DUREN SAWIT_KESEHATAN_PENANGANAN KUSTA DI KAWASAN CAKUNG JAKARTA TIMUR_OCI_REVISI 01-01.jpg

Kesehatan

Penanganan Kusta di Kawasan Cakung Jakarta Timur

Sebanyak 311 warga Jakarta terjangkit penyakit kusta sepanjang tahun 2017. Ada sebanyak 311 yang merupakan pasien baru maupun pasien lama. Padahal, Provinsi DKI Jakarta sudah bebas penularan kusta sejak tahun 2011. Namun, sejak awal 2017 hingga September, ditemukan kasus baru tanpa cacat di Jakarta sebesar 71 persen. Daerah tertinggi adalah Jakarta Timur. Lebih khusus, kecamatan dengan kasus kusta tertinggi antara lain Kramat Jati dan Cakung Jakarta Timur.

Data tersebut dilansir dari artikel yang telah tayang di Wartakotalive (29/8/20180). Lebih jauh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Koesmedi Priharto mengatakan pada 2017 angka pencapaian pasien baru sangat tinggi. “Karena itu, kami aktif melakukan pendeteksian secara dini agar tidak ada cacat," terang Koesmedi Priharto.

"Kami banyak dibantu kelompok-kelompok mantan penyandang kusta dan persatuan perawat Indonesia, untuk menangani pasien kusta," tambah Koesmedi. Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan sejauh ini menyediakan delapan tempat kelompok perawatan dini, salah satunya di Puskesmas Jatinegara, yang melibatkan mantan penderita kusta sebagai motivator dan panutan.

Anda pasti mengenal penyakit kusta. Penyakit ini sering kali disertai diskriminasi, meski dapat sembuh total tanpa cacat. Penyakit kusta belum hilang, penyakit tua ini masih ada hingga saat ini di negara kita. ''Kasus kusta (jumlahnya) sedikit ya bila dibandingkan penyakit lainnya, tetapi masih adanya kasus kusta di Indonesia juga ini merupakan persoalan yang harus kita selesaikan'', ujar Direktur Pencegahan Penyakit Menular Langsung dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. seperti dikutip dari depkes.go.id.

[Baca Juga : Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas Cakung Jakarta Timur]

Deteksi Dini

Sementara itu, masih dari sumber yang sama, dr. Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, Sp.KK(K) dari persatuan dokter spesialis kulit dan kelamin Indonesia (PERDOSKI) menyatakan bahwa penyakit kusta lebih sering ditemukan terlambat karena masyarakat seringkali mengabaikan tanda dan gejalanya.

Gejala penyakit kusta adalah keberadaan bercak putih atau merah di kulit. Bercak tersebut tidak gatal, tidak nyeri, tetapi baal (kurang rasa atau mati rasa). Bercak seringkali ditemukan di bagian siku, karena ada syaraf yang dekat dengan permukaan kulit, ada pula bercak yang ditemukan di sekitar tulang pipi (wajah), telinga, atau bahu (badan).

Selain itu, ada penderita yang menunjukkan gejala berupa bintil kemerahan yang tersebar, ada pula yang gejalanya kulit sangat kering (tidak berkeringat) dan rambut alis rontok sebagian atau seluruhnya. Sebagian besar penderita pada awalnya tidak merasa terganggu. Meski kadang disertai kesemutan, nyeri sendi dan demam hilang timbul, bila mengalami reaksi.

''Karena tidak merasa sakit, tidak gatal, penderita cenderung abai. Padahal penyakit berlangsung terus, berpotensi menularkan dan menimbulkan kecacatan'', ungkap Dini. Padahal, keberadaan penderita kusta yang belum mengkonsumsi obat kusta atau berobat tidak teratur, merupakan sumber penularan. Penderita bisa menularkan kuman melalui percikan cairan pernafasan, maupun kontak melalui kulit yang luka.

''Cara penularannya seperti Tuberkulosis, namun lebih sulit menular dibanding Tuberkulosis karena harus melakukan kontak dalam waktu yang cukup lama (durasi panjang) dengan penderita'', papar Dini.

Selain itu, dia seringkali mendapatkan pasien yang datang ke pelayanan kesehatan tujuan awalnya mengkonsultasikan kelainan kulit, tidak mengetahui bahwa kelainan kulit atau syaraf yang dialami sebenarnya dikarenakan kusta dan sudah berlangsung sejak lama. ''Kasus kusta kelainan kulitnya sangat mirip dengan penyakit lain'', tambahnya.

[Baca Juga : Layanan Bersalin 24 Jam di Puskesmas Terdekat]

Sembuh Tanpa Cacat

Kusta bisa disembuhkan tanpa kecacatan, asalkan ditemukan sejak dini dan diobati. Penemuan kasus dan pengobatan dini menjadi satu-satunya cara yang paling efektif untuk memutus rantai penularan.

''Kuncinya peka terhadap gejala, bila kita melihat bercak putih atau merah di tubuh kita dan tidak membaik dengan pengobatan yang sudah dilakukan, maka periksakan ke Puskesmas atau rumah sakit manapun agar bisa kita pastikan gejala kusta atau bukan,'' kata Dini.

Ia menambahkan, obat kusta disediakan pemerintah secara gratis, pasien tidak perlu beli. Yang dibutuhkan hanyalah motivasi dan dukungan keluarga dan kepatuhan penderita dalam menjalani pengobatan. Salah satunya dengan mengadakan kelompok penanganan di di puskesmas. Dengan demikian diharapkan kecamatan dengan kasus kusta tertinggi seperti Kramat Jati dan Cakung Jakarta Timur, dapat segera berkurang ke depannya.

Read More

Artikel Lainnya

Sejumlah Peserta Ikut Aksi Global Climate Strikes

Berita Kawasan

Greta Thunberg Inspirasi Aksi Global Climate Strikes di Jakarta

20 September 2019, 18:00  |  8 Views

Aksi Global Climate Strikes yang digagas Greta Thunberg diikuti pula oleh sejumlah anak-anak muda di Indonesia. Siapakah dia?

Sony Indonesia Umumkan Juara Sony Eco Shopping Bag Contest

Bisnis

Sony Indonesia Umumkan Juara Sony Eco Shopping Bag Contest

20 September 2019, 17:00  |  10 Views

Sony Eco Shopping Bag Design Contest menjadi salah satu langkah untuk upaya memelihara lingkungan hidup. Seorang mahasiswa di Jakarta berhasil memenangkan kontes yang diadakan Sony Indonesia tersebut.

Bank DBS Indonesia Kembali Hadirkan SE Bootcamp 2019

Bisnis

Bank DBS Indonesia Kembali Hadirkan SE Bootcamp 2019

20 September 2019, 16:00  |  15 Views

Sebagaimana bentuk kepedulian DBS Foundation terhadap wirausaha sosial di Indonesia, SE Bootcamp kembali hadir.

Kabupaten Bekasi Resmikan Rawa Binong Sebagai Tempat Wisata

Berita Kawasan

Kabupaten Bekasi Resmikan Rawa Binong Sebagai Tempat Wisata

20 September 2019, 15:00  |  12 Views

Usai diresmikan Rawa Binong bahkan direncanakan menjadi pusat oleh-oleh dan cenderamata Kabupaten Bekasi. Sudah pernah ke sana?


Comments


Please Login to leave a comment.