Penggunaan Ivermectin Harus Berdasarkan Resep Dokter, Tegas BPOM

Kesehatan

Penggunaan Ivermectin Harus Berdasarkan Resep Dokter, Tegas BPOM

Kepala BBPOM di Semarang, Sandra M. P Lithin mengatakan penggunaan Ivermectin harus berdasarkan resep dokter. Hal yang mendasari karena BPOM belum lama ini mengeluarkan skema Perluasan Penggunaan Khusus (Expanded Access Program/ EAP) untuk obat Ivermectin.

Skema yang memungkinkan perluasan penggunaan suatu obat, yang masih berada dalam tahap uji klinik untuk dapat digunakan di luar uji klinik yang berjalan, jika diperlukan dalam kondisi darurat.

Oleh karena obat cacing Ivermectin masih dalam tahap uji klinik, maka penggunaannya pun hanya bisa dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) serta untuk dosis dan aturan pakai sama dengan yang digunakan dalam uji klinik.

Ada 8 rumah sakit yang ditunjuk oleh Kemenkes untuk melakukan uji klinik terhadap Ivermectin. “Tidak dirinci secara jelas rumah sakit atau puskesmas mana saja yang digunakan. Yang jelas, Ivermectin adalah obat cacing dengan kategori obat keras. Sehingga penggunaannya harus berdasarkan resep dokter,” terang Sandra M. P Lithin. Demikian keterangan tertulis yang diterima oleh tim redaksi PingPoint.coi.id, Selasa (27/7/2021)

Pihak BPOM pun menegaskan untuk saat ini belum ada pernyataan yang menegaskan bahwa Ivermectin bisa digunakan untuk obat terapi pasien COVID-19. Termasuk organisasi kesehatan dunia WHO juga belum menyatakan jika Ivermectin bisa. “Belum ada pernyataan kebenaran jika Ivermectin bisa mengobati COVID-19. Kami pun terus melakukan pengawasan terhadap obat tersebut supaya tidak disalahgunakan untuk hal lain,” ujar Sandra.

Penggunaan Ivermectin Harus Berdasarkan Resep Dokter, Tegas BPOM

Pengawasan yang dilakukan oleh BBPOM di Semarang yakni melalui pre market sebelum obat Ivermectin diproduksi. Bahkan pihak BBPOM bekerjasama dengan fasilitas pelayanan kefarmasian, rumah sakit, klinik, dan organisasi dokter untuk menerapkan pelayanan obat sesuai ketentuan.

“Selama Ivermectin diproduksi dan diedarkan sesuai ketentuan yang ada, tidak akan ditarik dari peredaran. Penggunaan di masyarakat harus berdasarkan resep dokter, karena Ivermectin termasuk obat keras dan jika digunakan dalam pengobatan COVID-19 harus dalam skema uji klinik,” pungkas Sandra.

Meski bagi beberapa orang di Indonesia mengklaim obat cacing Ivermectin bisa juga digunakan sebagai obat COVID-19. Namun kebenarannya masih butuh penelitian lebih lanjut. Berdasarkan kegunaanya, Ivermectin adalah obat untuk mengobati infeksi akibat cacing gelang.

Obat Ivermectin termasuk kelas antihelminitik yang bekerja membunuh larva cacing dan cacing gelang dewasa agar berhenti berkembang biak. Tak hanya itu, obat Ivermectin juga sering digunakan untuk mengatasi scabies.

Ivermectin adalah obat anti parasit yang hanya tersedia dengan resep dokter. Dokter dapat meresepkannya bersamaan dengan obat lain, misalnya antibiotik tertentu untuk memaksimalkan pengobatan.

Penggunaan Ivermectin Harus Berdasarkan Resep Dokter, Tegas BPOM

Sementara itu, Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih berhati- hati dalam mengkonsumsi obat. Hal terlepas dari ramainya anggapan terkait obat Ivermectin yang disinyalir mempunyai khasiat dalam penanganan COVID-19.

“Meski kondisinya serba darurat harus mendapatkan penanganan yang cepat terkait dengan COVID-19, tapi tidak boleh mengabaikan aspek keamanan dalam mengkonsumsi obat apa pun, harus tetap melalui proses yang rasional,” kata Ketua Pengurus Harian LP2K, Abdun Mufid.

Abdun Mufid menjelaskan bahwa mengacu pada yang telah disampaikan BPOM RI, Ivermectin adalah obat yang belum ada izin edar untuk digunakan dalam penanganan COVID-19. Sehingga memang belum layak diedarkan karena belum memiliki landasan legalitas izin edar yang diberikan setelah melalui proses uji klinis secara sistematif dan komprehensif yang menyatakan obat Ivermectin memiliki khasiat yang signifikan terkait COVID-19.

“Karena belum memiliki izin edar maka semua pihak tidak boleh mempromosikan secara gencar kepada masyarakat terkait penggunaan Ivermectin. Ini sangat memprihatinkan kita karena Ivermectin merupakan jenis obat keras yang tidak boleh dijual begitu saja tanpa proses resepan,” imbuh Abdun Mufid.

Miss promotion yang dilakukan selama ini sangat berbahaya karena masyarakat berupaya melakukan self medicine atau pengobatan sendiri. Hal ini justru berbahaya karena tidak berdasarkan ilmu pengetahuan serta kemampuan dalam obat- obatan dan dampaknya membuat efek samping yang tidak diinginkan.

“Kami sangat berharap sekali kepada distributor memperhatikan yang disampaikan BPOM RI, kedua bagi pihak lain yang mempromosikan Ivermectin untuk menghentikan itu. Masyarakat tidak boleh mengabaikan aspek keamanan dalam mengkonsumsi obat, harus tetap melalui proses rasional,” ujar Abdun Mufid.


Read More

Artikel Lainnya

Penanjakan

Berita Kawasan

Sensasi 8 Derajat dan Sunrise yang (Nyaris) Tidak Terlihat di Penanjakan

21 September 2021, 21:09

Sejak dini hari, tempat ini sudah mulai dikunjungi masyarakat, beberapa bersama pasangan, keluarga, atau pun rekan-rekannya.

Desa Wisata Edelweis

Berita Kawasan

Desa Wisata Edelweis, Tempat Baru dengan Hamparan Bunga Abadi

21 September 2021, 20:08

Baru sekitar satu bulan disediakan café bagi pengunjung di tempat ini. Sebelumnya, tempat ini hanya berupa perkebunan saja.

Permudah Konsultasi Dokter Spesialis via Telemedicine, AlteaCare Resmi Dilunc urkan.jpg

Kesehatan

Konsultasi Dokter Spesialis via Telemedicine, AlteaCare Resmi Diluncurkan

21 September 2021, 19:07

Dengan menggandeng RS Mitra Keluarga, AlteaCare permudah pasien, khususnya dengan penyakit kronis, berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa perlu keluar dari rumah.

Laque Outfit 3.jpg

Kecantikan dan Fashion

Model Baju Kekinian Ala Drama Korea? Cek di Laque Outfit

21 September 2021, 18:08

Sedang mencari aneka outfit ala Drama Korea? Cobalah untuk melihat-lihat di Laque Outfit, sebuah toko Butik di Bandung.


Comments


Please Login to leave a comment.