Ilmuwan Dunia Berlomba-lomba Temukan Vaksin COVID-19

Kesehatan

Sembuh dari COVID-19, Ternyata Bisa Tertular Lagi. Ini Penjelasannya

Ada fenomena menarik yang sedang dibahas beberapa penelitian penguji vaksin. Banyak orang yang telah sembuh dari positif COVID-19, lalu kembali menunjukkan gejala-gejalanya. Kemungkinan, Virus Corona tidak aktif di dalamnya, tetapi respons kekebalan yang lebih lemah dapat membangkitkannya kembali.

Para peneliti sedang mencoba memahami alasan mengapa hal itu terjadi untuk mengurangi wabah baru dan menyusun kebijakan untuk mengurangi pembatasan jarak sosial.

Melansir laman bgr.com (21/04/2020). Profesor Universitas Oxford Sarah Gilbert mengatakan, kekebalan yang disebabkan infeksi mungkin tidak akan bertahan dalam durasi yang sama seperti kekebalan yang disebabkan vaksin.

[Baca Juga: Peneliti Uji Vaksin TBC untuk Menanggulangi COVID-19]

Lebih lanjut, Profesor Gilbert mengungkapkan, jika seseorang positif COVID-19, kemungkinan mereka dapat terinfeksi kembali di masa depan bukan dalam waktu yang dekat. Tidak jelas berapa lama kekebalan yang disebabkan infeksi berlangsung, tetapi profesor Gilbert berspekulasi dalam jangka beberapa tahun. Jika itu ternyata akurat, maka para penyintas COVID-19 harus kebal terhadap penyakit sampai vaksin tersedia secara luas.

Vaksin Universitas Oxford hanyalah satu dari lebih dari 70 kandidat yang juga tengah menyiapkan vaksi. Dan, masyarakat umum kemungkinan harus menunggu hingga 18 bulan untuk mendapatkannya.

Profesor Gilbert juga mengatakan, virus corona tidak meninggalkan respons kekebalan yang kuat. Ini yang menjelaskan mengapa seseorang tertular penyakit lagi. Hal yang sama berlaku untuk COVID-19 dan virus corona jenis lain. Namun jangan takut, dengan adanya vaksin, seharusnya efek yang dihasilkan lebih tahan lama.

Menerka Sifat Virus Corona Baru di Masa Mendatang

Oxford menggunakan virus berbeda untuk membuat vaksin COVID-19. “Dengan adenovirus yang kami gunakan untuk membuat vaksin, Anda mendapatkan respons kekebalan yang kuat, dan mereka bertahan pada tingkat tinggi untuk jangka waktu yang lama,” ungkap Profesor Gilbert.

Dirinya menambahkan, dengan kandidat vaksin MERS-nya, ada respons kekebalan yang kuat sekitar satu tahun. Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk melihat berapa lama kekebalan COVID-19 bertahan. Namun, profesor Gilbert menyarankan, seseorang tidak memerlukan inokulasi baru untuk COVID-19 setiap tahun, seperti halnya dengan vaksin flu.

“Dibutuhkan lebih banyak penelitian dan terlalu dini untuk mengatakan kandidat vaksin mana yang paling efektif untuk mencegah infeksi COVID-19,” tandasnya.


Read More

Artikel Lainnya

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo.jpg

Hobi dan Hiburan

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo

23 September 2022, 15:57

Setelah sukses digelar di Candi Prambanan, konser Dewa 19 yang menghadirkan full team akan kembali manggung bersama dan kali ini digelar di wilayah Solo.

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim.jpg

Bisnis

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim

23 September 2022, 13:56

Baru-baru ini Amartha dan BPR Jatim resmi berkolaborasi dalam upaya menyalurkan Rp250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis perempuan pengusaha mikro di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIVAIDS.jpg

Kesehatan

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIV/AIDS

23 September 2022, 11:54

Setelah bulan lalu sempat ramai pembahasan kabar ribuan orang di Kota Bandung yang menderita HIV/AIDS, pakar Universitas Padjadjaran memberikan masukan terkait metode pencegahannya, khususnya di wilayah kampus.

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition Uncertainty

Hobi dan Hiburan

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition ‘Uncertainty’

22 September 2022, 18:20

Seniman muda Kota Malang, Bambang Suprapto, menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Uncertainty’ di Kedai Lantjar Djaya, Kota Malang.


Comments


Please Login to leave a comment.