ads
SERPONG_KAWASAN_SERU TERNYATA BEGINI AWAL TERBENTUKNYA KABUPATEN TANGERANG_IVAN_REVISI 01-01.jpg

Berita Kawasan

Sejarah Singkat dan Asal Mula Kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang ternyata memiliki sejarah panjang. Cerita tentang perang kolosal antara Kesultanan Banten dan Belanda ada di sana. Kabupaten Tangerang merupakan salah satu wilayah administratif di Tatar Pasundan, Provinsi Banten. Daerah yang memiliki luas sekitar 959 kilometer persegi ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Lebak dan Bogor di bagian selatan; Kabupaten Serang di barat; Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Jakarta Utara di sisi timur serta Laut Jawa di bagian utara.

Dilihat dari letak geografisnya, Kabupaten Tangerang memiliki lokasi yang strategis. Makanya pada zaman penjajahan Belanda, wilayah ini sempat diperebutkan karena jadi bisa jadi jalur distribusi utama di Pulau Jawa. Usaha merebut dan mempertahankan wilayah ini terbilang seru karena diwarnai dengan konflik dan strategi.

Laman Kabupaten Tangerang menceritakan Kabupaten Tangerang ini awalnya berada dalam kekuasaan Kesultanan Banten. Ketika Agresi Militer Belanda pada pertengahan abad ke-16, Belanda ingin menguasai wilayah tersebut karena dinilai strategis. Kesultanan Banten yang terdesak pun mengutus tiga Maulana yang berpangkat Tumenggung (pimpinan) untuk membuat perkampungan pertahanan di wilayah yang berbatasan dengan Batavia (Jakarta kala itu).

Ketiga Tumenggung yang diutus adalah Aria Yudhanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Jaya Santika. Mereka pun segera membangun basis pertahanan dan pemerintahan di wilayah yang kini dikenal sebagai kawasan Tigaraksa, agar wilayah tersebut tidak dikuasai Belanda.

Sayangnya, pemerintahan ”Tiga Maulana” itu tumbang pada tahun 1684, seiring dengan dibuatnya perjanjian antara Pasukan Belanda dengan Kesultanan Banten pada 17 April 1684. Perjanjian tersebut memaksa seluruh wilayah Tangerang masuk ke kekuasaan Penjajah Belanda. Kemudian, Belanda membentuk pemerintahan kabupaten yang lepas dari Kesultanan Banten di bawah pimpinan seorang bupati.

Para bupati yang pernah memimpin Kabupaten Tangerang di era pemerintahan Belanda pada periode tahun 1682-1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Jika merunut kepada legenda rakyat di atas, dapat disimpulkan bahwa cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksa. Nama Tigaraksa itu sendiri berarti ‘Tiang Tiga’ atau ‘Tilu Tanglu’, sebuah pemberian nama sebagai wujud penghormatan kepada tiga Tumenggung yang menjadi tiga pimpinan ketika itu.

Penamaan Tangerang

Terlepas dari terbentuknya Kabupaten Tangerang, penamaan daerah sendiri memiliki cerita yang sedikit berbeda . Dikisahkan, seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten, membangun tugu prasasti di bagian Barat Sungai Cisadane (saat ini diyakini berada di Kampung Gerendeng). Waktu itu, tugu yang dibangun Pangeran Soegri dinamakan sebagai Tangerang, yang dalam bahasa Sunda berarti ‘tanda’.

Prasasti yang tertera di tugu tersebut ditulis dalam huruf Arab ”gundul” berbahasa Jawa kuno. Bunyinya ”Bismillah pget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/Rengsena perang netek Nangaran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”.

Arti dari kalimat di atas adalah ”Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa/Dari Kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/untuk mempertahankan batas Timur Cipamungas (Cisadane) dan Barat Cidurian/Semua menjaga tanah kaum Parahyang”. Sebutan ‘Tangerang’ yang berarti ‘tanda’ itu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang, sebagaimana yang dikenal sekarang ini.

Jauh setelah kisah di atas berlalu, Kabupaten Tangerang sekarang telah berkembang pesat. Wilayah ini pun terdiri dari 29 kecamatan yang dibagi lagi atas 246 desa dan 28 kelurahan. Pusat pemerintahannya berada di Kecamatan Tigaraksa, daerah yang konon jadi cikal-bakal terbentuknya Kabupaten Tangerang itu sendiri.

Sementara selain Tigaraksa, adapun 28 kecamatan lain yang ada di Kabupaten Tangerang adalah Balaraja, Cikupa, Cisauk, Cisoka, Curug, Gunungkaler, Jambe, Jayanti, Kelapa Dua, Kemiri, Kosambi, Kresek, Kronjo, Legok, Mauk, Mekarbaru, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasarkemis, Rajeg, Sepatan, Sepatan Timur, Sindang Jaya, Solear, Sukadiri, Sukamulya, dan Teluk.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Mi yang Enak Menurut Pencerita Kuliner

Kuliner

Mi yang Enak Menurut Pencerita Kuliner

22 March 2019, 11:00  |  10 Views

Menurut pencerita kuliner Ade Putri Paramadita mi yang enak bergantung pada empat hal. Simak penjelasannya berikut ini.

Kasus Obesitas di Indonesia Banyak Dialami Usia Muda

Kesehatan

Kasus Obesitas di Indonesia Banyak Dialami Usia Muda

22 March 2019, 12:00  |  4 Views

Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan bahwa penduduk dewasa berusia di atas 18 tahun yang mengalami obesitas sebesar 21,8 persen dan meningkat dari tahun 2013.

Komunitas Pecinta Kura-kura Indonesia

Berita Kawasan

Komunitas Pecinta Kura-kura Indonesia, Bukan untuk Jual Beli

22 March 2019, 10:00  |  25 Views

Penjual hewan biasanya ikut komunitas hobi untuk bisa lebih dekat dengan konsumen. Tidak demikian di Komunitas Pecinta Kura-kura Indonesia yang melarang jual-beli.

Cara Mencegah Demensia Sejak Dini

Kesehatan

Cara Mencegah Demensia Sejak Dini

22 March 2019, 14:00  |  5 Views

Mencegah demensia sejak awal adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan untuk melindungi kesehatan otak. Tidak perlu menunggu hingga usia 65 tahun.


Comments


Please Login to leave a comment.

ads