Prince Claus Award Celebration Eka Kurniawan 1.jpg

Berita Kawasan

Prince Claus Award Celebration, Rayakan Karya Eka Kurniawan

Eka Kurniawan adalah sastrawan Indonesia namanya mulai diperhitungkan secara internasional. Pria kelahiran Tasikmalaya, 28 November 1975 ini telah menghasilkan empat novel dan empat kumpulan cerpen.

Dalam karyanya, Eka dinilai dapat menampilkan realitas sosial Indonesia yang jarang diangkat ke permukaan dengan cara yang memukau para pembacanya. Ia menampilkan sejarah kelam Indonesia pada 1966 dalam novel pertamanya Cantik Itu Luka (2002). Novel itu dianggap mampu menampilkan pemahaman baru bagi para pembaca terhadap sejarah bangsa Indonesia yang kerap dilupakan itu.

“Tulisannya menggabungkan unsur folklor lokal, sejarah lisan, realisme magis, komik silat dan horor untuk menggambarkan pengalaman manusia yang berlapis-lapis. Novel, cerpen, esai, naskah film, dan novel grafisnya menerobos hambatan sosial, menjangkau beragam pembaca dengan sangat menghibur namun tetap mampu ungkapkan kebenaran sejarah yang mengerikan,” demikian penilaian para juri Prince Clause Award, seperti dibacakan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol dalam acara Prince Claus Award Celebration di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta Selatan (16/2/2019).

[Baca Juga: Erasmus Huis Kembali Dibuka dengan Semangat Baru]

Penghargaan dari Kerajaan Belanda ini sebenarnya sudah diterima Eka dua bulan lalu. Seperti tradisi sebelumnya, setelah penyerahan di Belanda, kedutaan setempat menyelenggarakan perayaan di negara asal penerima penghargaan. Dalam acara yang dihadiri rekan-rekan sastrawan ini, Eka menjadi perwakilan Indonesia. Dari sana, diharapkan dunia internasional bisa masuk dan mengenal Indonesia.

“Seseorang atau sebuah karya tidak bisa mewakilkan Indonesia secara utuh. Ada yang mengulas karya saya dan mengatakan bahaya jika novel itu diterjemahkan dan tersebar di berbagai negara. Apa yang digambarkan dalam dapat membuat citra Indonesia buruk karena penuh kekerasan,” kata Eka ketika ditanya pendapatnya tentang bagaimana rasanya mewakili Indonesia di dunia sastra Internasional.

Namun, ia tidak bisa memungkiri ada rasa senang menerima penghargaan tersebut sebagai bentuk penerimaan pembaca atas usahanya mencampurkan berbagai elemen sastra Indonesia, bahkan dari yang bukan arus utama seperti cerita silat dan horor tahun 60-70an.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia Berikan Prince Claus Award kepada Eka Kurniawan

Prince Claus Award

Setiap tahun, Prince Claus Award diadakan The Prince Claus Fund untuk menghormati pencapaian luar biasa di bidang pengembangan kebudayaan. Penghargaan ini diberikan kepada individu, kelompok atau organisasi yang kegiatannya mampu memberikan dampak bagi masyarakat.

The Prince Claus Fund sendiri didirikan pada 1996 untuk menghormati Pangeran Claus dan gagasannya tersebut. Selama 21 tahun terakhir The Prince Claus Fund telah memberikan ratusan penghargaan kepada para praktisi dan organisasi budaya terkemuka, terutama di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia. Tahun 2018 sendiri ada tujuh penerima penghargaan, termasuk Eka.

Eka bukanlah satu-satunya warga Indonesia yang menerima penghargaan tersebut. Pada tahun pertama yaitu 1997, koreografer, penari, dan film-maker Sardono W. Kusumo dan seniman yang kemudian menjadi kritikus seni dan kurator Jim Supangkat menerima penghargaan yang sama. Pada 1998 giliran seniman lukis, instalasi, dan seni pertunjukan Heri Dono. Pada 2000, sastrawan Ayu Utami menjadi penerima penghargaan termuda.

[Baca Juga: Reader Fest, Sosialisasi Toko Buku Online dari Gramedia.com]

Selain itu, pada 2013 Teater Garasi dari Yogyakarta menerima penghargaan sebagai laboratorium seni pertunjukan yang didirikan dan dijalankan oleh berbagai macam seniman dari berbagai disiplin secara kolektif. Terakhir, sebelum Eka, pada 2014 seniman FX Harsono yang memiliki peran krusial dalam seni kontemporer Indonesia juga diganjar Prince Claus Award.

Pengajar Filsafat FIB UI Saras Dewi

Perayaan Sastrawan Indonesia

Dalam acara tersebut hadir Pengajar Filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Saras Dewi yang ikut memantik diskusi dengan mengulas karya-karya Eka Kurniawan.

Bagi Saras, apa yang dihasilakan Eka adalah sastra terlibat atau sastra bergerak. Karya yang membuat pembaca ingin berbuat sesuatu. “Saya sendiri selalu kembali ke buku-buku Mas Eka dalam menyingkapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia,” kata Saras yang pernah mengadakan penelitian tentang sastra kotemporer Indonesia.

Saras fokus membahas tiga novel Eka. Novel pertama Cantik Itu Luka (2002) dianggap telah berhasil menggambarkan protagonis perempuan yang kuat, sesuatu yang menurut Saras jarang ditemui dalam sastra Indonesia. Buku ini telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa.

Sementara novel kedua Eka Lelaki Harimau (2004) yang telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Italia, Korea, Jerman dan Prancis, dinilai Saras sebagai penggambaran tradisi magis di Indonesia yang sebenarnya masih kental hingga zaman digital ini.

[Baca Juga: Dubes Jepang Berikan Kuliah Umum di UI Depok]

Novel keduanya itu juga berhasil mengantar Eka Kurniawan ke jajaran sastrawan dunia, sehingga pada 2015 Jurnal Foreign Policy menobatkannya sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia, karena berhasil menegaskan posisi Indonesia di peta kesusastraan dunia. Selain itu, pada Maret 2016, novel yang sama berhasil mencatatkan prestasi sebagai buku Indonesia pertama yang dinominasikan di ajang penghargaan sastra bergengsi dunia: The Man Booker International Prize.

Buku ketiga yang disinggung Saras berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) mengangkat tema yang juga masih langka ditemukan dalam sastra Indonesia, yaitu mengenai kekerasan seksual. Buku ini akan segera bisa dinikmati di layar lebar. Sutradara film Posesif (2017) serta Aruna dan Lidahnya (2018) Edwin akan mengangkat novel ini ke dalam bentuk film.

Read More

Artikel Lainnya

5 Pilihan Warna Monokromatik untuk Bangun Suasana Baru di Rumah

Properti dan Solusi

5 Pilihan Warna Monokromatik untuk Bangun Suasana Baru di Rumah

30 September 2020, 16:07

Memilih palet warna monokromatik berarti berkomitmen pada satu warna, tentu saja, tetapi penggemar warna sejati tidak akan menghindar tantangan itu.

Anda Hanya Egois atau Benar Narsistik Ini 3 Tendensi Penentunya

Kesehatan

Anda Hanya Egois atau Benar Narsistik? Ini 3 Tendensi Penentunya

30 September 2020, 15:03

Mengartikan tingkat narsistik "normal" itu rumit, tetapi tiga tendensi penentu berikut dapat lebih memperjelas apa masalah yang Anda hadapi.

Pasca Kafe Broker, Wali Kota Bekasi Kumpulkan Pengusaha Kafe dan Hiburan Malam .jpg

Bisnis

Pasca Kafe Broker, Wali Kota Bekasi Kumpulkan Pengusaha Kafe dan Hiburan Malam

30 September 2020, 14:02

Pepen baru-baru ini mengumpulkan semua pengusaha kafe hingga hiburan malam demi mencegah keadaan seperti di Kafe Broker Galaxy Bekasi kembali terjadi.

Bodebek Zona Merah, Ridwan Kamil Turun Langsung untuk Ngantor di Depok .jpg

Berita Kawasan

Bodebek Zona Merah, Ridwan Kamil Turun Langsung untuk Ngantor di Depok

30 September 2020, 13:05

Mulai pekan depan Gubernur Jawa Barat akan berkantor di Kota Depok untuk langsung mengawasi penangangan COVID-19 di wilayah Bodebek.


Comments


Please Login to leave a comment.