikel Lainnya

Dirjen Dikti Kemendikbud Ikut Pantau Penyelenggaran Ujian SMUP Unpad .jpg

Pendidikan

Dirjen Dikti Kemendikbud Ikut Pantau Penyelenggaraan Ujian SMUP Unpad

10 August 2020, 15:07

Dirjen dari Kemendikbud RI menyempatkan diri untuk melihat langsung proses ujian SMUP Unpad yang digelar secara daring.

Wali Kota Risma Terus Genjot Perampungan Stadion Piala Dunia U-20 2021.jpg

Berita Kawasan

Wali Kota Risma Terus Genjot Perampungan Stadion Piala Dunia U-20 2021

10 August 2020, 14:00

Pada akhir pekan kemarin, Wali Kota Risma menggelar sidak demi memasikan rampungnya stadion yang nanti jadi venue Piala Dunia U-20 2021 sesuai jadwal.

Sejarah dan Makna 5 Lomba Agustusan Sebagai Bentuk Perayaan Kemerdekaan

Berita Kawasan

Sejarah dan Makna 4 Lomba Agustusan, Bentuk Perayaan Kemerdekaan

10 August 2020, 13:03

Setelah intensitas perang kemerdekaan menurun dan Ibu Kota kembali dipindah ke Jakarta, perayaan kemerdekaan pun berlangsung meriah dengan mengadakan banyak lomba Agustusan.

Obesitas Kala Pandemi Bisa Diatasi Setelah Ditemukan Penyebabnya

Kesehatan

Obesitas Kala Pandemi Bisa Diatasi Setelah Ditemukan Penyebabnya

10 August 2020, 12:05

Orang dengan COVID-19 yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki peningkatan risiko komplikasi serius dan kematian.


Comments


Please Login to leave a comment.