Sampah Makanan Bulan Ramadan Ancaman Kelestarian Lingkungan

Berita Kawasan

Sampah Makanan Bulan Ramadan Ancaman Kelestarian Lingkungan

Saat umat muslim di seluruh penjuru dunia menjalankan ibadah puasa, justru sampah makanan cenderung mengalami peningkatan.

Data dari EcoMENA menyebutkan bahwa negara-negara kawasan Timur Tengah menghasilkan limbah makanan dalam jumlah yang besar selama bulan Ramadan. Bila dihitung secara konvensional, diperkirakan 15 sampai 25 persen dari makanan yang dibeli atau dipersiapkan selama bulan Ramadan berakhir di tempat pembuangan sampah.

Hal tersebut terjadi karena orang-orang cenderung membeli makanan diluar kebutuhan pada hari-hari biasanya. Berdasarkan data tersebut, permintaan makanan selama bulan Ramadan seperti daging sapi, ayam, sayur-sayuran dan buah-buahan memang cenderung mengalami peningkatan hingga 50 persen.

Sampah Makanan Bulan Ramadan Ancaman Kelestarian Lingkungan

Fenomena ini sejalan dengan perilaku masyarakat yang semakin boros seiring dengan peningkatan pendapatan, standar hidup, konsumerisme dan daya beli mereka. Seharusnya, peningkatan pendapatan tak membuat masyarakat menjadi boros. Apalagi hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama.

Bahkan, masalah sampah makanan di bulan Ramadan ini pun ditambah dengan adanya donasi makanan yang diperuntukkan bagi orang miskin. Makanan yang seharusnya dikonsumsi justru terbuang karena pengiriman yang telat dan bersamaan dengan waktu ibadah sholat Maghrib atau Tarawih.

[Baca Juga: Tips Mengurangi Sampah Sisa Makanan Demi Kelestarian Lingkungan]

Lalu apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah makanan? Dilansir dari EcoMena (12/5/2020), perlu adanya perubahan perilaku konsumsi masyarakat di bulan Ramadan. Berikut cara yang dapat dilakukan masyarakat.

  1. Anda sebaiknya tidak berbelanja makanan secara berlebihan.
  2. Pentingnya membangun kesadaran di masyarakat untuk menghormati Alam dengan mengubah kebiasaan konsumsi makanan yang lebih baik. Sebab, perilaku mubazir atau membuang makanan dipengaruhi oleh kepekaan sosial budaya dan perubahan perilaku individu.
  3. Anda sebaiknya membeli makanan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan, terutama pada produk buah-buahan dan sayur-sayuran. Untuk melakukan hal tersebut, Anda bisa mulai membuat daftar barang belanjaan sebelum ke supermarket atau pasar.
  4. Belilah produk dengan masa kadaluwarsa yang lebih lama agar dapat disimpan untuk jangka waktu yang panjang.
  5. Lakukan pengecekan makanan-makanan yang ada di kulkas untuk memastikan masih dapat digunakan sebelum menjadi limbah.
  6. Membiasakan diri untuk memanfaatkan dan menyimpan makanan juga menjadi cara untuk mengurangi sampah makanan.

Dampak Sampah Makanan

Menurut Waste4Change , sampah organik seperti sampah makanan yang dicampur dan diabaikan dapat menyebabkan pemanasan global. Dilansir dari laman resminya , ancaman tersebut dapat terjadi karena Dekomposisi anaerobik (nol-oksigen) dari sampah organik alam prosesnya menghasilkan gas metana (CH₄). Sementara itu, gas metana adalah jenis Gas Rumah Kaca (GHG) yang mempercepat degradasi lapisan ozon bumi.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memisahkan sampah organik dan non-organik. Untuk mencegah bau sampah yang dihasilkan dari sampah organik, Anda dapat menyimpan sampah organik dengan baik di dalam tempat yang tertutup.

[Baca Juga: Dipicu PSBB Kala COVID-19, Volume Sampah Jakarta Timur Berkurang Drastis]

Sebelumnya, hasil survei WWF Tahun 2018 menemukan bahwa sepertiga dari semua makanan yang dihasilkan tidak pernah dikonsumsi. Di tengah ancaman alam tersebut, sebanyak 91 persen masyarakat justru tidak sadar bahwa sistem pangan seperti cara mengkonsumsi, memproduksi dan membuang makanan berpengaruh bagi keberlangsungan bumi.

Hal itu dikarenakan sektor pangan menghabiskan sumber daya alam paling besar sekaligus menghasilkan emisi gas rumah kaca paling besar. Sebab, produksi pangan menggunakan 34 persen lahan dan 69 persen air tawar. Oleh karenanya, sistem pangan ini menjadi penyebab utama deforestasi dan hilangnya habitat lainnya.

Untuk diketahui, Indonesia sendiri menjadi salah satu negara penyumbang makanan dengan jumlah yang besar di dunia menurut Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2016. Tiap tahunnya, masyarakat Indonesia membuang hampir 300 kilogram makanan.


Read More

Artikel Lainnya

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah.jpg

Bisnis

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah

03 February 2023, 16:35

Demi memastikan tidak adanya ketimpangan digital di daerah pedesaan luar Jawa, Amartha Foundation baru-baru ini meresmikan desa digital di wilayah Sulawesi Tengah.

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.jpg

Bisnis

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung

03 February 2023, 14:20

Melalui kemitraan dengan PT KCIC, pengguna tiket.com ke depannya bisa memesan tiket untuk layanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

Berita Kawasan

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

02 February 2023, 17:41

Peresmian unit tempat parkir sepeda dilakukan oleh Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Chaidir, dan Ketua Umum B2W Fahmi Saimima.

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023.jpg

Hobi dan Hiburan

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023

02 February 2023, 15:41

Setelah memberikan teaser siapa saja yang akan tampil, akhirnya pihak penyelenggara mengumumkan siapa saja yang nanti siap menghibur Anda di Woke Up Fest 2023.


Comments


Please Login to leave a comment.