Polemik Penggunaan Ibuprofen untuk Pasien COVID-19

Kesehatan

Polemik Penggunaan Ibuprofen untuk Pasien COVID-19

Anda mungkin sudah mengetahui bahwa gejala yang timbul pada penyakit COVID-19 di antaranya demam dan nyeri pada tubuh. Mengingat belum ada vaksin untuk penyakit yang disebabkan SARS-CoV-2 itu, perawatan di rumah sakit sampai saat ini adalah fokus mengobati gejalanya. Jika pasien mengalami demam dan mengeluhkan rasa nyeri pada tubuh, singkatnya dokter akan mengobati demam dan nyeri tersebut.

Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto.

“Istilahnya ya itu tadi, simtomatis, yang dikeluhkan, ya itu yang diobati. Tapi yang pasti adalah memperbaiki kondisi umum agar menjadi lebih baik," kata Yuri dikutip kompas.com (19/03/2020) ketika ditanya mengenai pengobatan yang diberikan kepada pasien COVID-19 di Indonesia.

Bagaimana Pengobatan yang Diterima oleh Pasien COVID-19

Ibuprofen merupakan salah satu obat untuk mengobati demam dan meredakan nyeri. Jika tak terlalu akrab dengan obat itu, mungkin Pointers dapat mengenalnya lewat merek obat seperti Oskadon SP, Iremax, dan Bodrex Extra. Ketiga obat yang dapat ditemui di apotek itu mengandung Ibuprofen untuk mengobati keluhan nyeri pada konsumennya. Diketahui pula jika Ibuprofen termasuk dalam golongan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID).

Namun, baru-baru ini ada seruan dari Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran untuk tidak menggunakan Ibuprofen dalam mengobati pasien COVID-19. Mengutip cnn.com (19/03/2020), Veran menyerukan hal itu di akun Twitternya, Sabtu (14/03/2020).

“Mengonsumsi obat anti-inflamasi seperti Ibuprofen dan Cortisone dapat memperburuk infeksi. Jika Anda demam, gunakanlah Paracetamol. Jika Anda sudah terlanjur mengonsumsi obat anti-inflamasi atau ragu-ragu, konsultasilah pada dokter,” cuit Veran.

[Baca Juga: Avigan, Obat yang Disebut Ampuh Menangani Pasien COVID-19]

Pernyataan Veran menyusul penelitian yang dipublikasikan The Lancet pada 11 Maret Silam. Ditulis oleh Lei Fang, George Karakiulakis, dan dan Michael Roth, hasil penelitian itu menjelaskan bahwa Virus Corona seperti SARS-CoV dan SARS-CoV-2 mengikat sel target mereka dengan bantuan angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Pada penjelesan selanjutnya, masih dalam publikasi ilmiah tersebut dituturkan bila produksi ACE2 ini meningkat dengan bantuan Ibuprofen. Inilah yang mendasari Veran mengimbau tidak menggunakan Ibuprofen pada pasien COVID-19.

Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut dalam publikasi ilmiah tersebut mengenai mekanisme meningkatnya ACE2 karena Ibuprofen beserta bukti pendukungnya.

Selain penelitian The Lancet, imbauan Veran juga dikuatkan oleh laporan Pemerintah Prancis mengenai kaitan Ibuprofen dengan COVID-19. Laporan ini keluar bersamaan dengan cuitan Veran di Twitter. Pemerintah Prancis melaporkan adanya efek samping dari pemakaian obat anti-inflamasi non steroid (NSAID), termasuk Ibuprofen terhadap pasien COVID-19.

Polemik Penggunaan Ibuprofen untuk Pasien COVID-19

Cuit Veran ini akhirnya menyebar luas di Prancis dan banyak orang yang jadi mempertanyakan efek penggunaan Ibuprofen untuk melawan virus.

Dilaporkan sciencealert.com (19/3/2020) pada Selasa lalu WHO juga merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi Ibuprofen ketika mengobati gejala COVID-19. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara WHO Christian Lindmeier kepada para wartawan di Jenewa, Swiss.

“Untuk saat ini kami merekomendasikan menggunakan Paracetamol, dan jangan menggunakan Ibuprofen sebagai pengobatan. Itu penting,” kata Christian.

Meski begitu, Christian menegaskan bahwa para pakar Badan Kesehatan PBB akan menyelidiki Ibuprofen dan kaitannya dengan COVID-19 untuk panduan lebih lanjut.

Tidak Ada Bukti Ilmiah

Setelah adanya imbauan dari Menteri Kesehatan Prancis untuk tidak menggunakan Ibuprofen, para ilmuan ikut memberikan pandangan mereka terhadap hal itu.

Pernyataan datang salah satunya dari Peneliti di University of St Andrews Muge Cevik. Ia menulis dalam akun Twitternya bahwa sangat prihatin dengan pernyataan Veran yang dinilainya sangat berani.

“Tidak ada bukti ilmiah yang saya tahu tentang Ibuprofen memperparah COVID-19,” cuit Cevik, dikutip cnn.com (19/3/2020).

“Saya tidak berpikir kalau kita punya bukti ilmiah yang menunjukkan Ibuprofen memperburuk COVID-19,” kata Ahli epidemologi penyakit menular di Standford University Yvonne Maldonado, AS.

[Baca Juga: Bagaimana Pengobatan yang Diterima oleh Pasien COVID-19?]

Tak sampai di situ, Asisten Profesor Kardiologi di University of Michigan Yogen Kanthi yang mempelajari inflamasi juga ikut berkomentar. “Ada data penelitian yang menunjukkan bahwa virus yang menyebabkan COVID-19 mengikat protein di permukaan sel yang disebut ACE2,” kata Kanthi.

“Ada risiko memberikan NSAID seperti Ibuprofen dapat meningkatkan ACE2, tapi itu ditemukan pada hewan bukan pasien [manusia],” lanjutnya.

Kanthi juga menjelaskan bahwa tidak benar obat NSAID seperti Cortisone yang disebutkan Veran memperparah COVID-19. “Datanya tidak jelas,” tegas Kanthi.

Pada akhirnya para dokter dan peneliti mengatakan butuh banyak bukti untuk membuktikan Ibuprofen memperparah COVID-19. Disarankan pula bagi pasien yang sudah mengonsumsi obat anti-inflamasi sejak lama untuk berkonsultasi kepada dokter apabila ingin menyetop konsumsinya.

Tanggapan WHO Selanjutnya

Pada Rabu (18/3/2020) WHO melalui Juru Bicaranya Tarik Jasarevic memberi pernyataan melalui email kepada cnn.com apabila badan kesehatan dunia itu sedang mencari bukti dari isu ini sebelum membuat rekomendasi resmi. Akan tetapi, Ia melanjutkan, setelah meninjau banyak literatur tidak ada data klinis yang menunjukkan hubungan Ibuprofen dengan virus.

Terbaru, pada Kamis (19/3/2020) WHO lewat akun resmi twitternya menarik pernyataannya untuk tidak mengonsumsi Ibuprofen.

Favipiravir, Obat yang Disebut Ampuh Menangani Pasien COVID-19

“Berdasarkan informasi saat ini, WHO tidak merekomendasikan untuk menentang penggunaan Ibuprofen. Kami juga berkonsultasi dengan para dokter yang merawat pasien COVID-19 dan tidak mendapatkan laporan akan efek buruk penggunaan Ibuprofen. Meski diketahui efek sampingnya membuat beberapa orang harus membatasi pemakaiannya,” cuit WHO.

Saran Penggunaan Obat Pada Pasien COVID-19

Pendapat Menteri Kesehatan Prancis dan para ilmuan mengenai Ibuprofen mungkin menimbulkan kegalauan. Lalu obat apa yang direkomendasikan untuk mengobati demam dan nyeri pada pasien COVID-19?

The National Institute for Health and Care United Kingdom menyarankan menggunakan Ibuprofen dalam dosis rendah dengan durasi pemberian yang pendek untuk pasien. Hal ini untuk mencegah efek samping bagi mereka yang mengalami masalah jantung dan ginjal.

The National Health Service United Kingdom juga menyarankan mengonsumsi Ibuprofen dibandingkan Paracetamol untuk mengobati radang namun tidak dalam periode lama.

[Baca Juga: Ilmuwan Dunia Berlomba-lomba Temukan Vaksin COVID-19]

Ada juga ahli yang lebih menyarankan menggunakan Paracetamol dibandingkan Ibuprofen untuk menangani demam dan nyeri, seperti Dosen dan Dokter Konsulen di Liverpool School. Ia lebih memilih Paracetamol di banyak kasus dari pada Ibuprofen. Menurutnya Paracetamol memiliki efek samping lebih kecil dari Ibuprofen. Ditemukan olehnya beberapa orang mengalami iritasi pada ginjal karena konsumsi Ibuprofen.

Pointers yang mengalami gejala panas maupun nyeri sebaiknya berkonsultasi pada dokter yang merawat Anda. Apabila dokter meresepkan Ibuprofen atau pun Paracetamol, bertanyalah pada dokter tersebut alasan pemberian resep obat tersebut.


Read More

Artikel Lainnya

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah.jpg

Bisnis

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah

03 February 2023, 16:35

Demi memastikan tidak adanya ketimpangan digital di daerah pedesaan luar Jawa, Amartha Foundation baru-baru ini meresmikan desa digital di wilayah Sulawesi Tengah.

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.jpg

Bisnis

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung

03 February 2023, 14:20

Melalui kemitraan dengan PT KCIC, pengguna tiket.com ke depannya bisa memesan tiket untuk layanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

Berita Kawasan

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

02 February 2023, 17:41

Peresmian unit tempat parkir sepeda dilakukan oleh Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Chaidir, dan Ketua Umum B2W Fahmi Saimima.

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023.jpg

Hobi dan Hiburan

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023

02 February 2023, 15:41

Setelah memberikan teaser siapa saja yang akan tampil, akhirnya pihak penyelenggara mengumumkan siapa saja yang nanti siap menghibur Anda di Woke Up Fest 2023.


Comments


Please Login to leave a comment.