ads
BOGOR_KAWASAN_PERKEMBANGAN KEBUN RAYA BOGOR DARI ZAMAN KE ZAMAN

Berita Kawasan

Perkembangan Kebun Raya Bogor dari Zaman ke Zaman

Kebun Raya Bogor atau juga yang dikenal dengan nama Bogor Botanical Garden merupakan lokasi ikonik yang ada di kota hujan tersebut. Selain sebagai lokasi eduwisata, Kebun Raya Bogor juga merupakan area bersejarah yang lengkap dengan Istana Presiden. Namun bagaimana taman botanikal ini bisa berdiri? Artikel ini akan mengulasnya.

Area yang menjadi lokasi berdirinya Kebun Raya Bogor sebenarnya menjadi bagian dari kekuasaan Prabu Siliwangi ketika Kerajaan Pajajaran menguasai Tanah Sunda. Berdasarkan tulisan di Jaya Essay: The History and Culture of a Southern Country, saat itu terdapat hutan lindung yang sengaja dibuat untuk melindungi pohon-pohon langka. Masuk ke abad 16, Kerajaan Pajajaran pun mengalami kehancuran tapi untungnya hutan lindung tersebut tetap tidak mengalami kerusakan.

Taman Botanikal di Bawah Kekuasaan Inggris (1744-1814)

Pihak Perusahaan Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Ooostindische Compagnie ketika berada di Buitenzorg (saat ini Bogor) menginginkan untuk mendirikan sebuah taman yang dilengkapi dengan istana. Pada 1744, mereka pun memutuskan untuk mendirikannya di hutan lindung yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran. Namun pada 1811 akibat invasi Inggris di Jawa, pengaturan area Buitenzorg pun jatuh ke tangan Kerajaan Britania. Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang diangkat sebagai Letnan Gubernur memutuskan untuk tinggal di Istana Buitenzorg yang berada di Taman Buitenzorg (saat ini Istana Bogor).

Raffles pun mengubah tata letak taman hingga gayanya dan disesuaikan dengan taman di Inggris. Saat istrinya, Olivia Mariamne Raffles, meninggal dunia pada 26 November 1814, jenazahnya pun dimakamkan di Batavia. Namun, sebagai bentuk kenangan terhadap pasangannya, Raffles kemudian memutuskan untuk mendirikan monumen di dalam Taman Buitenzorg.

Taman Buitenzorg Kembali ke Belanda (1816-1928)

Area Buitenzorg pun kembali dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda setelah ditandangatanganinya Perjanjian Inggris-Belanda atau yang dikenal juga dengan nama Konvensi London pada 1814. Belanda pun mengirimkan para pejabatnya ke Buitenzorg untuk mengelola koloni di sana. Di antara para pejabat itu, ada seorang ahli botani bernama Caspar Georg Carl Reinwardt. Saat Caspar Georg Carl Reinwardt ditunjuk sebagai penanggung jawab pertanian, seni dan sains koloni di Buitenzorg, ia kemudian mengajukan untuk mendirikan Taman Botanikal resmi agar dapat menyelidiki berbagai tanaman di Buitenzorg. Langkah ini disetujui oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang saat itu dijabat oleh Godert Alexander Gerard Philip, Baron van der Capellen.

Sebagaimana dilansir dari Science Cultivating Practice: A History of Agricultural Science in the Netherland and its Colonies, 1863-1986, Taman Botanikal pun diresmikan pada 18 Mei 1817 yang berdiri tepat di samping Istana Buitenzorg. Saat itu Reinwardt bekerjasama dengan dua ahli botani lainnya yaitu William Kent dan James Hooper untuk mengelola taman tersebut.

Reinwardt pun ditunjuk sebagai direktur yang mengelola Taman Botanikal Nasional tersebut yang saat itu memiliki nama resmi Lands Plantentuin. Selama lima tahun menjabat, ia berkeliling Nusantara demi mencari tanaman dan biji-bijinya yang dianggap berpotensi secara ekonomis saat ditanam di Taman Botanikal Nasional yang saat ini dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor.

Selama bertahun-tahun, pengembangan pun terus dilakukan di taman tersebut. Khususnya saat Johannes Elias Teijsmann ditunjuk sebagai kurator di Taman Botanikal Nasional. Hingga tahun 1844, tercatat sudah ada 2.800 spesies di sana dan melihat dengan semakin banyaknya tanaman yang ada, Teijsman pun mengajukan perluasan taman. Perluasan itu terealisasi pada 1852. Tepatnya saat Taman Botanikal Nasional meluas hingga memiliki area berukuran 120 hektare yang berada di dekat kawasan Cibodas. Sekadar informasi, saat ini perluasan area itu menjadi lokasi mandiri yang dinamakan Kebun Raya Cibodas.

Lambat laun Taman Botanikal Nasional pun mulai menyita perhatian dunia dengan para ahli botani dan biologi dari berbagai penjuru dunia yang kerap datang ke sana untuk melakukan penelitian. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya jenis tanaman yang tumbuh di sana dan disokong oleh berbagai laboratorium yang dibangun oleh Melchior Treub saat ia menjadi Direktur Taman Botanikal Nasional.

Salah satu jalan yang ikonik di Taman Botanikal Nasional adalah Jalan Astri atau Astrid Avenue. Jalan ini dibangun untuk mengenang kunjungan Putri Astrid dari Kerajaan Belgia ke sana pada 1928. Jalan ini dihiasi oleh berbagai bunga tasbih berwarna-warni yang menjadi salah satu ciri khas dari taman tersebut.

Kebun Raya Bogor (1942 Hingga Kini)

Saat pecah Perang Dunia II, pasukan Jepang pun menguasai wilayah Bogor dan setahun kemudian mengambil alih Taman Botanikal Nasional. Sebagaimana dikutip dari Science and the Pacific War: Science and Survival in the Pacific, 1939-1945 (Boston Studies in the Philosophy and History of Science), pada Maret 1942, Profesor Takenoshin Nakai ditunjuk sebagai direktur taman tersebut.

Saat itu, nama taman tersebut diubah menjadi Shokubutsuen dan pohon-pohon di sana sempat terancam keberadaannya. Pasalnya, para tentara Jepang hendak menebang pohon-pohon di sana untuk digunakan sebagai alat perang. Hal ini ditentang keras oleh Nakai dan koleganya yang akhirnya membuat para tentara Negeri Sakura mengurungkan niat penebangan tersebut.

Saat Jepang kalah di Perang Dunia II, Belanda kemudian kembali ke Indonesia dan mengambil alih pengelolaan Taman Botanikal Nasional hingga 1949. Saat Belanda mengakui kemerdekaan Nusantara, pengelolaan taman pun diserahkan kepada Kementerian Pertanian Indonesia.

Pihak Kementerian Pertanian Indonesia memutuskan untuk mengubah nama taman tersebut menjadi Kebun Raya Bogor dengan Kusnoto Setyodiwirjo yang ditunjuk sebagai kepala taman ini. Saat ini Kebun Raya Bogor menjadi destinasi favorit para warga Bogor dan sekitarnya. Selain menjadi wisata yang edukatif, taman ini juga cocok menjadi tempat untuk berjalan-jalan karena udaranya yang segar. Suasana hijau nan asri dari Kebun Raya Bogor pun menjadi saksi bisu perkembangan taman tersebut dari masa ke masa.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah.jpg

Properti dan Solusi

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah

20 February 2019, 4 a.m.  |  12 Views

Banyak manfaat miliki taman di halaman rumah. Taman memberikan sirkulasi udara yang baik. Memandanginya juga baik untuk mata lelah.

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda.jpg

Kesehatan

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda

20 February 2019, 5 a.m.  |  33 Views

Mengetik berjam-jam di depan layar komputer dapat mengganggu kesehatan. Sastrawan Eka Kurniawan mengatasinya dengan rajin bersepeda.

Ngopi Instagramable di Serpong 1.jpg

Kuliner

4 Tempat Ngopi Instagramable di Serpong

20 February 2019, 3 a.m.  |  12 Views

Secangkir kopi panas jadi kenikmatan hakiki yang tak terbantahkan. Tak ayal, tempat ngopi juga hadir dengan interior instagramable.

Taman Bacaan Inovator.jpg

Pendidikan

Taman Baca Inovator Lahir Atas Nama Literasi

19 February 2019, 4 a.m.  |  48 Views

Gerakan taman bacaan mungkin sudah banyak ditemukan. Namun, Yayasan Taman Baca Inovator punya sentuhan berbeda.


Comments

Please Login to leave a comment.

ads