Minyak Jelantah

Berita Kawasan

Semarang Pilah Sampah, Selamatkan Lingkungan Berbasis Minyak Jelantah

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu pada acara HPSN 2021 memberi contoh pada masyarakat bagaimana cara memilah sampah secara umum yang terdiri dari tiga jenis pilah, antara lain jenis sampah plastik, kertas, dan metal atau logam agar program Semarang pilah sampah menjadi gerakan di Kota Semarang.

Apalagi walikota memiliki kebijakan strategi daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, yakni mengurangi jumlah produksi sampah menggunakan prinsip 3R. Upaya yang dilakukan untuk menguranginya adalah dengan mengelola sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga agar tidak terbuang sembarangan, terutama di badan- badan saluran pembuangan air.

Wakil Walikota Semarang memberikan contoh cara memilah sampah rumah tangga

Padahal selain ketiga jenis pilah sampah di atas, ada juga jenis sampah dan limbah yang kita biasa buang di saluran pembuangan air yakni minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak bekas pakai menggoreng yang telah berwarna kehitaman akibat telah dipakai berkali- kali, sehingga penggunaan minyak tersebut sudah tidak bisa dipakai untuk menggoreng lagi. Yang terjadi kemudian adalah beberapa rumah tangga membuang minyak jelantah ini di saluran pembuangan air. Walaupun demikian, ternyata membuang minyak jelantah pada saluran pembuangan air bisa berdampak buruk bagi lingkungan.

Lantas apa dampak membuang minyak jelantah ke saluran pembuangan? Ahli Toksikologi Kimia dari Universitas Indonesia (UI), Budiawan mengungkapkan bahwa minyak goreng bekas pakai sebaiknya diperlakukan sebagai limbah dan tidak boleh dibuang sembarangan.

“Minyak goreng bekas pakai atau jelantah sepatutnya diperlakukan sebagai limbah dan tidak boleh dibuang sembarangan ke selokan karena akan menghasilkan bau tidak sedap dan tidak sehat,” ujar Budiawan

[Baca Juga: Semarang Pilah Sampah, Edukasi Pengelolaan Sampah Masa Pandemi]

Menurut Budiawan, bau tidak sedap ini kemungkinan berasal dari terurainya minyak jelantah menjadi senyawa kimia lain yang menjadi penyebab bau dan membuat perubahan warna. Biasanya limbah yang berubah ini menjadi warna kuning kecokelatan, bahkan hitam. Hal inilah yang membuat lingkungan menjadi kurang indah

Meskipun demikian, Budiawan mengatakan alternatif yang aman untuk membuang minyak jelantah yakni dengan mengumpulkan minyak tersebut dan dikelola oleh pihak ketiga sesuai dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Sebaiknya dikumpulkan ke pengepul dan dikelola oleh pihak ketiga sesuai ketentuan atau kebijakan KLHK untuk pengelolaan pembuangan limbah,” ujar Budiawan lagi

Upaya penanganan limbah minyak jelantah inilah yang ditekuni oleh Aris sebagai pengepul minyak jelantah di Kota Semarang. Berdasarkan informasi yang dia bagi kepada tim redaksi Pingpoint.co.id, Kamis (25/3/2021) jika dia melayani pembelian minyak jelantah dari bank sampah dan warung indomie yang tersebar di Kecamatan Ngaliyan, Tembalang, dan Gunungpati. Sekedar diketahui di ketiga kecamatan itu memiliki usaha mikro kecil yang bergerak pada makanan buatan rumah yang hampir semua digoreng. Tentunya hal ini menimbulkan potensi limbah minyak yang cukup banyak. Kecamatan Nyaliyan termasuk wilayah kawasan industri dan wilayah kawasan padat penduduk. Di samping itu, kecamatan Tembalang dan Gunungpati banyak berdiri warung indomie karena dekat dengan wilayah kampus, selain itu juga termasuk kawasan padat penduduk.

[Baca Juga: Semarang Pilah Sampah, Solusi Cegah Sumbatan Drainase]

Jika melihat contoh di atas, tentu saja kita berharap agar program Semarang pilah sampah dapat mengoptimalisasi jenis pilah sampah tidak hanya pada jenis sampah seperti plastik, kertas, dan metal atau logam yang bisa dijual lalu ditabung dan ditukar dengan uang di bank sampah. Namun, minyak jelantah pun bisa jadi rupiah.

“Minyak jelantah yang kami beli, dihargai tigaribu rupiah per satu kilogram,” ujar Aris.

Singkat kata, pengelolaan sampah dan limbah minyak jelantah ternyata juga bisa memberdayakan masyarakat Kota Semarang untuk mengelolanya menjadi penghasilan. Sehingga pemerintah bisa menghimbau ibu- ibu jika selesai masak, maka jangan membuang minyak jelantah ke saluran pembuangan air. Lebih baik disimpan dan setelah itu bisa disetor ke bank sampah karena minyak jelantah bisa ditabung dan menghasilkan uang.

Selain itu, dengan masyarakat turut mendukung dan berpartisipasi dalam mengatasi sampah dan limbah, maka kebersihan lingkungan pasti terjaga.


Read More

Artikel Lainnya

Berupaya Dapatkan Pendanaan serta Coaching, 120 Tim Ikut Proses Hackaton IDPB MTPM

Bisnis

Berupaya Dapatkan Pendanaan serta Coaching, 120 Tim Ikut Proses Hackaton IDPB MTPM

05 December 2022, 16:14

Inisiatif East Ventures melalui IDPB MTPM saat ini telah mencapai tahap coaching serta hackaton dengan total ada 120 tim yang mengikutinya.

Tingkatkan Kepedulian Sungai di Jakarta, Festival Dayung Ciliwung 2022 Digelar.jpg

Berita Kawasan

Tingkatkan Kepedulian Sungai di Jakarta, Festival Dayung Ciliwung 2022 Digelar

05 December 2022, 14:15

Festival Dayung Ciliwung 2022 berhasil digelar pada akhir pekan kemarin yang disebut digelar untuk meningkatkan kepedulian publik Ibu Kota untuk menjaga lingkungan sungai.

Dorong Kualitas Industri Kopi, Jakart a Barista League 2022 Sukses Digelar.jpg

Berita Kawasan

Dorong Kualitas Industri Kopi, Jakarta Barista League 2022 Sukses Digelar

05 December 2022, 10:14

Pada akhir pekan kemarin, Pemprov DKI Jakarta sukses menggelar event Jakarta Barista League 2022 yang menjadi wadah kompetisi bagi para barista dari berbagai wilayah Tanah Air.

Setu Babakan Jadi Lokasi Temu Nasional Seni Budaya Muslimin Indonesia 2022.jpg

Berita Kawasan

Setu Babakan Jadi Lokasi Temu Nasional Seni Budaya Muslimin Indonesia 2022

02 December 2022, 18:12

Lesbumi-NU mulai hari ini hingga 3 Desember 2022 menjadikan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan sebagai ‘rumah’ rakornas sekaligus Temu Nasional Ses Budaya Muslimin Indonesia 2022.


Comments


Please Login to leave a comment.