Sekolah Pribumi Pertama di Batavia Ada di Cikini

Berita Kawasan

Sekolah Pribumi Pertama di Batavia Ada di Cikini

Cikini, di era modern ini terkenal keberadaaannya karena stasiun kereta dan juga Taman Ismail Marzuki yang memang menjadi pusat kebudayaan di kota Jakarta. Namun di masa lampau, Cikini merupakan salah satu kawasan yang menyimpan banyak sejarah. Berlokasi di Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat, Cikini sejak zaman dulu terkenal sebagai tempat wisata bersejarah seperti Kota Tua yang berada di kawasan Jakarta Barat. Banyak gedung peninggalan Belanda yang masih tetap dipertahankan sampai dengan saat ini. Salah satunya adalah gedung sekolah yang kini bernama Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Jakarta.

[Baca Juga: Menilik Sekolah Aman Bencana di Pulau Tidung]

Terletak di jalan Jl. Cikini Raya No.87, sekolah ini dulunya bernama De Eerste School yang merupakan sekolah pertama bagi para pribumi di Batavia milik Pemerintah Hindia-Belanda. Sekolah yang dibangun pada tahun 1907 ini masih mempertahankan keaslian bentuk gedungnya dimana pada bagian dalam, gaya arsitektur Belanda mendominasi di setiap bagian bangunan.

Sekolah Pribumi Pertama di Batavia Ada di Cikini

Di zaman Belanda, De Eerste School adalah sekolah setingkat Sekolah Dasar (SD). Muridnya adalah seorang pribumi asli yang merupakan anak bangsawan, tokoh terkemuka atau siapa saja para pekerja yang memiliki gaji di di atas 100 Gulden per bulan. Di De Eerste School murid menghabiskan waktu selama 7 tahun. Setelah itu para murid melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setara SMP selama tiga tahun dan kemudian berlanjut ke Algemeene Middelbare School (AMS) alias SMA selama tiga tahun sebelum masuk kuliah.

Meski sebagian besar diisi oleh pribumi, bahasa pengantar di sekolah tersebut menggunakan bahasa Belanda. Selain itu, di setiap upacara, seluruh murid beserta guru-guru menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus van Nassau sambil mengibarkan bendera Merah-putih-Biru.

[Baca Juga: Wisata Budaya Jakarta, Alternatif Liburan Edukatif yang Bermanfaat]

Dibangunnya gedung yang berdiri di atas tanah seluas 5.190 meter ini tidak lepas dari politik balas budi terhadap pemerintah Belanda. Selain itu, dibangunnya gedung ini juga sekaligus sebagai upaya menyiapkan tenaga terdidik dalam mengisi sejumlah posisi jabatan di pemerintahan. Keberadaan sekolah ini pun kemudian melahirkan sejumlah tokoh pergerakan nasional. Di tahun 1947, Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih gedung tersebut untuk digunakan sebagai sekolah dan mengganti namanya menjadi SMP Negeri 1 Jakarta.

Read More

Artikel Lainnya

Ingin Kurus? Jangan Coba-coba Makan Ini di Malam Hari

Kesehatan

Ingin Kurus? Jangan Coba-coba Makan Ini di Malam Hari!

10 December 2019, 18:00

Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung kalori saat malam hari akan membuat berat badan naik. Ingin kurus? hindari jenis makanan ini jelang tidur!

Avrist Senang dengan Hasil Program Avrist Warrior Woman

Bisnis

Avrist Senang dengan Hasil Program Avrist Warrior Woman

10 December 2019, 17:00

Melihat antusiasme serta perkembangan bisnis peserta Avrist Warrior Woman, perusahaan Avrist menilai program CSR ini sukses.

Pedagang Pakaian Bekas di Pasar Senen Direlokasi

Berita Kawasan

Pedagang Pakaian Bekas di Pasar Senen Direlokasi

10 December 2019, 16:00

Dalam rangka menata trotoar di Jalan Raya Senen, Pemkot Jakarta Pusat relokasi para pedagang pakaian bekas.

Ular Sanca Besar Ditangkap Petugas Kelurahan Kebagusan

Berita Kawasan

Ular Sanca Besar Ditangkap Petugas Kelurahan Kebagusan

10 December 2019, 15:00

Warga Kelurahan Kebagusan baru-baru ini dikejutkan dengan kemunculan ular yang panjangnya lebih dari satu meter. Petugas pun sigap menangkapnya.


Comments


Please Login to leave a comment.