Kemang_Pendidikan_Belajar Sejarah di Museum Tengah Kebun, Kemang Timur_Oci (Final).docx

Berita Kawasan

Sejarah Berdirinya Kawasan Menteng

Menteng merupakan wilayah yang punya sejarah dalam terbentuknya Kota Jakarta. wilayah ini dikenal sebagai pemukiman yang dihuni oleh pejabat-pejabat dan orang-orang kaya. Bukan hanya pemukiman mahal dan mewah, Menteng juga banyak dikenal dengan tamannya. Sebut saja Taman Suropati, dan Taman Menteng atau Shophaus Menteng. Lantas, bagaimana dengan sejarah berdirinya wilayah Menteng ini?

Perkembangan Menteng (1762-1910)

Nama daerah ini diambil dari pohon-pohon yang tumbuh subur di sana, yaitu pohon buah menteng (Baccaure racemosa). Konon dahulu, wilayah ini layaknya hutan belantara karena banyaknya pohon tersebut. Itulah para warga di Batavia menyebut area tersebut sebagai ‘Menteng’.

Sebelum proyek didirikannya pemukiman di Menteng direncanakan oleh Pemerintah Hindia Belanda, tanah yang ada di kawasan tersebut dimiliki oleh seorang tuan tanah. Tepatnya milik Moor (sebutan orang yang datang dari Timur Tengah saat itu) yang bernama Assan Nina Daut. Namun ia hanya memilikinya sampai tahun 1762, dan tanah yang membentang hingga Gondangdia itu pun beberapa kali mengalami pergantian kepemilikan.

[Baca Juga : Cerita Jawara sampai Ekspatriat di Kemang Jakarta Selatan]

Pada tahun 1790, kepemilikan tanah tersebut beralih kepada Pieter J. du Chene de Vienne, dan berpindah lagi pada tahun 1815 ke tangan Jakob P. Barends. Lalu pada tahun 1867, tanah tersebut jatuh ke tangan seorang pria keturunan Timur Tengah yang berasal dari Hadramaut (Yaman).

Kepemilikan yang terakhir ini disinyalir memiliki hubungan ketika Terusan Suez dibuka, di mana banyak orang-orang dari Hadramaut yang mulai berdatangan ke wilayah Jawa dan beberapa di antaranya membeli tanah serta memilih bermukim di area Menteng. Pemerintah Belanda mencatat, keluarga Shahab merupakan landheeren Menteng sampai tahun 1910. Status tuan tanah keluarga tersebut berakhir ketika pihak Belanda kembali menguasai Menteng.

Proyek Menteng (1910-1919)

Sebelum disentuh oleh Pemerintah Hindia Belanda, tanah tersebut merupakan perkebunan dengan luas 73 hektare dan dihuni oleh ribuan petani yang berlokasi di bagian selatan Kongsplein (Kebon Sirih). Bahkan pada 1910, tanah tersebut tercatat masih terdapat banyak sawah, ladang dan kebun kelapa.

Dengan adanya perkebunan tersebut, banyak muncul pemukiman ilegal sehingga Pemerintah Hindia Belanda membutuhkan solusi dan di saat yang sama mereka memandang bahwa Batavia membutuhkan tambahan pemukiman untuk orang-orang dengan ekonomi menengah ke atas. Akhirnya pihak kota pun membeli tanah-tanah di Menteng dan membentuk De Bouwploeg yang menjadi komisi pengawas proyek di sana.

De Bouwploeg kemudian mulai bergerak untuk membeli tanah di Menteng serta Gondangdia.Informasti tambahan, sebelum dibeli, tanah di Gondangdia yang memiliki luas 73 hektare dimiliki oleh seorang janda Belanda bernama J.V.D Bergh dan saat itu menjadi tempat tinggal untuk 3.052 petani.

Ketika mayoritas tanah di wilayah tersebut telah dibeli, pengembangan Menteng menjadi area pemukiman yang modern pun jatuh ke tangan Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Pada tahun 1910, rencana cetak biru awal dari Moojen terhadap Menteng adalah menjadikan kawasan itu dengan model garden city yang dibuat oleh arsitektur asal Inggris bernama Ebenezer Howard.

Wilayah Menteng akan memiliki jalan-jalan lintas sektor yang luas dengan alun-alun publik. Di pintu masuk utara pemukiman Menteng, Ebenezer merancang pusat seni yang akan berguna sebagai landmark. Namun rencana itu berubah pada tahun 1912 karena Moojen menginginkan Menteng tidak berdiri sendiri dan terintegrasi dengan kawasan pinggiran lainnya di Batavia. Proyek Menteng pun dinamakan Nieuw Gondangdia dengan kawasan yang batas selatannya berada di Banjir Kanal Barat yang rampung pada tahun 1919.

Rancangan Moojen kemudian kembali mengalami perubahan oleh F.J. Kubatz yang menangani pengembangan di Kota Batavia. Perubahan itu meliputi banyak hal termasuk tata jalan dan penambahan kolam (Situ Lembang) di timur Taman Bisschooplein (Taman Suropati).

Pengembangan Menteng dan berbagai arsitekturnya terhambat pada masa depresi besar. Saat itu, rumah-rumah di Menteng dibangun dua tingkat demi memperluas bangunan tanpa perlu menambah lahan. Rumah-rumah yang berdesain tersebut berlokasi di Van Heutszboulevard (Jalan Teuku Umar), Van Breen Weg (Jalan Latuharhari), Nassau Boulevard (Jalan Imam Bonjol) dan di Oranje Boulevard (Jalan Diponegoro).

Pasca-Kemerdekaan (1945-1980)

Saat Indonesia bebas dari penjajahan Kolonialisasi Belanda, area Menteng pun berubah menjadi kawasan elit di Jakarta. Para tokoh penting mulai dari Soekarno, Mohammad Hatta, A.H Nasution, Soeharto hingga Ali Sadikin pernah bermukim di sini. Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pernah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Menteng.

Pada tahun 1975, berdasarkan Keputusan Gubernur, area Menteng dijadikan sebagai kawasan warisan budaya dengan arsitekturnya yang khas dan berbeda dengan bangunan lain di Jakarta. Pengembangan pun dilakukan pada 1980, di mana bagian barat Menteng diubah menjadi area komersial.

[Baca Juga : Dari Benteng VOC hingga Jadi Eduwisata, Ini Kisah Pulau Onrust]

Area komersial ini meliputi Jalan Sabang, Jalan Jaksa, Jalan Teuku Cik Di Tiro dan Jalan Menteng Raya. Jadi tidak aneh bila Anda ke sana dan melihat area tersebut dipenuhi toko-toko, hotel, restoran sampai perkantoran. Itulah sejarah mengenai kawasan Menteng, sehingga ketika berkunjung ke Taman Suropati, Taman Menteng atau ke Shophaus Menteng, Anda sudah mengetahui mengenai perkembangan area itu.

Read More

Artikel Lainnya

Junita Liesar Gaet Ivan Gunawan Rilis Koleksi Busana Ready to Wear

Kecantikan dan Fashion

Kenapa Busana Klasik Masih Diminati? Ini Jawaban Ivan Gunawan

16 December 2019, 17:00

Busana klasik merupakan salah satu jenis pakaian yang harus ada dalam lemari Anda. Pakaian ini tak lekang oleh waktu dan bisa menghasilkan banyak tampilan.

5 Pemenang I-PLAN Food Design Challenge Bantu Pemerintah Atasi Stunting dan Anemia

Berita Kawasan

5 Pemenang I-PLAN Food Design Challenge Bisa Bantu Atasi Stunting

16 December 2019, 16:00

Kelima pemenang I-PLAN Food Design Challenge terpilih lewat produk olahan lautnya yang mudah dan praktis untuk dikonsumsi. Apa saja yang mereka ciptakan?

UNPAK, Hadirkan Acara Festival Sebagai Program Mata Kuliah

Pendidikan

UNPAK, Hadirkan Acara Festival Sebagai Program Mata Kuliah

16 December 2019, 15:00

Komen Festival menghadirkan perpaduan bazar makanan dan panggung musik. Meski menjadi salah satu program mata kuliah, acara ini tidak menghadirkan edukasi melainkan full entertiment.

Netflix, Adaptasi Tokoh LINE FRIENDS Kedalam Serial Anak-Anak

Berita Kawasan

Netflix, Adaptasi Tokoh LINE FRIENDS Kedalam Serial Anak-Anak

16 December 2019, 14:00

Tokoh Brown and Friends dari Line hadir sebagai serial animasi Netflix. Serial original tersebut akan hadir dalam bentuk film animasi komedi slapstick tanpa dialog.


Comments


Please Login to leave a comment.