RUMAH KAMI YANG TIDAK BUNGKAM DI GALERI CEMARA MENTENG

Berita Kawasan

Rumah Kami yang Tidak Bungkam di Galeri Cemara Menteng

Menyadari adanya kebutuhan untuk bercerita dan mengekspresikan diri, InterSastra bersama dengan Koalisi Seni Indonesia pada pertengahan Agustus 2018 ini menggelar ajang seni House of The Unsilenced, atau Rumah Kami yang Tidak Bungkam di Cemara 6 Galeri-Museum, Menteng, Jakarta Pusat.

Ajang seni ini menampilkan berbagai seniman dan penulis perempuan, antara lain Dewi Candraningrum (dosen sekaligus pelukis asal Solo), Molly Crabapple (seniman dan penulis penerima penghargaan dari New York yang karyanya sudah masuk dalam koleksi permanen di Museum of Modern Art, New York), Ratu Saraswati (art performer dan finalis Indonesia Art Award), dan Dyantini Adeline (seniman dan pembuat film yang sudah mempresentasikan karya di Berlinale dan Jakarta Biennale).

Selain itu hadir pula Salima Hakim (dosen dan seniman yang karyanya pernah diikutkan dalam Jogja Artweeks), Yacko (rapper yang juga akan meluncurkan single terbarunya sebagai bagian dari acara House of The Unsilenced), Eliza Vitri Handayani (novelis, penggagas dan pengarah acara House of the Unsilenced), Ika Vantiani (kurator seni House of the Unsilenced), Ningrum Syaukat (penari, personal trainer, stage acting coach), Margaret Agusta (jurnalis, penulis, dan seniman visual), dan Bisikbisik Kembang Goyang (kolektif seniman perempuan yang layak diperhatikan).

[Baca Juga : Komunitas Salihara, Ruang Ekspresi Seniman di Jakarta Selatan]

Masing-masing seniman dan penulis di atas bekerja sama dengan para penyintas kekerasan seksual untuk menghasilkan karya-karya baru seputar tema apa artinya angkat bicara dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita.

Penyintas Kekerasan Seksual

Kampanye #MeToo yang ramai di dunia internasional mengungkapkan betapa banyak di antara para penyintas--yang mayoritas perempuan--di Indonesia yang masih sangat kesulitan untuk bercerita. Masyarakat sering memberi stigma dan sanksi yang sangat berat kepada korban kekerasan seksual, dan justru memaklumi tindakan pelaku. Tujuan sosial ajang seni ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai ihwal dan dampak kekerasan seksual, yang disampaikan melalui ekspresi dan kreasi para penyintas.

“Kami membayangkan sebuah ruang yang aman dan dukungan yang kuat bagi mereka yang ingin angkat bicara, tempat di mana kawan-kawan penyintas dapat mengeksplorasi macam-macam kemungkinan untuk bercerita dan mengekspresikan diri,” tutur Eliza Vitri Handayani, penggagas dan pengarah acara House of the Unsilenced.

Itu sebabnya, para seniman dan penulis di House of the Unsilenced menawarkan beragam medium kepada para panyintas seperti menulis, membuat kolase, merajut, melukis, menggambar, bernyanyi, dan medium lainnya sesuai minat dan bakat masing-masing.

Para penyintas langsung berpartisipasi dengan cara mengikuti lokakarya atau berkarya bersama para seniman. “Apabila tidak ada dukungan di lingkungan tempat tinggal, di ruang ini para penyintas bisa menemukan orang-orang yang mendukung. Apabila mereka merasa berat berbicara secara langsung atau melalui media sosial, di ruang ini mereka bisa belajar medium-medium sastra dan seni yang bisa digunakan,” sambung Eliza Vitri Handayani.

Proyek seni ini bertujuan untuk memastikan para penyintas dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan merasa aman dan nyaman berpartisipasi. Para penyintas berasal dari Jabodetabek, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Makassar. Usia mereka berkisar dari 19-53 tahun.

Sebuah karya seni menjadi penting ketika hadir karena kebutuhan, bisa jadi kebutuhan pribadi, politik, sosial atau gabungan semuanya. House of the Unsilenced hadir karena para penyintas butuh untuk mengekspresikan diri dan mengeksplorasi kreativitas sebagai bagian dari perjalanan menuju pemulihan dan pemberdayaan.

[Baca Juga : Post Santa, Komunitas Pecinta Buku di Pasar Santa]

House of the Unsilenced atau Rumah Kami yang Tidak Bungkam adalah ajang seni yang mempertemukan seniman, penulis, dan penyintas kekerasan seksual untuk berkarya bersama seputar tema memecah kebungkaman dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita. House of the Unsilenced adalah bagian dari Creative Freedom Festival 2018 yang diselenggarakan oleh InterSastra bertempat di Cemara Galeri, Menteng.

Read More

Artikel Lainnya

Pemkot Jakarta Pusat Akan Gelar Kontes Ikan Mas Koki

Berita Kawasan

Pemkot Jakarta Pusat Akan Gelar Kontes Ikan Mas Koki

17 September 2019, 18:00  |  6 Views

Dalam meningkatkan geliat ikan hias di kawasannya, Pemkot Jakarta Pusat berencana menggelar kontes ikan mas koki.

Pemkot Jakpus Mendukung Program Pengutamaan Bahasa Indonesia Di Ruang Publik

Pendidikan

Pemkot Jakarta Pusat Dukung Pengutamaan Bahasa Indonesia

17 September 2019, 17:00  |  8 Views

Menurut Wali Kota Jakarta Pusat Irwandi, bahasa Indonesia yang merupakan bahasa negara menjadi identitas bangsa.

Aplikasi SIDONI Berikan Informasi Donor Darah

Kesehatan

Aplikasi SIDONI Berikan Informasi Donor Darah

17 September 2019, 16:00  |  5 Views

Banyak fitur yang bermanfaat tersedia di aplikasi SIDONI yang baru-baru ini telah dluncurkan guna mempermudah akses bagi pendonor.

Dorong Penggunaan Sepeda, Terminal Kalideres Sediakan Jalur Khusus

Berita Kawasan

Dorong Penggunaan Sepeda, Terminal Kalideres Sediakan Jalur Khusus

17 September 2019, 15:00  |  7 Views

Terminal Kalideres saat ini sudah memiliki jalur khusus untuk sepeda demi mendorong pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi.


Comments


Please Login to leave a comment.