Sejarah Lipstik Merah dalam Pergerakan Perempuan

Kecantikan dan Fashion

Sejarah Lipstik Merah dalam Pergerakan Perempuan

Selama berabad-abad lipstik merah telah mengisyaratkan banyak hal, mulai dari penggunaan awal oleh kaum elit pada masa Mesir kuno; oleh pelacur pada masa Yunani kuno; hingga statusnya di Hollywood awal sebagai simbol kemewahan.

Dalam banyak rona, warna pada bibir ini telah menjadi senjata budaya yang kuat, yang memiliki beragam makna dari ribuan abad. "Lipstik merah dapat benar-benar menjadi sarana melacak sejarah budaya dan semangat sosial," kata Rachel Felder, penulis buku Red Lipstick: An Ode to a Beauty Icon (2019).

Sejarah Lipstik Merah dalam Pergerakan Perempuan

Sampai lipstik dipopulerkan pada awal abad ke-20, bibir merah sering dikaitkan dengan wanita yang secara moral meragukan: tidak sopan, amoral secara seksual, bahkan sesat. Di Abad Kegelapan, bibir merah dipandang sebagai tanda persekutuan dengan iblis. Riasan wajah ini "dikaitkan dengan feminitas misterius dan menakutkan ini," kata Felder seperti diberitakan ccn.com (22/11/2020).

Dalam bukunya Felder kemudian menjelaskan, ketika perjuangan hak pilih perempuan di AS mengadopsi bibir merah, rekan-rekan internasional mereka juga melakukannya.

[Baca Juga: Berikut Langkah Aman Sebelum Gunakan Lipcream untuk Bibir Anda]

Saat gerakan menuntut hak-hak perempuan menyebar ke seluruh Eropa, Selandia Baru dan Australia, Inggris dan Amerika sebagai pelopor sering berbagi taktik, mulai dari mengatur demonstrasi, mogok makan, hingga strategi militan yang lebih agresif. Dan solidaritas ini meluas hingga ke riasan wajah mereka. Terinspirasi oleh rekan-rekannya dari Amerika, aktivis perempuan di Inggris Emmeline Pankhurst juga menyukai bibir merah dan membantu menyebarkan gerakan simbolis di antara sesama aktivisnya.

Sebalum itu, menurut Felder, sudah ada momentum untuk menormalkan lipstik merah di kalangan perempuan secara lebih umum. Gerakan ini bersamaan dengan penggantian korset ketat dengan bra. Kemudian gabungan dari semua simbol ini mereka pun mewujudkan gagasan "perempuan modern" di Eropa dan Amerika.

[Baca Juga: Ingin Miliki Bibir Merah Berseri Alami? Ikuti 5 Cara Berikut]

Selama Perang Dunia II, bibir merah menunjukkan sikap menantang yang berani. Adolf Hitler "terkenal sangat membenci lipstik merah," kata Felder. Di negara-negara Sekutu, memakainya menjadi tanda patriotisme dan pernyataan menentang fasisme. Ketika pajak membuat lipstik menjadi sangat mahal di Inggris, perempuan menggunakan jus bit untuk efek merah yang sama.

Saat laki-laki pergi berperang dan perempuan mengisi peran profesional mereka dengan mengenakan bibir merah untuk memasuki dunia kerja. Itu menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi krisis dan menawarkan normalitas di masa-masa sulit. "Itu memungkinkan perempuan untuk mempertahankan identitas diri mereka sendiri sebelum perang."

Sejarah Lipstik Merah dalam Pergerakan Perempuan

Pada tahun 1941 dan selama perang, lipstik merah menjadi wajib bagi wanita yang bergabung dengan Angkatan Darat AS. Merek kecantikan memanfaatkan tren masa perang, dengan Elizabeth Arden merilis "Victory Red" dan Helena Rubenstein memperkenalkan "Regimental Red". Setelah perang usai, aktris Hollywood klasik seperti Elizabeth Taylor menambahkan lapisan glamor pada tampilan percaya diri.

Kini, selain lipstik merah, muncul simbol protes lain untuk pemberdayaan perempuan. Seperti pink pussy hat yang mendominasi Women's March 2017; dan kostum "The Handmaid's Tale" yang telah dipakai secara internasional untuk demonstrasi pro-choice.

Sejarah Lipstik Merah dalam Pergerakan Perempuan

Meskipun demikian, lipstik merah menjadi simbol yang kuat. Dalam gambar viral dari tahun 2015, seorang wanita Makedonia mencium perisai anti huru-hara petugas selama protes anti-pemerintah, meninggalkan tanda ciuman merah di momen pemberontakan yang pedih.

Pada 2018 di Nikaragua, perempuan dan laki-laki mengenakan lipstik merah dan mengunggah foto diri mereka ke media sosial untuk menunjukkan dukungan mereka bagi pembebasan pengunjuk rasa anti-pemerintah. Mereka bereaksi terhadap aktivis Marlén Chow, yang menentang interogatornya dengan mengoleskan lipstik merah.

Desember lalu, hampir 10.000 wanita di Chili turun ke jalan dengan penutup mata hitam, syal merah, dan bibir merah untuk mengecam kekerasan seksual di negara itu. Dengan memakai bibir merah, pengunjuk rasa di seluruh dunia telah memanfaatkan kekuatan yang sama dengan gerakan perempuan seabad sebelumnya.

Read More

Artikel Lainnya

FKUB Medan Terima Penghargaan Harmony Award 2020

Berita Kawasan

FKUB Medan Terima Penghargaan Harmony Award 2020

18 January 2021, 17:17

Tentunya Penghargaan ini sangat berarti dalam meningkatkan motivasi dan Kinerja Baik Pemko maupun FKUB untuk terus merawat, memelihara dan menguatkan kehidupan keagamaan.

Kanal Youtube Disdik Depok Perkaya Pembelajaran Daring Siswa

Pendidikan

Kanal Youtube Disdik Depok Perkaya Pembelajaran Daring Siswa

18 January 2021, 16:17

Kanal yang diberi nama Belajar Bersama Disdik Kota Depok ini, bertujuan untuk mendukung kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) atau pembelajaran daring siswa.

Pantauan Vaksinasi Tenaga Medis di Tangerang Selatan

Kesehatan

Pantauan Vaksinasi Tenaga Medis di Tangerang Selatan

18 January 2021, 15:28

Proses pendaftaran vaksinasi ada empat alur. Meja pertama, calon penerima vaksin yang mendapatkan SMS yang sudah mendaftar melalui aplikasi, melakukan registrasi dan pencatatan.

Kerjasama Pemkot dan Gojek Perkuat Pariwisata dan UMKM di Kota Malang

Bisnis

Kerjasama Pemkot dan Gojek Perkuat Pariwisata dan UMKM di Kota Malang

18 January 2021, 14:23

Pemerintah Kota Malang di awal tahun 2021 melakukan terobosan dalam bentuk inisiasi kerjasama dengan GoJek dan GoPay.


Comments


Please Login to leave a comment.