ads
PLUIT_PENDIDIKAN_SEKOLAH DARURAT KARTINI TURUT MENCERDASKAN ANAK BANGSA_ICHWAN-01.jpg

Pendidikan

Sekolah Darurat Kartini Turut Mencerdaskan Anak Bangsa

Sekolah Darurat Kartini menjadi salah satu sekolah yang membantu anak-anak kurang mampu untuk bisa mengenyam pendidikan. Sekolah yang dibangun ibu kembar bernama Sri Irianingsih dan saudarinya Sri Rossyati ini membangun sekolah darurat pertama kali di kolong jembatan Pluit yang lokasinya tidak jauh dari Mega Mall Pluit pada 1996.

Pendirian sekolah darurat ini dapat dikatakan secara tidak sengaja. Cerita itu bermula saat Sri Irianingsih dan Sri Rossyati sedang berjalan-jalan ke wilayah Mega Mall Pluit. Sewaktu ingin pulang, di wilayah itu terjadi tawuran sehingga mobil yang dikendarainya dibelokkan ke arah kolong jembatan. “Saya berhenti di depan warung di bawah kolong. Sesampai di sana saya melihat, kok banyak sekali ya, ibu-ibu yang menganggur, duduk-duduk di gubuk-gubuk,” cerita Sri Irianingsih seperti dikutip dari jurnalperempuan.org.

Keduanya pun berbincang dan menawarkan ikut kursus menjahit. Tawaran itu disambut baik oleh ibu-ibu warga kolong jembatan Pluit, dan keesokkan harinya langsung membawa mesin jahit dan memberi kursus untuk ibu-ibu di sana. Kegundahan ibu guru kembar ini semakin bertambah melihat banyak anak-anak di kolong jembatan Pluit ini yang tidak bersekolah. “Dalam benak saya, kalau mereka tidak sekolah, bagaimana bangsa Indonesia mau maju?” ucap Sri Irianingsih.

Ibu guru kembar ini benar-benar mewujudkannya dengan meluangkan waktu menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kolong jembatan Pluit. Sri Irianingsih mengisahkan awalnya Sekolah Darurat Kartini hanya menggunakan kardus. Namun lama kelamaan, minat anak-anak bersekolah di lokasi ini cukup banyak. Setelah enam bulan berjalan, sedikit demi sedikit Sri Irianingsih dan Sri Rossyati mulai membangun kelas sederhana hingga akhirnya sampai sekarang.

Entah berapa banyak materi yang harus dikeluarkan oleh Sri Irianingsih dan Sri Rossyati untuk mendirikan Sekolah Darurat Kartini ini. Namun bagi keduanya dengan ringan hati mengeluarkan dana pribadi untuk membeli seluruh perlengkapan sekolah mulai dari seragam, buku, alat tulis hingga peralatan sekolah lainnya.

Begitu juga dengan pendidikan keterampilan khusus ibu-ibu. Ibu guru kembar ini juga menyediakan semua kebutuhannya. Ibu-ibu peserta kursus hanya diminta fokus untuk berlatih dan bekerja. Bahkan tidak segan-segan, Sri Irianingsih dan Sri Rossyati memberikan modal agar peserta didik bisa berdaya.

Kini, selain Sekolah Darurat Kartini dan kursus keterampilan yang ada di kolong jembatan Pluit, Sekolah Darurat Kartini di Jakarta Utara juga ada di dua lokasi lainnya yakni kolong tol Lodan Jakarta Utara dan kolong jembatan Rawa Bebek Jakarta Utara. Sementara di Jakarta Barat, ada dua lokasi Sekolah Darurat Kartini yaitu di kolong jembatan Tambora Jakarta Barat, pinggir rel kereta api Kampung Janis Jakarta Barat.

Inspirasi Sri Irianingsih dan Sri Rossyati dalam mendirikan Sekolah Darurat Kartini mendapat apresiasi dengan diabadikan dalam sebuah film dokumenter berjudul “Dua Mawar Merah”. Film perjalanan dan perjuangan ibu guru kembar ini telah diputar pada Februari 2018 lalu. “Dalam hidup kita harus ada pembiasakan untuk berbuat baik, seperti yang kita lakukan kepada adik-adik kolong jembatan itu,” kata Sri Irianingsih seperti dikutip dari okezone.com, Kamis (15/2/2018).

Sosok Pendiri Sekolah Darurat Kartini

Berdirinya Sekolah Darurat Kartini tidak bisa dilepaskan dari peran ibu kembar bernama Sri Irianingsih dan Sri Rossyati. Keduanya lahir di Semarang, 4 Februari 1950. Sri Rossyati lahir lebih dahulu lima menit dari Sri Irianingsih. Keduanya merupakan anak keenam dan ketujuh dari sembilan bersaudara. Kepedulian pada dunia pendidikan tidak lepas dari latar belakang keluarga yang juga sebagian besar adalah guru dan dosen.

Sri Rossyati adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Pernikahannya denga seorang dokter dikaruniai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Sementara Sri Irianingsih adalah alumni Fakultas Bahasa IKIP Semarang, Jawa Tengah. Pernikahannya dengan seorang Laksamana Laut dikaruniai dua orang anak, laki- laki dan perempuan.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Kasus Obesitas Bisa Ditangani dengan Bedah Bariatrik

Kesehatan

Kasus Obesitas Bisa Ditangani dengan Bedah Bariatrik

21 March 2019, 18:00  |  8 Views

Tindakan bedah bariatrik ini dapat dilakukan apabila pasien sudah dikategorikan sebagai obesitas morbid dan memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi.

Juara Futsal Kecamatan Pasar Minggu Siap Tampil di FORST Tingkat Kota

Berita Kawasan

Juara Futsal, Pasar Minggu Siap Tampil di FORST Tingkat Kota

21 March 2019, 12:00  |  15 Views

Tiga kelurahan di Pasar Minggu menjadi juara dalam kategori futsal dari usia yang berbeda dan mereka siap tampil di FORST Tingkat Kota.

ThisAble Enterprise Berdayakan Ekonomi Disabilitas Dengan Pelatihan

Bisnis

ThisAble Enterprise Berdayakan Ekonomi Disabilitas Dengan Pelatihan

21 March 2019, 17:00  |  4 Views

Keterbatasan bukanlah menjadi pembatas. Hal itulah yang menjadi semangat ThisAble Enterprise untuk terus berdayakan ekonomi disabilitas.

Platform MadingSekolah.id Berguna untuk Seluruh Pelajar Indonesia

Pendidikan

Platform MadingSekolah.id Berguna untuk Seluruh Pelajar Indonesia

21 March 2019, 14:00  |  16 Views

Kini seluruh pelajar di Indonesia bisa berkreativitas di mading yang telah memiliki platform madingsekolah.id yang bisa dibaca dan diunggah dimana pun dan kapan pun.


Comments


Please Login to leave a comment.

ads