Tetap Berkarya Saat Pandemi, Warga Kepulauan Seribu Ini Ciptakan Karya dari Limbah.jpg

Bisnis

Tetap Berkarya Saat Pandemi, Warga Kepulauan Seribu Ini Ciptakan Karya dari Limbah

Tetap memiliki semangat untuk berkarya demi mencari pundi-pundi rupiah merupakan hal yang sangat dibutuhkan di masa pandemi COVID-19 ini. Apalagi wabah penyakit ini memiliki dampak terhadap perekonomian yang memicu lesunya berbagai sektor usaha di Tanah Air. Sehingga dorongan untuk terus bersemangat dalam mencari “sesuap nasi” untuk diri sendiri dan keluarga harus terus ada dalam diri. Mungkin inilah gambaran dari seorang warga dari Kepulauan Seribu bernama Harun dalam menghasilkan karya bernilai ekonomi.

Pria berusia 51 tahun yang tinggal di Pulau Kelapa tersebut berkarya dengan cara yang unik. Karena ia memanfaatkan limbah kayu menjadi karya yang dijual dengan nilai tinggi sebagai cenderamata. Kerajinan tangan yang dihasilkan pun dijual dalam berbagai ukuran dari yang mulai kecil hingga besar dengan target konsumen utamannya adalah para wisatawan yang datang ke kerama apung milik Harun.

Tetap Berkarya Saat Pandemi, Warga Kepulauan Seribu Ini Ciptakan Karya dari Limbah .jpg

Karya ukiran yang dibuat warga Kepulauan Seribu itu pun tak instan. Karena ia bereksperimen dulu hingga dapat menjadi karya yang bisa dijual. “Saya mencoba-coba untuk membuat souvenir, jika mereka bisa, pasti saya juga bisa, sehingga saya terus berekreasi dan berhasil. Bahkan sudah beberapa kali dan sudah beberapa juga orang berminat membeli,” jelas Harun, sebagaimana dikutip dari pulauseribu.jakarta.go.id (1/2/2021).

Menariknya, karya dari limbah kayu yang diciptakan Harun ini tak hanya untuknya sendiri. Karena ia juga menggandeng para tetangga serta kerabatnya untuk menjadi pengrajin demi menghasilkan ukiran seperti burung garuda, menara Eifflel, kapal pinisi, dan lainnya. Di mana bahan utama yang digunakannya adalah barang bekas, kayu yang hanyut di laut, bambu, daun pisang kering, sampai kayu bekas.

[Baca Juga: Dekrasnasda Jakarta Selatan Gelar Produk Unggulan Kerajinan Tangan]

Harga yang dipatok pun terbilang tinggi untuk setiap kerajinan tangan yang dijual. Pasalnya, angka setiap karyanya dibanderol di rentang harga jutaan rupiah. “Kita jual antara Rp1 juta hingga Rp3 juta tergantung besar, kecil, dan tingkat kesulitannya. Wisatawan mancanegara paling suka miniatur kapal untuk dibawa ke negaranya, seperti turis Prancis dan Belanda,” sambungnya.

Warga Kepulauan Seribu itu melanjutkan, kerajinan tangan yang diciptakan dirinya serta timnya memiliki kualitas yang tak kalah dengan masyarakat di wilayah darat. Selain untuk wisatawan yang datang ke keramba apung miliknya, pengenalan produk yang dihasilkan juga dilakukan dengan menghampiri para wisatawan yang sedang makan di restoran. “Kita manfaatkan masa pandemi ini untuk berkarya dan menghasilkan uang,” imbuhnya.


Read More

Artikel Lainnya

Picu Tsunami COVID-19 Akibat Varian Virus Baru Corona B1617

Kesehatan

COVID-19 Varian Delta Sudah Masuk, Pemda Belum Bisa Bedakan Antar Varian Baru

17 June 2021, 21:09

Salah satu varian Delta yang memberi andil besar terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Kudus Jawa Tengah.

Rekomendasi Tempat Makan Steak di Bandung 4.jpg

Kuliner

Rekomendasi Tempat Makan Steak di Bandung

17 June 2021, 19:07

Restoran steak di Bandung tersebar di mana-mana, mulai dari yang harganya terjangkau hingga tempat yang unik.

Wisma Makara UI Resmi Jadi Lokasi Isolasii OTG di Depok .jpg

Berita Kawasan

Kasus COVID-19 di Depok Mengalami lonjakan, Wisma Makara UI Penuh

17 June 2021, 18:30

Kasus COVID-19 mengalami peningkatan signifikan yang terjadi selama kurang lebih tiga pekan terakhir.

D'Lumpang

Kuliner

Menikmati Suasana Asri dan Hawa Dingin Kota Batu di Café D’Lumpang

17 June 2021, 18:06

Berlokasi di Jalan Anjasmoro, Bumiaji, Kota Batu, Café D’Lumpang menjadi salah satu pilihan café di Kota Batu yang menawarkan pemandangan yang indah.


Comments


Please Login to leave a comment.