MATRAMAN_PROPERTI_PERKEMBANGAN PROPERTI DAN RTH DI KAWASAN PACUAN KUDA PULOMAS_OCI-01.jpg

Properti dan Solusi

Perkembangan Properti dan RTH di Kawasan Pacuan Kuda Pulomas

Pada 2014, warga di kawasan Pulomas, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur, mengeluhkan proyek-proyek pembangunan komersial di wilayah Ruang Terbuka Hijau (RTH) sekitar kawasan Pacuan Kuda Pulomas. Ini hanya satu dari sekian kasus antara pengembang dan RTH.

Seperti dilansir dari berita di Beritasatu.com (8/8/2018), Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) Pulomas berulang kali mengajukan protes kepada PT Pulomas Jaya, dan Pemprov DKI. Bahkan warga sempat menduduki lahan di salah satu proyek pembangunan, yakni Pasadena Residence.

Lahan di sekitar kawasan Pacuan Kuda Pulomas sebagian besar merupakan area tadinya diarahkan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dengan adanya pembangunan yang masif, kawasan itu saat ini kerap dilanda banjir. Dari sekitar 102.000 kepala keluarga yang tinggal di kawasan Pulomas, sebanyak 8.000 kepala keluarga kerap terdampak banjir.

Menurut warga, sejumlah bangunan yang berdiri di lahan yang seharusnya menjadi RTH antara lain, SPBU, sebuah swalayan, rumah sakit, dan sebuah gedung yang rencananya dibangun untuk mal namun mangkrak selama tujuh tahun. Bahkan, perumahan Pulomas Residence telah meninggikan kawasannya dan menyebabkan rumah warga di sekitarnya terimbas banjir.

Masih menurut sumber yang sama, Koorporat Sekretaris PT Pulomas Jaya Nastasya Yulius menanggapi hal dengan menyatakan, lahan di kawasan Pulomas merupakan kawasan hunian. Dengan demikian, proyek pembangunan yang di lakukan di kawasan itu tidak menyalahi aturan. Pihaknya pun telah berupaya untuk mengatasi banjir yang terjadi di kawasan itu dengan mengalirkan genangan ke Waduk Ria Rio.

[Baca Juga : Melirik Velodrome Rawamangun yang Jadi Venue Asian Games 2018]

Pihak pengembang menambahkan, tanah tersebut merupakan milik perusahaan sejak tahun 1963. Awalnya pernah dijadikan asrama bagi para pekerja di pacuan kuda. Namun, dibongkar karena dianggap mengganggu warga sekitar. Setelah itu tanah dibiarkan kosong.

Pembangunan proyek hunian itu baru dilakukan pada tahun 2013 lalu. Sesuai dengan permintaan kebutuhan perumahan yang semakin tinggi, akhirnya pengembang merencanakan pembangunan 120 unit rumah di atas tanah seluas 4 hektare.

Makin diperluas

Seperti dilansir dari Antara News, pada akhir 2017 Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kehutanan bertekad untuk membuat lebih banyak RTH di wilayah ibukota. Target tahun 2018 akan ada lebih banyak lagi RTH di Kota Jakarta, sekitar 50 hektare yang akan dibeli.

Dana untuk pembelian lahan tersebut sudah diajukan di dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun 2018 dengan nilai mencapai Rp2 triliun. Nantinya, 50 hektare lahan tersebut peruntukannya berbeda-beda, yaitu sebagai RTH taman, hutan kota serta area pemakaman. Dinas Kehutanan selalu menargetkan pembelian lahan hingga 50 hektare, meskipun kerap menemui sejumlah hambatan, diantaranya ketersediaan lahan serta alokasi anggaran.

Membangun RTH sesuai Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 merupakan tantangan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Berbagai kendala mulai dari tidak adanya peta dasar sampai peruntukan lahan yang tidak sesuai, membuat Pemprov kesulitan memenuhi peraturan tersebut.

Berdasarkan sumber berita dari Kompas.com, hingga saat ini saja RTH di Jakarta baru mencapai 9-10 persen. masih jauh dari ketentuan UU seluas 20 persen dari total luas wilayah. Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Muadzin Mungkasa mengusulkan untuk mengatasi kesulitan itu, konsep RTH ada baiknya diubah. Yaitu dengan memisahkan antara ruang terbuka dan fungsi hijau.

Jika konsep RTH dijabarkan, ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu ruang terbuka dan ruang hijau. Bila penempatannya bisa dipisah dari ruang hijau, plaza-plaza juga bisa disebut sebagai ruang terbuka. Di Jakarta banyak ruang terbuka, seperti plaza pusat perbelanjaan. Namun, karena tidak mengandung unsur tanaman atau kehijauan, maka tidak dihitung sebagai RTH. Begitu pula dengan ruang hijau yang dipisahkan dari definisi ruang terbuka. Ruang hijau berbentuk taman seperti urban farming yang di atas gedung itu harus bisa dihitung RTH. Tanaman merambat di sepanjang gedung juga begitu.

Fungsi RTH, berdasarkan sumber kampusundip.com, memiliki fungsi yang mendasar atas kehidupan masyarakat di suatu kota. Adapun fungsi dari penataan RTH di kawasan perkotaan adalah:

  1. Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan
  2. Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara
  3. Tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati
  4. Pengendali tata air
  5. Sarana estetika kota.

[Baca Juga : Dari Kantor Walikota Hingga Hutan Kota, 10 RTH di Kembangan]

Selain itu, RTH di suatu kota juga memiliki manfaat bagi penataan ruang di suatu kota. Manfaatnya bagi struktur ruang kota antara lain untuk mencerminkan identitas daerah, sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan, sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial, meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan, menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah, sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula, sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat, memperbaiki iklim mikro dan meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

Fungsi ekologis dan fungsi tambahan (fungsi arsitektural, fungsi sosial, dan fungsi ekonomi) tersebut menjalin keterkaitan dengan aspek-aspek baik fisik maupun non-fisik dari sebuah kota. Fungsi dan manfaat daripada RTH dapat dirasakan secara signifikan apabila dalam suatu kota memiliki luas dan jumlah RTH yang memadahi.

Berdasarkan fungsi dan manfaat tersebut, diharapkan dalam waktu ke depan keberadaan RTH dapat dijadikan suatu prioritas. Selain berperan sebagai paru-paru kota, masih banyak fungsi lain yang menunjang segala aktivitas atau kegiatan bagi warga kota itu sendiri. Dibutuhkan kerjasama pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan keberadaan dan keaslian fungsi daripada RTH itu sendiri untuk menciptakan suatu keseimbangan yang optimal dalam pembangunan berkelanjutan suatu kota.

Dengan pemahaman konsep pelestarian alam semacam ini, diharapkan ke depannya, tidak ada lagi konflik pengembang dengan warga, seperti yang terjadi di kawasan Pacuan Kuda Pulomas. Proyek-proyek pembangunan komersial di Jakarta pun dapat menyediakan lahan untuk RTH, baik itu untuk ruang terbuka maupun ruang hijau.

Read More

Artikel Lainnya

Sejumlah Peserta Ikut Aksi Global Climate Strikes

Berita Kawasan

Greta Thunberg Inspirasi Aksi Global Climate Strikes di Jakarta

20 September 2019, 18:00  |  0 Views

Aksi Global Climate Strikes yang digagas Greta Thunberg diikuti pula oleh sejumlah anak-anak muda di Indonesia. Siapakah dia?

Sony Indonesia Umumkan Juara Sony Eco Shopping Bag Contest

Bisnis

Sony Indonesia Umumkan Juara Sony Eco Shopping Bag Contest

20 September 2019, 17:00  |  9 Views

Sony Eco Shopping Bag Design Contest menjadi salah satu langkah untuk upaya memelihara lingkungan hidup. Seorang mahasiswa di Jakarta berhasil memenangkan kontes yang diadakan Sony Indonesia tersebut.

Bank DBS Indonesia Kembali Hadirkan SE Bootcamp 2019

Bisnis

Bank DBS Indonesia Kembali Hadirkan SE Bootcamp 2019

20 September 2019, 16:00  |  13 Views

Sebagaimana bentuk kepedulian DBS Foundation terhadap wirausaha sosial di Indonesia, SE Bootcamp kembali hadir.

Kabupaten Bekasi Resmikan Rawa Binong Sebagai Tempat Wisata

Berita Kawasan

Kabupaten Bekasi Resmikan Rawa Binong Sebagai Tempat Wisata

20 September 2019, 15:00  |  8 Views

Usai diresmikan Rawa Binong bahkan direncanakan menjadi pusat oleh-oleh dan cenderamata Kabupaten Bekasi. Sudah pernah ke sana?


Comments


Please Login to leave a comment.