Pondok-Indah-Kawasan-Peran-Orangtua-Cegah-Pedofilia-di-Sosial-Media-Emil.jpg

Pendidikan

Peran Orangtua Cegah Pedofilia di Media Sosial

Media sosial media tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu media yang membantu Anda mendekatkan diri dengan sahabat atau keluarga, baik yang jauh dan dekat. Namun bak “pedang bermata dua”, sosial media juga acap kali dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal-hal kriminal. Salah satunya adalah pemanfaatan media sosial oleh para pedofilia. PingPoint.co.id pun berdialog dengan Psikolog Klinis Forensik, Dra. A. Kasandra Putranto untuk membahas pentingnya peran orangtua dalam fenomena ini.

“Pedofilia itu berdasarkan berbagai kajian adalah sekelompok orang-orang atau individu dengan karateristiknya memiliki ketertarikan terhadap anak-anak yang secara legal berada di bawah usia antara 16 sampai 18 tahun. Selain itu ada kategori kedua yang di mana pelaku pedofilianya memiliki perbedaan rentan usia lima tahun. Dengan contoh pelaku berusia 18 tahun dan korbannya berusia 13 tahun,” jelas Kasandra kepada PingPoint.co.id (23/11/2018) di kantornya,yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Psikolog Klinis Forensik, Dra. A. Kasandra Putranto

Membahas pedofilia, salah satu kasus yang menyita perhatian publik tidak lama ini adalah yang menimpa anak dari artis Nafa Urbach yaitu Mikhaela Lee Juwono pada 2017. Di mana kala itu netizen yang terindikasikan pedofilia, menyebut putri Nafa dengan sebutan “loli” yang bisa ditarik benang merahnya dengan kata lolicon atau lolita complex. Sekadar informasi, istilah ini sebenarnya lebih populer di Jepang untuk mendeskripsikan karakter gadis muda di film animasi yang memiliki ciri-ciri fisik layaknya anak-anak.

Tidak sedikit generasi muda di Indonesia yang menggemari animasi dari Jepang dengan genre lolicon dan tergabung di grup-grup yang ada di media sosial. Namun Kasandra menegaskan, Anda tidak bisa memandang mereka yang tergabung di grup tersebut sebagai pedofilia.“Kita harus fair, tidak semua orang di kelompok itu masuk ke dalam kategori pedofil,” ucap Kasandra

[Baca Juga: Belajar Kreatif Menjadi Komikus Profesional]

Tapi psikolog klinis forensik tersebut tidak bisa menampik adanya kemungkinan keberadaan pedofilia yang menyusup ke dalam grup lolicon di media sosial. “Di satu sisi belum tentu semua orang yang berada di kelompok lolicon tersebut ‘bersih’ dengan bentuk diagnosanya: pertama memiliki ketertarikan seksual terhadap anak-anak, kedua dia punya beda usia yang terpaut lima tahun, ketiga dia suka menyimpan berbagai foto dan video atau materi konten apapun yang terkait dengan anak (yang memiliki unsur) nudity atau pornografi,” tutur Kasandra.

Kasandra menjelaskan, oknum yang tergabung dalam grup lolicon di media sosial bisa saja memanfaatkan manga atau anime untuk menarik perhatian anak-anak. Ia tidak ingin menyudutkan para anggota di grup tersebut tapi Kasandra mempertanyakan apakah grup penggemar lolicon memiliki cara atau metode untuk menyaring ‘predator’ yang menyusup ke grup tersebut.

Psikolog Klinis Forensik, Dra. A. Kasandra Putranto

Orangtua Benteng Utama

Karena itulah, orangtua kembali menjadi benteng pertahanan utama dalam melindungi anak-anak dari incaran para pedofilia di media sosial. Kasanda menjelaskan, Indonesia saat ini masih belum memiliki sistem perlindungan yang kuat untuk anak-anak apalagi dengan keberadaan media sosial yang dijadikan tempat pedofilia mencari targetnya.

“Bagi orangtua, dari anak umur 0-18 bahkan sampai 21. Kalau saya pribadi sampai 27, tetap harus mendampingi anaknya dalam penggunaan internet, khususnya media sosial,” kata Kasandra.

[Baca Juga: Ajarkan Etika Bermedia Sosial Untuk Anak? Ikuti 6 Langkah Ini]

Untuk lengkapnya, berikut ini beberapa langkah yang Kasandra pandang dapat dilakukan orangtua dalam melindungi putra-putrinya dari ancaman pedofilia di sosial media:

  • Orangtua agar mengarahkan buah hatinya menggunakan gadget atau media sosial sesuai usianya. Jadi jika memang dirasa mereka masih terlalu muda atau belum waktunya, lebih baik jangan.
  • Bila anak-anak Anda seorang public figure dan berada di situasi harus memiliki gadget atau media sosial maka ada baiknya Anda sebagai orangtua yang mengelolanya.
  • Orangtua melakukan evaluasi rutin terhadap konten media sosial buah hati Anda. Salah satunya menggunakan berbagai aplikasi yang tersedia di ponsel pintar yang mengunci media sosial atau gadget dan hanya bisa diakses oleh buah hati saat sudah dibuka kodenya oleh orangtua. Dengan itu Anda bisa mengetahui aktivitas mereka di dunia maya..
  • Pengawasan secara remote juga bisa dilakukan dengan cara memiliki akun media sosial buah hati di gadget milik Anda. Jadi ketika ia posting atau ada orang yang memberikan komentar, Anda langsung bisa mengetahui. Bahkan bila Anda merasa orang yang berkomentar menyatakan hal yang senonoh atau tidak pantas maka Anda bisa melaporkannya melalui fitur report di media sosial dan menghapus komen tersebut sebelum buah hati Anda melihat atau meresponnya.

Read More

Artikel Lainnya

Ini Sejarah Singkat Stasiun Gambir

Berita Kawasan

Ini Sejarah Singkat Stasiun Gambir dari Masa ke Masa

22 October 2019, 20:00  |  5 Views

Stasiun Gambir dulunya halte kereta api yang menghubungkan kawasan Gambir dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Stasiun ini pernah direnovasi besar-besaran.

Flyover RE Martadinata Ditargetkan Selesai Pada Desember 2019

Berita Kawasan

Flyover RE Martadinata Ditargetkan Selesai pada Desember 2019

22 October 2019, 19:00  |  5 Views

Wali Kota Bogor baru-baru ini meninjau proyek flyover RE Martadinata dan optimistis kalau jalan layang ini dapat rampung sesuai target.

Mengapa Saat Orang Berbicara di Ponsel Berjalan Bolak-Balik

Kesehatan

Mengapa Saat Orang Berbicara di Ponsel Berjalan Bolak-Balik?

22 October 2019, 18:00  |  7 Views

Ternyata terdapat penjelasan secara ilmiah yang memicu orang berjalan bolak-balik ketika sedang berbicara di telepon, khususnya ponsel.

Garena Bagi-Bagi Hadiah di Call Of Duty Halloween Special Event, Oktober 2019

Berita Kawasan

Garena Bagi-bagi Hadiah di Call Of Duty Halloween Special Event

22 October 2019, 17:00  |  9 Views

Menyambut perayaan Halloween, Garena tidak hanya bagi-bagi hadiah namun merespons baik keinginan komunitas CODM dengan baik di Oktober 2019 ini.


Comments


Please Login to leave a comment.