Posisi Tengkurap Disebut Mampu Selamatkan Pasien COVID-19

Kesehatan

Posisi Tengkurap Disebut Mampu Selamatkan Pasien COVID-19

Sebuah kejadian di Amerika Serikat pada Jumat, 10 April 2020, menunjukkan posisi tengkurap dapat menyelamatkan pasien dengan gejala parah COVID-19. Diberitakan cnn.com (20/4/2020), kejadian ini bermula saat Dr. Mangala Narasimhan, seorang direktur regional untuk perawatan kritis di Northwell Health ditelepon oleh salah satu rumah sakit di New York, yaitu Rumah Sakit Long Island Jewish.

Kala itu, pihak rumah sakit sedang menangani pasien COVID-19 yang kritis dan bertanya pada Narasimhan apakah pasien tersebut membutuhkan alat pendukung hidup. Narasimhan memerintahkan dokter di rumah sakit itu untuk membalikkan badan pasien alias menjadikan posisinya agar tengkurap. Karena posisi itu, pasien berusia 40 tahun tersebut mampu melewati masa kritisnya.

Posisi tengkurap, diungkap dokter, dapat meningkatkan jumlah oksigen yang masuk ke dalam paru-paru pasien. Narasimhan sendiri menyebut posisi ini bekerja dengan baik. “Kami menyelamatkan nyawa dengan ini [posisi tengkurap]. Seratus persen,” katanya.

Tengkurap Membantu Oksigen Masuk ke Paru-Paru

Pasien COVID-19 umumnya meninggal dunia karena mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), yaitu sesak napas akut yang berkembang dengan cepat. Gejala ini juga menyebabkan kematian pada pasien influenza dan pneumonia.

Pasien dengan ARDS yang memakai ventilator diteliti memiliki risiko kematian rendah apabila diposisikan tengkurap. Penelitian ini tertuang dalam artikel New England Journal of Medicine yang terbit tujuh tahun lalu.

Sejak itu, para dokter di Amerika Serikat memosisikan tengkurap pasien-pasien mereka yang mengalami ARDS. Cara ini pun dipraktikkan pada pasien COVID-19. Kasus yang terjadi di Rumah Sakit Long Island Jewish juga terselamatkan dengan cara ini. Diketahui, setelah pasien tengkurap, jumlah oksigen dalam darahnya bertambah, dari 85 persen menjadi 95 persen.

Posisi Tengkurap Disebut Mampu Selamatkan Pasien COVID-19

Beberapa ahli perawatan kritis menjelaskan, posisi tengkurap dapat memudahkan oksigen masuk ke paru-paru. Sedangkan bila telentang, berat tubuh seseorang menekan beberapa bagian pada paru-paru sehingga oksigen terhalang masuk.

“Dengan posisi tengkurap, kami membuka beberapa bagian paru-paru yang tidak terbuka sebelumnya,” jelas Kathryn Hibbert, direktur ICU di Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Akan tetapi, tengkurap membuat pasien membutuhkan obat-obatan yang lebih banyak dibandingkan ketika mereka telentang. Hal ini pada akhirnya membuat pasien semakin lama harus berada di ruang ICU.

[Baca Juga: Joging dan Bersepeda Tinggi Risiko Penularan COVID-19]

Belum lagi, pasien tentu merasa tidak nyaman dengan posisi tengkurap. Pasalnya posisi tengkurap harus dijalani oleh pasien selama 16 jam per hari.

“Berapa lama mereka bertahan dalam posisi itu [tengkurap] bervariasi, tergantung masing-masing orang. Apakah mereka nyaman tidur di posisi itu, atau jika bosan dan ingin membalikkan badan,” lanjut Hibbert.

Lebih lanjut lagi, hasil penelitian yang terbit tujuh tahun lalu di New England Journal of Medicine hanya mengungkap manfaat posisi tengkurap pada pasien dengan ventilator. Penelitian itu tidak membahas apakah posisi tengkurap juga berhasil pada pasien yang tidak mengalami gejala berat.

[Baca Juga: Seberapa Besar Pengaruh Vitamin D saat Wabah COVID-19?]

Keefektifan posisi tengkurap ini sedang dipelajari di Pusat Medis Universitas Rush, Amerika Serikat. Pakar di sana sedang meneliti apakah tengkurap membantu pasien yang membutuhkan oksigen tambahan hanya melalui hidung, bukan ventilator.

Pada uji klinis mereka, pasien secara acak diposisikan tengkurap. “Kita akan melihat apakah tengkurap bekerja. Bila iya, berapa lama mereka harus tengkurap,” ujar David Vines, Kepala Departemen Ilmu Kardiopulmoner di Universitas Rush.

Pada Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia, tidak tercantum secara spesifik jika metode ini digunakan untuk mengobati pasien COVID-19. Hanya secara umum dijelaskan bila pasien gejala berat akan diberikan chloroquine dan terapi simptomatik lainnya sesuai gejala.


Read More

Artikel Lainnya

Jakarta Concert Week 2023 Siap Digelar di GJAW.jpg

Hobi dan Hiburan

Jakarta Concert Week 2023 Siap Digelar di GJAW

07 February 2023, 14:00

Gaikindo Jakarta Auto Week 2023 nantinya tak hanya berisikan pameran otomotif tapi juga siap didampingi acara konser seru bertajuk Jakarta Concert Week 2023.

Sukses Raih Penghargaan Acer Smart School Awards 2022, Ini 12 Pemenangnya.jpg

Pendidikan

Sukses Raih Penghargaan Acer Smart School Awards 2022, Ini 12 Pemenangnya

07 February 2023, 11:00

Melalui Acer Smart School Awards 2022, Acer beri penghargaan kepada belasan sekolah dan para guru kreatif yang dipandang mendorong transformasi pendidikan Indonesia.

Ini Komunitas Unpad Peduli Anabul Penghuni Area Kampus.jpg

Pendidikan

Ini Komunitas Unpad Peduli Anabul Penghuni Area Kampus

06 February 2023, 14:53

Bergabung dalam UnpadSF, sejumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran mengisi sela-sela waktunya untuk membantu serta melindungi anabul yang tinggal di sekitaran kampus Unpad.

CFD Kota Medan Bawa Berkah Bagi Pengusaha UMKM.jpg

Bisnis

CFD Kota Medan Bawa Berkah Bagi Pengusaha UMKM

06 February 2023, 12:51

Selain untuk berolahraga, CFD Kota Medan juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga serta teman dan ini menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha UMKM Kota Melayu Deli.


Comments


Please Login to leave a comment.