Terkait Patokan Biaya Rapid Test COVID-19, RSPP Sambut Keputusan Kemenkes.jpg

Kesehatan

Terkait Patokan Biaya Rapid Test COVID-19, RSPP Sambut Keputusan Kemenkes

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak awal Juli 2020 telah mengeluarkan surat edaran yang mengatur biaya skrining tes cepat atau rapid test COVID-19. Dengan Kemenkes mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/2875/2020 yang mengatur batas maksimal biaya rapid test, yaitu Rp150.000.

Namun batasan ini sempat menjadi perbincangan warganet usai munculnya pandangan masih ada sejumlah rumah sakit yang mematok harga melewati ketentuan. Lantas bagaimana dengan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP)? Apakah rumah sakit ini mengikuti ketentuan dari Pemerintah?

Pihak RSPP sendiri menyatakan, justru mereka menyambut keputusan SE dari Kemenkes tersebut. Karena ini dipandang dapat meredakan kesimpangsiuran terkait berapa harga yang tepat untuk masyarakat yang ingin melakukan rapid test COVID-19. Pasalnya, rapid test masih kerap dilakukan guna berbagai keperluan dari masyarakat.

Terkait Patokan Biaya Rapid Test COVID-19, RSPP Sambut Keputusan Kemenkes .jpg

“Ketika kita mendapatkan itu (Surat Edaran Kemenkes), kita cuman satu mencari distributor (alat rapid test) yang mau memahami tentang keputusan pemerintah ini. Tapi yang kedua, kita senang sebenarnya. Senangnya karena sudah ada patokan harga dari pemerintah terhadap masyarakat,” ujar Wakil Direktur Medis RSPP dr. Asep S. Rochmat, Sp.PD, KGEH kepada PingPoint.co.id di RSPP, Jalan Kyai Maja No.43, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (27/7/2020).

Namun RSPP sendiri mengakui baru menerapkan patokan harga dari pemerintah secara menyeluruh pada pekan ini. Di mana awalnya ketika Surat Edaran Kemenkes itu dikeluarkan, RSPP memberlakukan kebijakan itu hanya kepada para pasien yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit yang harus menjalani rapid test. Namun saat itu untuk masyarakat umum yang memang ingin menjalani tes cepat COVID-19 ini, harganya masih di kisaran Rp290.000-an.

[Baca Juga: Kemudahan Layanan Rapid Test COVID-19 Lion Air Group Jangkau Semarang dan Kendal]

Menurut dr. Asep, alasan utama mengapa RSPP masih memberikan “harga lama” tersebut dipicu untuk menghabiskan stok alat rapid test COVID-19 yang dibeli pihaknya sebelum munculnya patokan biaya dari pemerintah. Namun setelah semua stok lama alat rapid test COVID-19 di RSPP habis, Wakil Direktur Medis RSPP menjelaskan, biaya tes cepat di rumah sakitnya mengikuti Surat Edaran Kemenkes Nomor HK.02.02/I/2875/2020.

“Kita menghabiskan stok yang Rp290.000 dulu, karena harga belinya berbeda. Kalau kita jual seharga itu (Rp150.000) tidak menutup biayanya. Nah, sekarang sudah habis, mulai minggu ini kita jual Rp150.000. Tapi Rp150.000 itu hanya sampai pada hasil yang bisa dilihat, kalau memang menggunakan tenaga yang lain, apalagi sampai ada surat keterangan dari dokter, itu akan ada biaya tambahan lagi. Tapi tambahannya tidak terlalu banyak, tidak sampai menjadi dua kali lipat, kalau kita hitung itu tertinggi sekitar Rp275.000,” tambahnya.

Read More

Artikel Lainnya

Pastikan Tak Ada Buaya, Damkar Kota Depok Sisir Kali Pesanggrahan.jpg

Berita Kawasan

Pastikan Tak Ada Buaya, Damkar Kota Depok Sisir Kali Pesanggrahan

06 August 2020, 19:00

Pekan ini Damkar Depok mengerahkan anggotanya untuk menyisir area Kali Pesanggarahan demi memastikan tak ada buaya yang berkeliaran.

Sate H.Romli, Sate RSPP yang Legendaris.jpg

Kuliner

Sate H.Romli, Sate RSPP yang Legendaris

06 August 2020, 18:00

Jika berbicara mengenai menu sate populer di kawasan Jakarta Selatan, maka warung Sate H. Romli atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sate RSPP bisa dipastikan sebagai salah satunya.

Ada Target Gula Darah untuk Pasien Diabetes Agar Terhindar Perparahan COVID-19

Kesehatan

Ada Target Gula Darah untuk Pasien Diabetes Agar Terhindar Perparahan COVID-19

06 August 2020, 16:50

Penyandang diabetes akan lebih rentan mengalami perparahan bahkan menyebabkan kematian jika terinfeksi COVID-19.

Apa yang Bisa Anda Persiapkan Hadapi Resesi Ekonomi 2020

Bisnis

Apa yang Bisa Anda Persiapkan Hadapi Resesi Ekonomi 2020?

06 August 2020, 15:30

Sektor industri, penurunan kinerja ekspor impor, dan tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa mengakibatkan peningkatan angka kemiskinan.


Comments


Please Login to leave a comment.