Sudahkan Perangkat Medis Siap Menjelang Periode Puncak COVID-19.jpg

Kesehatan

Sudahkan Perangkat Medis Siap Menjelang Periode Puncak COVID-19?

Hingga Sabtu (28/3/2020) temuan kasus positif COVID-19 dalam skala nasional sudah menembus angka 1.155 kasus, dengan korban jiwa sebanyak 102 orang sedangkan pasien yang dinyatakan pulih 59 orang. Dari data tersebut, tercatat DKI Jakarta sebagai provinsi penyumbang kasus terbanyak. Yakni 603 kasus positif, dan 62 korban jiwa.

Data tersebut menunjukkan angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia dengan persentase 9 persen. Indonesia pun kini menjadi sorotan global, satu diantaranya adalah Pusat Permodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London Inggris. Permodelan ini mengkritisi tingginya persentase angka kematian di Indonesia, diduga hal ini disebabkan kurang agresifnya pemerintah melakukan pengetesan COVID-19.

[Baca Juga: Pemeriksaan Tes COVID-19 di LBM Eijkman Gratis, Apa Saja Syaratnya?]

Kekhawatiran yang sama disampaikan Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Menurut surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (27/3/2020) yang ditanda tangani Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Siti Setiati, fasilitas kesehatan di Indonesia tidak cukup mampu menangani lonjakan kasus COVID-19 ini. Prediksi ini berdasarkan penghitungan tingkat fatalitas kasus atau case fatality rate di Indonesia.

Saat dikirimkan, sambung Siti, jumlah korban jiwa masih 55 orang. Akan tetapi, berdasarkan persentase angka kematian yang tercatat per 28 Maret, dengan menggunakan rumus yang sama PingPoint menaksir kisaran jumlah kasus orang positif COVID-19 menembus angka 2.372 kasus.

Guru Besar FKUI Surati Pemerintah, Sarankan Local Lockdown

"Jumlah kematian sekarang 55, artinya jumlah kasus sebenarnya (55x100)/4,3=1.279 kasus. Sehingga, kemungkinan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini adalah sekitar 1.300 kasus," hitung Siti, berdasarkan data ketika jumlah kasus baru 55 orang.

Berangkat dari data dan pandangan tersebut, di atas kertas menunjukan keadaan Indonesia kini sangat mengkhawatirkan. Namun bagaimana fakta di lapangan? Berikut penjabaran hasil rangkuman PingPoint dari berbagai sumber.

Rasio Faskes Tidak Seimbang

Untuk fasilitas kesehatan, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), World Bank, hingga WHO kerap menilik data rasio jumlah ranjang di rumah sakit per 1.000 penduduk. Dari 43 negara yang diriset OECD, Indonesia berada di peringkat 41 dalam hal ketersediaan ranjang per 1.000 penduduk. Posisi itu hanya menempatkan Indonesia di atas India dan Kosta Rika.

"Indikator ini memberikan ukuran sumber daya yang tersedia untuk memberikan layanan kepada pasien rawat inap di rumah sakit dalam hal jumlah tempat tidur yang dirawat, dikelola, dan segera tersedia untuk digunakan," tulis OECD dalam situs resminya.

Sudahkan Perangkat Medis Siap Menjelang Periode Puncak COVID-19

Data Profil Kesehatan Indonesia 2018 yang dirilis Kemenkes, menunjukkan Indonesia punya 1,2 ranjang tiap 1.000 penduduk. Artinya, Indonesia sudah memenuhi standar secara umum. Masalahnya, persebaran tempat tidur yang tersedia tidak merata diseluruh provinsi.

Dari 34 provinsi, DKI Jakarta menempati posisi teratas, memiliki dua ranjang rumah sakit per 1.000 penduduk. Sementara, ada 8 provinsi yang rasionya berada di bawah standar WHO yakni Riau (0,98), Kalimantan Tengah (0,91), Sulawesi Barat (0,91), Lampung (0,91), Banten (0,87), Jawa Barat (0,85), NTT (0,81) dan NTB (0,71).

Defisit Tenaga Medis

Peneliti epidemiologi klinis FKUI-RSCM, dokter Tifauzia Tyassuma, memperkirakan faskes Indonesia tak akan bisa menahan gempuran corona. Terlebih, apabila pemerintah tidak melakukan perubahan drastis dalam kebijakannya, dan lebih menekankan pada upaya-upaya kuratif (penyembuhan) ketimbang antisipatif.

“Membangun rumah sakit darurat, membeli APD (alat pelindung diri), membeli obat yang belum ketahuan efektivitasnya, itu upaya kuratif. Sementara peningkatan kesadaran masyarakat atas COVID-19 sangat terbatas. Kalau begitu terus, faskes bisa ambruk pada kasus ke-1.000. Saya perkirakan paling lambat 10 hari dari sekarang,” bebernya sebagaimana dilansir kumparan.com.

[Baca Juga: Garda Depan Lawan COVID-19, Tim Medis Masih Butuh Banyak Bantuan]

Berdasarkan simulasi sejumlah peneliti ITB lewat permodelan Richards growth curve, kasus corona di Indonesia diprediksi mencapai puncaknya pada pertengahan April, bergeser dari perhitungan awal di akhir Maret. Pandemi itu diperkirakan baru akan berakhir awal Juni, sesudah Idul Fitri. Itu juga jika mobilitas penduduk tetap bisa dikendalikan. Seperti kita ketahui, Lebaran merupakan momen tahunan untuk bersilaturahmi massal.

Pada awal Juni mendatang diperkirakan estimasi penderita corona di Indonesia bisa mencapai 60.000 orang—sama seperti jumlah kasus di Italia saat ini. Sementara di akhir Maret ini, jumlah kasus diproyeksikan menyentuh angka 2.000.

Dari sisi tenaga medis, Indonesia kalah jauh dari Italia. Pada 2017, misalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Indonesia hanya memiliki empat dokter per 10.000 orang penduduk (3.777 dokter), sedangkan Italia punya dokter hampir 11 kali lipat dari Indonesia (40.931 dokter).

Sudahkan Perangkat Medis Siap Menjelang Periode Puncak COVID-19

Kondisi ini secara tak langsung diakui oleh pemerintah. Kamis (26/3/2020), koordinator relawan Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Andre Rahadian, saat konferensi pers di BNPB, mengungkapkan saat ini pemerintah membutuhkan bantuan para relawan untuk hadapi COVID-19. Dibutuhkan 1.500 dokter dan 2.500 perawat hingga sopir ambulans.

"Saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 1.500 dokter, terutama spesialis paru dan anestesi, dokter umum, pranata lab, sekitar 2.500 perawat, dan juga bagian administrasi rumah sakit sampai ke sopir ambulans," ungkapnya.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), World Bank, hingga WHO mendata rasio dokter di Indonesia tak mencapai 1 untuk setiap 1.000 penduduk. Sementara itu, jumlah perawat masih lebih baik, yakni 2 untuk setiap 1.000 penduduk.

Dengan kondisi semacam itu, menurut ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Budi Haryanto, Indonesia tak siap dengan kemungkinan lonjakan kasus di masa yang akan datang. "Rumah sakit di Indonesia tak siap untuk mendukung kasus yang akan terjadi. Penanganan akan terbatas," kata Budi seperti dilansir Reuters, Rabu (25/3/2020).

[Baca Juga: Wisma Atlet Kemayoran Bakal Jadi Lokasi Penanganan Pasien COVID-19]

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim melalui surat edarannya tentang Mobilasasi Relawan Mahasiswa untuk Penanganan COVID-19, menyerukan seluruh elemen mahasiswa dan akademisi untuk turun tangan membantu pemerintah menghadapi SARS-CoV-2 ini.

“Kita dalam situasi yang belum pernah dialami sebelumnya dan membutuhkan upaya sekuat tenaga untuk menangani situasi ini. Kami paham betul bahwa risiko terkait hal ini cukup besar, namun upaya ini tidaklah akan berhasil tanpa dukungan seluruh masyarakat, terutama bagi generasi muda yang memiliki talenta-talenta yang tepat. Tidak ada paksaan. Ini adalah gerakan sukarela. Negara membutuhkan pahlawan-pahlawan medis yang berjuang bersama demi masyarakat,” serunya.


Read More

Artikel Lainnya

Bulu Mata Menjulang dengan Maybelline Sky High Waterproof Mascara

Kecantikan dan Fashion

Bulu Mata Menjulang dengan Maybelline Sky High Waterproof Mascara

02 July 2022, 12:51

Maybelline Sky High Waterproof Mascara ini mengandung ekstrak bambu dan fiber yang dapat membantu memanjangkan dan menebalkan bulu mata.

Hadirkan Full Team, Tiket Konser Pre-sale 1 & 2 Dewa 19 di Candi Prambanan Ludes!.jpg

Hobi dan Hiburan

Hadirkan Full Team, Tiket Konser Pre-sale 1 & 2 Dewa 19 di Candi Prambanan Ludes!

01 July 2022, 15:58

Dengan kehadiran formasi lengkap, empat vokalis dan dua drummer di satu panggung, pemesanan tiket konser 30 Tahun Dewa 19 di Candi Pramabanan jenis pre-sale satu serta dua telah habis dengan tiket harga normal yang saat ini tersedia.

Melalui Flexi Hospital & Surgical, Astra Life Gaungkan Asuransi Kesehatan Cashles s.jpg

Bisnis

Melalui Flexi Hospital & Surgical, Astra Life Gaungkan Asuransi Kesehatan Cashless

01 July 2022, 14:44

Demi mengikuti tren digitalisasi serta iklim cashless yang bersifat kekinian, Astra Life juga memiliki produk asuransi kesehatan yang bersifat non-tunai.

Setelah Dihancurkan di Masa Penjajahan, Gapura Chinatown di Jakarta Kembali Berdiri.jpg

Berita Kawasan

Setelah Dihancurkan di Masa Penjajahan, Gapura Chinatown di Jakarta Kembali Berdiri

01 July 2022, 10:42

Baru-baru ini gapura Chinatown di kawasan Glodok Jakarta kembali diresmikan usai proyek restorasinya pasca-puluhan tahun yang lalu dihancurkan tentara Jepang.


Comments


Please Login to leave a comment.