Riset Polusi Udara Menurun Pada Masa Pandemi Akankah Berlanjut

Kesehatan

Riset: Polusi Udara Menurun Pada Masa Pandemi. Akankah Berlanjut?

Siapa sangka, pemandangan langit biru cerah yang menghiasi Ibu Kota beberapa hari ini adalah dampak dari kebijakan karantina wilayah di masa pandemi COVID-19?

Baru-baru ini, sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menemukan bahwa imbas kebijakan karantina wilayah atau lockdown berpengaruh terhadap kualitas udara di beberapa kota-kota besar kawasan Asia Tenggara.

Seperti di Jakarta misalnya, yang mengalami penurunan Nitrogen Dioksida (NO2) sekitar 40% dari level pada tahun lalu. Padahal, Jakarta merupakan kota dengan tingkat polusi udara paling berbahaya di Asia Tenggara.

Riset Polusi Udara Menurun Pada Masa Pandemi Akankah Berlanjut

Hal yang sama juga terjadi di kota-kota besar lainnya, seperti di Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok. Di kota-kota tersebut, tingkat gas NO2 berkurang karena adanya penurunan penggunaan transportasi dan pengurangan aktivitas industri manufaktur.

Sayangnya, meski Jakarta mengalami penurunan NO2, sebaran PM 2.5 tetap konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana riset sebelumnya, hal ini membuktikan bahwa kualitas udara Jakarta sangat dipengaruhi polutan yang berasal dari wilayah di sekitarnya, terutama pembangkit listrik dengan batu bara.

Hal yang sama juga terjadi di Hanoi dan Ho Chi Minh, Vietnam. Di dua kota tersebut, penurunan NO2 juga tidak dibarengi dengan berkurangnya polutan PM 2.5. Hal tersebut dikarenakan adanya pembakaran batu bara dan industri yang berada di sekitar kota.

Akankah Berlanjut?

Penurunan polusi udara di masa pandemi COVID-19 memang tidak mengurangi dampak bencana dari penyakit ini pada kehidupan masyarakat. Namun, menurut Analis di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih CREA Isabella Suarez, kondisi seperti ini dapat dipertahankan bila kita tetap berupaya untuk berinvestasi dalam energi bersih pasca pandemi ini.

Penelitian CREA telah menunjukkan bahwa polusi udara perkotaan merupakan akumulasi dari berbagai sumber. Mulai dari kendaraan dan lalu lintas, kegiatan industri, hingga pembangkit listrik tenaga batubara yang sangat berpolusi.

[Baca Juga: Apa Keterkaitan Polusi Udara dengan Covid-19?]

“Sederhananya, mengendalikan tingkat polusi dari semua sumber ini sama dengan lebih sedikit polusi yang dihirup. Pada akhirnya, lebih sedikit polusi berarti paru-paru lebih sehat dan lebih sedikit tekanan pada layanan kesehatan di masa kritis ini,” tutur Isabella, dalam siaran pers yang diterima PingPoint.co.id (10/5/2020).

“Melalui krisis ini, kita telah melihat sekilas seperti apa kehidupan dengan udara yang lebih mudah untuk bernapas. Tetapi mengubah ini menjadi kenyataan sehari-hari hanya dapat dicapai dengan menegakkan standar kualitas udara dan dengan cepat mengurangi bahan bakar fosil melalui cara yang konsisten dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Riset Polusi Udara Menurun Pada Masa Pandemi Akankah Berlanjut

Untuk diketahui, sebelum terjadi pandemi, pencemaran udara di sebagian besar negara-negara Asia Tenggara sering melampaui hingga 5 kali batas yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Oleh karenanya, polusi udara menjadi problem lingkungan yang paling mengancam kesehatan.

Di wilayah Asia Tenggara saja terdapat 799.000 kematian per tahun akibat penyakit pernapasan kronis dan penyakit jantung. Belum lagi termasuk penyakit pendukung lainnya yang disebabkan masalah polusi udara.

[Baca Juga: Ini Bahaya Polusi Udara Terhadap Tubuh Anda]

Bahan bakar fosil telah banyak ditemukan sebagai penyebab lebih dari 150 ribu kematian dini di seluruh dunia. Selain mengancam kesehatan, polusi udara juga memicu kerugian ekonomi. Diketahui kerugian ekonomi akibat polusi udara dari bahan bakar fosil diperkirakan mencapai USD 2,9 triliun pada tahun 2018, atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto dunia.

Meski dampak polusi ini sangat fatal, sayangnya upaya untuk perbaikan kualitas udara masih tidak jelas. Dan bila tidak ada upaya perbaikan pasca pandemi ini, maka polusi udara akan kembali menjadi ancaman bagi manusia.


Read More

Artikel Lainnya

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah.jpg

Bisnis

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah

03 February 2023, 16:35

Demi memastikan tidak adanya ketimpangan digital di daerah pedesaan luar Jawa, Amartha Foundation baru-baru ini meresmikan desa digital di wilayah Sulawesi Tengah.

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.jpg

Bisnis

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung

03 February 2023, 14:20

Melalui kemitraan dengan PT KCIC, pengguna tiket.com ke depannya bisa memesan tiket untuk layanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

Berita Kawasan

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

02 February 2023, 17:41

Peresmian unit tempat parkir sepeda dilakukan oleh Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Chaidir, dan Ketua Umum B2W Fahmi Saimima.

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023.jpg

Hobi dan Hiburan

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023

02 February 2023, 15:41

Setelah memberikan teaser siapa saja yang akan tampil, akhirnya pihak penyelenggara mengumumkan siapa saja yang nanti siap menghibur Anda di Woke Up Fest 2023.


Comments


Please Login to leave a comment.