Membumikan Kepedulian Masyarakat Terhadap Anak dengan Autisme

Pendidikan

SDM untuk Tangani Anak dengan Autisme Perlu ditingkatkan

Autis atau autisme merupakan salah satu dari lima tipe gangguan perkembangan pervasif atau PDD (Pervasive Develop-mental Disorders), yang ditandai tampilnya abnormalitas pada domain interaksi sosial dan komunikasi. Sebelum anak dengan autisme berusia 3 tahun, dalam masa pertumbuhan sudah menunjukkan gejala keterlambatan perkembangan dalam berinteraksi sosial, berbicara, dan bermain menggunakan imajinasi.

Pada tahun 1985, Princeton Child Development Institute melakukan sebuah penelitian yang menunjukkan dengan melakukan penanganan sejak dini, sebelum anak menginjak usia 5 tahun, 40-60 persen anak dapat mengikuti sekolah umum.

Dunia Pendidikan menjadi kunci utama bagi semua anak di Indonesia untuk menjalani kehidupan mandiri dan terampil di masa depan, termasuk bagi anak dengan autisme.

Hari Kesadaran Autisme Sedunia, Mengenal Apa Itu ASD

Sejak 1998, Organisasi Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO) telah merekomendasikan pendidikan inklusif, yaitu kegiatan mengajar anak berkebutuhan khusus di kelas reguler atau umum. Di Indonesia, pendidikan khusus dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pada satuan pendidikan akademis (sekolah luar biasa) dan pada sekolah reguler (program pendidikan inklusif). Hanya saja, kedua hal tersebut belum merata.

Di Indonesia, negara juga menjamin hak-hak anak dengan autisme untuk bersekolah di sekolah reguler pada Pasal 31 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945 menyatakan “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.”

Peraturan mengenai penyelenggaraan sekolah inklusif di Indonesia pun tertuang pada Permendikbud No. 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan Dan/Atau Bakat Istimewa.

[Baca Juga: Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan]

Dalam Permendikbud ini, dijelaskan dalam Pasal 2 bahwa tujuan dari pendidikan inklusif adalah untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, potensi kecerdasan dan bakat istimewa, dan menyelenggarakan pendidikan yang menghargai keanekaragaman.

Dalam pendidikan inklusif yang meliputi ketercakupan dan kesetaraan, berbagai lembaga biasanya menawarkan layanan dan program yang mungkin berbeda-beda satu sama lain. Menurut Praktisi Pendidikan, Himiks Dinas Sosial Kotamadya Semarang dan Koordinator Opdis Autis Sondang Intan Sihombing, S.Pd tentang pendidikan di Indonesia untuk autisme memerlukan SDM yang memahami kebutuhan mereka.

Hari Kesadaran Autisme Sedunia, Mengenal Apa Itu ASD

“Menurut saya masih perlu ditingkatkan dengan menyediakan SDM yang memahami kebutuhan anak dengan autisme sehingga dalam membuat program dan kurikulum bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” ujarnya.

Selain membutuhkan pendidikan agar dapat mengembangkan potensinya, anak [dengan] autis[me] juga membutuhkan terapi untuk membantu mengendalikan gejala sekaligus meningkatkan kemampuan fungsional seseorang dalam menjalani kehidupan.

Ada banyak jenis terapi yang dapat diterapkan kepada anak dengan autisme. Dari banyaknya jenis itu tergantung sesuai dengan kemampuan anak dalam menerapkannya. Sondang mengatakan, ada beberapa teori tentang terapi anak dengan autisme yang muncul, tetapi menurut ia, teori itu lebih merupakan modifikasi dan atau gabungan dari teori-teori sebelumnya yang sudah ada.

[Baca Juga: Keluarga Jadi Elemen Penting untuk Pendidikan Anak dengan Autisme]

“Pada dasarnya sebuah teori dikatakan bermanfaat bagi anak adalah jika hal itu sesuai dengan kebutuhan si anak karena tidak setiap anak mempunyai kebutuhan yang sama karena mereka itu unik,” ucapnya.

Kehadiran anak dengan autisme di tengah masyarakat memicu beragam reaksi positif, menurut Sondang, belakangan ini sudah menuju ke arah pemahaman dan penerimaan yang lebih baik dan friendly dibandingkan awal tahun 2000an.

Autism Awareness sudah sering digalakkan di banyak daerah walaupun sering masih juga ada bullying terhadap anak dengan autisme,” tandasnya.


Read More

Artikel Lainnya

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Ell y.jpg

Kuliner

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Elly

07 December 2022, 16:31

Fore Coffee baru-baru ini mengumumkan menu pendamping baru yang tepat untuk jadi teman minum kopi dan menu ini merupakan hasil kreasi kolaborasi dengan Oma Elly.

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kot a.jpg

Bisnis

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kota

07 December 2022, 14:29

Pada akhir pekan lalu, Kawan lama Group kembali menggelar aksi donor darah secara serentak di puluhan gerai ACE serta Informa yang tersebar di 27 kota.

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital.jpg

Bisnis

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital

07 December 2022, 12:26

Perusahaan Amartha mengumumkan berhasil menggandeng hingga lebih dari 50.000 UMKM di Sumatera Barat untuk proses adopsi digitalisasi via Amartha+.

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rist a.jpg

Bisnis

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rista

06 December 2022, 16:16

Hadapi perwakilan Chatime dari enam negara lainnya, tea-rista Chatime Indonesia berhasil menyabet juara kedua di kompetisi brewed tea tingkat dunia di Taiwan.


Comments


Please Login to leave a comment.