Rahasia di Balik Keahlian Cemerlang Anak Autisme

Kesehatan

Rahasia di Balik Keahlian Cemerlang Anak dengan Autisme

Anak dengan autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) biasanya dikenal memiliki kemampuan yang hebat dalam bidang tertentu. Jikalau dirinya menggeluti suatu hal, keahliannya akan melebihi keahlian orang pada umumnya atau non ASD.

Hal ini diakui Psikolog Anak Afada Alhaque. Ia bahkan mengatakan pembahasan ini menarik untuk dipelajari.

Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi? Apa sebenarnya yang terjadi pada anak ASD sehingga keahliannya dalam suatu bidang di atas rata-rata anak pada umumnya?

Afada mengatakan, ada beberapa hal yang perlu dipahami terlebih dulu sebelum melangkah lebih lanjut pada pembahasan tersebut.

Rahasia di Balik Keahlian Cemerlang Anak Autisme

Pertama, perlu adanya pemahaman tentang ciri khusus anak dengan autisme. Ia menjelaskan, terdapat empat ciri yang umumnya muncul pada anak ASD. Keempat ciri itu antara lain memiliki hambatan di komunikasi sosial, memiliki hambatan di interaksi sosial, cenderung melakukan aktivitas tertentu secara berulang (repetitif), dan punya ketertarikan khusus di bidang tertentu.

“Rata-rata, ciri itu muncul semua, yang berbeda adalah mana [ciri] yang lebih dominan muncul pada seorang anak. Mana yang lebih dominan ini tergantung kondisi dan karakteristik masing-masing anak,” tutur Afada kepada PingPoint.co.id pada Jumat (10/4/2020)

Lebih lanjut, Afada menyebutkan tingkat keparahan yang dialami anak ASD berdasarkan diagnosis terbaru, yaitu tingkat satu, dua, dan tiga. Tingkat keparahan inilah yang menunjukkan kondisi dan karakteristik masing-masing anak ASD.

Tingkat Satu

Tingkatan ini adalah anak ASD dengan keparahan ringan. Mereka yang berada di level ini cenderung hanya membutuhkan sedikit bantuan dari orang lain di beberapa aspek. Jika dikaitkan dengan empat ciri ASD, anak di level ini umumnya mampu berbicara satu kalimat utuh, tetapi tetap cenderung sulit melakukan komunikasi timbal balik dengan orang lain.

Anak ASD dengan keparahan ini biasanya memiliki kecerdasaan rata-rata atau di atas rata-rata sehingga mampu mempelajari strategi menghadapi masalah dengan lebih baik. Kemudian, Afada mengatakan anak ASD pada tingkat ini cenderung lebih jarang menunjukkan perilaku repetitif karena lebih dapat mempelajari strategi mengendalikan perilaku repetitifnya tersebut.

Tingkat Dua

ASD di tingkat dua adalah anak dengan tingkat keparahan sedang. Artinya, anak cukup butuh bantuan dari orang lain dan biasanya hanya mampu berbicara untuk mendapatkan kebutuhan dasarnya. Anak ASD pada tingkat ini akan lebih terlihat terganggu kemampuan bahasanya dibandingkan anak ASD dengan keparahan ringan.

Tingkat Tiga

Ini merupakan tingkat keparahan yang berat sehingga anak sangat butuh bantuan dari orang lain hampir di semua aspek kehidupannya.

Anak ASD yang memiliki kelebihan di atas rata-rata anak pada umumnya, sambung Afada, berlaku bagi ASD di tingkat satu dan yang memiliki kecerdasan minimal rata-rata atau di atas rata-rata orang pada umumnya.

“Anak ASD itu salah satu cirinya punya ketertarikan di bidang tertentu dan [punya] perilaku repetitif. Coba bayangkan dua perilaku ini muncul di seorang anak. Jadi dia udah nemu minat dia apa terus dia ulang-ulang melakukan hal itu. Gimana dia nggak jadi jago?” jelas Afada.

[Baca Juga: Fantastis Life Autism: Perhatikan Kemampuan Anak dengan Autisme]

Afada mengibaratkan cara bagi anak pada umumnya atau non ASD untuk menjadi ahli di suatu bidang tertentu, yaitu dengan memilih salah satu bidang untuk menjadi keahliannya dan menggelutinya. Bagi anak ASD, hal itu otomatis terjadi. Otak anak ASD secara alamiah akan menemukan apa yang disukainya dan menggelutinya karena memiliki perilaku repetitif terhadap aktivitas yang anak tersebut suka.

Penelitian tambahan, lanjut Afada menunjukkan ketika anak ASD sedang melakukan aktivitas secara berulang, anak akan menerjemahkan aktivitas tersebut sebagai hiburan. Anak ASD menjalaninya dengan senang hati, tidak merasa bosan atau pun kesal. Kala itu, hormon dopamin mengalir di otak anak ASD.

“Jadi dopamin itu adalah hormon yang ketika muncul, akan melumasi sinaps-sinaps di otak sehingga bisa saling terjalin dan menjadi solid. Makannya ketika kita melakukan sesuatu diiringi rasa senang, kita jadi lebih cepat paham dan menguasai hal tersebut. Kita menjadi ahli tentang hal itu juga lebih cepet. Itu yang terjadi pada anak ASD,” tandasnya.


Read More

Artikel Lainnya

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Ell y.jpg

Kuliner

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Elly

07 December 2022, 16:31

Fore Coffee baru-baru ini mengumumkan menu pendamping baru yang tepat untuk jadi teman minum kopi dan menu ini merupakan hasil kreasi kolaborasi dengan Oma Elly.

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kot a.jpg

Bisnis

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kota

07 December 2022, 14:29

Pada akhir pekan lalu, Kawan lama Group kembali menggelar aksi donor darah secara serentak di puluhan gerai ACE serta Informa yang tersebar di 27 kota.

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital.jpg

Bisnis

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital

07 December 2022, 12:26

Perusahaan Amartha mengumumkan berhasil menggandeng hingga lebih dari 50.000 UMKM di Sumatera Barat untuk proses adopsi digitalisasi via Amartha+.

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rist a.jpg

Bisnis

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rista

06 December 2022, 16:16

Hadapi perwakilan Chatime dari enam negara lainnya, tea-rista Chatime Indonesia berhasil menyabet juara kedua di kompetisi brewed tea tingkat dunia di Taiwan.


Comments


Please Login to leave a comment.