26.jpg

Berita Kawasan

Post Santa, Komunitas Pecinta Buku di Pasar Santa

Nama Pasar Santa sempat populer dan menghiasi pemberitaan di berbagai media pada tahun 2014 hingga awal 2016. Tiap akhir pekan pengunjung memadati pasar modern yang berisi kios-kios unik nan kreatif. Perlahan, nama Pasar Santa mulai meredup bersama jumlah pengunjung yang makin sedikit. Namun, ada satu kios yang terus ramai di akhir pekan yaitu Post Santa. Komunitas pencinta buku rajin mengunjungi toko buku independen tersebut untuk mengikuti acara diskusi, lokakarya, peluncuran buku, dan membeli buku-buku indie yang tidak bisa ditemukan di toko buku biasa.

Post Santa didirikan pada 31 Juli 2014 oleh sepasang suami istri Teddy Kusuma dan Maesy Angelina dan teman mereka, Steven Ellis. Nama terakhir sudah jarang mengunjungi Jakarta sehingga tidak pernah terlihat lagi di toko buku. Kios buku yang berada di lantai atas Pasar Santa ini menjadi wadah alternatif bagi buku-buku berkualitas dari penerbit indie dan ruang dialog bagi para pecinta buku.

[Baca Juga: Ayo Sukseskan Tantangan #BacaJakarta 2019]

Toko buku ini bahkan mengadakan peluncuran ulang pada 23 September 2017 untuk meresmikan penambahan area kios. Masih dengan interior sederhana yang manis, Post Santa menjadi lebih nyaman untuk lokasi diskusi dan lokakarya. Dinding ruangan bata yang dicat putih, penempatan buku dan dekorasi yang minimalis membuat ruangan tampak terlihat lebih luas. Empat kipas angin juga sudah dipasang sehingga Anda bisa merasa lebih sejuk di tangah pasar tanpa pendingin ruangan ini.

Meskipun selalu ramai di akhir pekan, pemilik tidak berencana menambah waktu operasional toko buku ini. Post Santa hanya buka pada Sabtu dan Minggu pukul 15.00-20.00 WIB. Namun, bagi pencinta buku minimnya jam operasional bukanlah halangan. Pengunjung dan pembeli buku datang dari mana-mana, bukan hanya warga Jakarta. Mereka datang karena tertarik pada buku-buku hasil kurasi dengan teliti pasangan Maesy dan Teddy yang jarang bisa ditemui di tempat lain.

Buku Independen

Buku-buku yang ada biasanya diambil dari penerbit indie seperti Banana, Penerbit Oak, Kata Bergerak, Marjin Kiri, dan lain lain. Buku-buku lain yang juga biasanya berasal dari luar negeri merupakan hasil perburuan Teddy dan Maesy ketika traveling. Rata-rata, Post Santa hanya menyediakan 3-20 eksemplar untuk satu judul buku penerbit indie dan 1-3 eksemplar untuk satu judul buku asing. Mereka pernah membeli London sebanyak satu koper dan semuanya terjual. Biasanya mereka membeli buku-buku asing di toko buku independen juga.

[Baca Juga: Pancing Minat Baca dengan Mendongeng]

Post Santa sengaja memilih konsep demikian untuk mewadahi semua penulis secara merata. Agar tidak hanya penulis berbuku laris saja yang bisa masuk toko buku besar. Teddy bermimpi penerbit independen di Indonesia bisa bernasib sama dengan penerbit di sebuah negara yang ia datangi.

Buku-buku baru yang dijual biasanya akan diunggah dulu di Instagram untuk memancing rasa penasaran. Sebelumnya Post Santa hanya menerima pembelian langsung di toko, baru setahun belakangan pembeli bisa bertransaksi secara daring. Harga buku lokal pada Agustus 2018, dibanderol berkisar Rp30.000 hingga Rp70.000. Sedangkan buku berbahasa Inggris dibandrol hingga mencapai Rp230 ribu.

Kegiatan Bagi Penulis

Biasanya pencinta buku adalah juga penulis atau calon penulis. Oleh karena itu, Post juga menggelitik semangat kreatif dengan kegiatan-kegiatan menarik. Ruang seluas empat kali dua meter itu sering menjadi tempat bergairahnya darah seni anak-anak muda. Hampir setiap akhir pekan ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan Post.

[Baca Juga: Perpustakaan untuk Generasi Milenial di Tangsel]

Tidak seperti komunitas menulis atau membaca lainnya, yang datang ke Post Santa bukan teman-teman sendiri. Justru lebih banyak pemula yang baru bergabung dan berkenalan. "Biasanya yang pemula itu canggung kalau masuk komunitas. Makanya meskipun pembicaranya punya banyak teman, kita malah minta mereka jangan datang," kata Teddy sambil tertawa. Sekali acara, ruangan bisa berisi 10-20 orang. Setiap kegiatan diinfokan melalui sosial media, dan kebanyakan tidak pernah dipungut biaya.

Tidak hanya workshop penulisan. Eksibisi foto, tukar pengalaman wisata, dan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya. "Post sengaja kami ciptakan agar individu-individu kreatif bisa menciptakan acara-acara yang sulit diadakan karena mereka tidak punya akses atau uang seperti kelompok-kelompok besar," kata Maesy dalam suatu wawancara.

Post termasuk salah satu pionir pedagang Pasar Santa bersama kedai kopi ABCD yang terkenal itu. Mereka menyulap los pasar yang biasa becek dan dibekap amis daging menjadi salah satu tempat nongkrong asyik untuk anak muda di Jakarta.

Read More


Artikel Lainnya

Home Credit Gandeng Mitra Bisnis Kecil dan Menengah

Bisnis

Home Credit Gandeng Mitra Bisnis Kecil dan Menengah

26 May 2019, 13:00  |  9 Views

Sebagai perusahaan pembiayaan berbasis teknologi, Home Credit berkomitmen menjadi mitra pembiayaan yang dapat diandalkan bagi mitra bisnis atau konsumen.

Atlet Cheerleaders Indonesia Raih Prestasi di Asian Junior Cheerleding

Berita Kawasan

Atlet Cheerleaders Indonesia Raih Prestasi di Asian Junior Cheerleding

26 May 2019, 14:00  |  6 Views

Prestasi atlet pemandu sorak di ajang Asian Junior Cheerleading Championship menjadi modal menuju Cheerleading Wold Championship.

Cerita Wali Kota Bogor Setelah Menonton Film Ambu

Berita Kawasan

Cerita Wali Kota Bogor Setelah Menonton Film Ambu

26 May 2019, 12:00  |  8 Views

Usai menonton film Ambu garapan Skytree Pictures, Wali Kota Bogor mengaku sempat meneteskan air. Dia pun mengajak ibu dan anak di kawasan Bogor menonton film Ambu.

Ini Cara Jitu Pria Jaga Stamina di Bulan Ramadan Ala Zap Clinic

Kesehatan

Ini Cara Jitu Pria Jaga Stamina di Bulan Ramadan Ala Zap Clinic

26 May 2019, 15:00  |  12 Views

Menjaga stamina saat Ramadan perlu dilakukan agar segala aktivitas bisa dilakukan tanpa mengurangi intensitas. Khusus untuk pria, ini cara jitu jaga stamina di bulan Ramadan.


Comments


Please Login to leave a comment.