Sosok Petasan Bagi Masyarakat Betawi di Masa Lampau

Berita Kawasan

Sejarah Makna Petasan Bagi Masyarakat Betawi

Bagi warga kota Jakarta dan sekitarnya, petasan bukanlah benda yang asing lagi. Namun seiring dengan perjalanan waktu, petasan semakin sulit dijumpai di pasaran. Karena dibalik keseruan ledakan petasan, ternyata masih menyimpan potensi berbahaya. Bagi masyarakat Betawi, petasan tak hanya banyak dimainkan oleh anak-anak zaman dahulu saja, tapi juga menjadi menjadi sebuah komponen penting di suatu acara atau perayaan.

Ditengarai petasan dibawa oleh para pedagang Tionghoa yang datang ke Nusantara pada beberapa abad silam. Bahaya petasan membuat penguasa VOC pada 1650 mengeluarkan larangan membakar petasan terutama di bulan-bulan kemarau. Petasan dianggap dapat memicu kebakaran di kebun-kebun milik tuan tanah dan pemerintah, serta rumah penduduk yang umumnya masih terbuat dari bambu dan kayu. Alasan lain yaitu faktor keamanan, penguasa VOC sulit membedakan bunyi ledakan petasan dengan letusan senjata api jika berada di kejauhan.

Sosok Petasan Bagi Masyarakat Betawi di Masa Lampau

Berdasarkan penelusuran PingPoint.co.id dari beberapa sumber (29/8/2019), larangan serupa juga diberlakukan pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Indonesia setelah era Kemerdekaan. Tapi tetap saja kebiasaan membakar petasan sulit dibendung, apalagi ketika perayaan Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran, serta dalam tradisi masyarakat. Dalam acara penting seperti khitan atau perkawinan di kalangan masyarakat Betawi.

Di masyarakat Betawi, peran petasan juga dapat menjadi alat komunikasi yang efektif. Zaman dahulu, sebuah kampung biasanya hanya terdiri dari beberapa rumah saja dan jarak antara satu kampung dengan kampung lain bisa hingga 1 atau 2 kilometer. Sehingga jika ada satu keluarga yang mengadakan hajatan, maka cukup dengan menyalakan petasan lalu para warga kampung lain akan berdatangan.

[Baca Juga: Sayur Besan, Sajian Istimewa Asal Betawi Yang Nyaris Punah]

Pada zaman dahulu telah ada dua jenis petasan, yaitu petasan impor dan petasan lokal. Petasan lokal dibuat oleh perusahaan keluarga yang sudah turun-temurun di wilayah Parung, Kabupaten Bogor. Sedangkan petasan impor berasal dari Jepang. Pada masa pendudukan Belanda, petasan Jepang banyak dijual di Glodok, Senen, Tanah Abang, hingga Mester atau Jatinegara.

Secara mutu dan tampilan, petasan impor memiliki suara yang lebih nyaring dan memekakkan telinga ketimbang petasan buatan Parung. Oleh karenanya, warga yang menggunakan petasan impor pasti memiliki kebanggaan tersendiri dan dikagumi oleh banyak orang di sekitarnya.

Petasan pernah menjadi persoalan dahsyat bagi Jakarta di tahun 1971. Saat itu, pemerintah Jakarta menggelar pesta petasan di Jalan MH Thamrin pada malam Tahun Baru. Gubernur Jakarta Ali Sadikin didaulat untuk menyalakan petasan sebagai tanda dimulainya acara tersebut. Jumlah petasan dan mercon yang disiapkan pun luar biasa, total beratnya hingga berton-ton.

[Baca Juga: Lestarikan Tradisi Palang Pintu, Dinkes Jakarta Adakan Lomba Pantun]

Malang tak dapat dihindari, ada puluhan orang yang menjadi korban kedahsyatan petasan super dalam pesta itu. Presiden Soeharto kemudian menyampaikan larangan dan instruksi khusus dalam Sidang Kabinet Paripurna 12 Oktober 1971. Hanya petasan jenis cabe rawit dan lombok merah yang diperbolehkan, serta harus buatan dalam negeri. Menteri Dalam Negeri Amir Machmud lalu menyebarluaskan imbauan kepada seluruh Gubernur di Indonesia dan Kepala Polisi Komisaris Jenderal Polisi Drs M. Hasan menginstruksikan semua pejabat polisi tertinggi di setiap provinsi untuk menertibkan pemasangan serta pembuatan petasan.

Hingga kini, pihak kepolisian selalu merazia penjual dan pemilik petasan, memusnahkan banyak petasan, tapi petasan impor tetap saja tersedia. Produsen dan penjual petasan juga diam-diam menjualnya. Setiap tahun, walaupun ada larangan, razia, korban juga selalu berjatuhan, karena petasan dan mercon masih mewarnai suasana perayaan di kota Jakarta dan sekitarnya. Jumlah peredarannya memang berkurang, tapi kultur petasan tidak akan pernah hilang.


Read More

Artikel Lainnya

Walau Banyak Bisnis Penyewaan Buku Punah, Pitimoss Fun Library Mampu Tetap Eksis.jpg

Pendidikan

Walau Banyak Bisnis Penyewaan Buku Punah, Pitimoss Fun Library Mampu Tetap Eksis

31 January 2023, 12:38

Di tengah hantaman digitalisasi yang membuat akses membaca buku novel serta komik mudah, Pitimoss Fun Library tetap mampu bertahan hingga hampir 20 tahun terakhir.

Wow, Bank Sampah di Kota Tangerang Ini Hasilkan Produk Lilin Aromat erapi.jpg

Bisnis

Wow, Bank Sampah di Kota Tangerang Ini Hasilkan Produk Lilin Aromaterapi

30 January 2023, 15:01

Bank sampah ternyata tak hanya bisa mendapatkan cuan dari pemilahan sampah semata, karena bank sampah satu ini menunjukan bahwa mereka juga mampu membuat produk yang bernilai ekonomi.

Perayaan Imlek 2023 di Taman Banteng, Pj Gubernur DKI Jakarta Dampingi Jokowi.jpg

Berita Kawasan

Perayaan Imlek 2023 di Taman Banteng, Pj Gubernur DKI Jakarta Dampingi Jokowi

30 January 2023, 12:58

Pada akhir pekan kemarin, Presiden Jokowi terlihat hadir bersama Pj Gubernur DKI Jakarta dalam momen perayaan Imlek Nasional yang digelar di Taman Banteng

Pastikan Anak Terlindung dari Campak via Vaksinasi, Pemkot Surabaya Siap Sweepin g.jpg

Kesehatan

Pastikan Anak Terlindung dari Campak via Imunisasi, Pemkot Surabaya Siap Sweeping

27 January 2023, 13:57

Banyaknya kasus campak di wilayah perbatasan Surabaya-Madura, mendorong Pemkot Surabaya untuk bergerak secara agresif demi memastikan anak-anak Kota Pahlawan sudah mendapatkan imunisasi campak.


Comments


Please Login to leave a comment.