7.jpg

Pendidikan

UI Salemba, Sejarah Kedokteran Indonesia

Nama Universitas Indonesia (UI) sebagai salah satu universitas ternama di Indonesia memiliki sejarah bagi perkembangan dunia kedokteran di Tanah Air. Warga Jakarta atau masyarakat Indonesia mengenal universitas ini dengan nama UI Salemba karena lokasi kampus kedokterannya berada di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Dalam sejarahnya, UI Salemba ini juga menjadi saksi sejarah perkembangan dunia medis kedokteran di Tanah air. Bila berbicara mengenai kampus ini khususnya Fakultas Kedokteran maka banyak cerita sejarah yang bisa didapat di era penjajahan Belanda untuk mengetahui perjuangan para akademisi medis Indonesia.

Pendirian pendidikan medis ini berawal pada 2 Januari 1849 di mana pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Surat Keputusan Gubernemen No. 22 yang menetapkan Rumah sakit Militer (sekarang RSPAD Gatot Subroto) sebagai tempat kursus juru kesehatan di Hindia Belanda. Hal tersebut baru direalisasikan pada Januari 1951, dengan ketentuan lama pendidikan medis di Sekolah Pendidikan Kedokteran selama dua tahun dan saat itu jumlah siswanya ada 12 orang.

Kemudian, pada 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan itu ditingkatkan kualitasnya dengan Surat Keputusan Gubernemen no. 10 menjadi Sekolah Dokter Djawa dengan masa pendidikan selama tiga tahun. Lulusannya pun berhak mendapat gelar Dokter Jawa akan tetapi lulusan sekolah ini dipekerjakan hanya sebagai mantri cacar.

Saat itu, visi pembentukan UI Salemba masih belum terbersit di benak rakyat Indonesia akibat pengaruh pendudukan Belanda. Namun, para dokter di Tanah Air masih terus berharap agar mereka diberikan tanggung jawab yang lebih dari sebagai mantri cacar.

Pada 1864, tepatnya ketika terjadinya perubahan dalam lamanya masa pendidikan dokter yang menjadi tiga tahun. Walau dengan perubahan ini dapat menghasilkan dokter yang mandiri, pengawasan dokter Belanda masih membayangi para Dokter Djawa. Perubahan dan penyempurnaan kurikulum pun terjadi pada studi Dokter Djawa. Hingga pada 1875, lama pendidikannya berubah menjadi 7 tahun dengan tambahan pembelajaran bahasa Belanda yang diterapkan sebagai lingua franca atau bahasa pengantar.

Transformasi pendidikan dunia kedokteran Tanah Air terjadi pada 1889 dengan adanya perubahan nama dari Sekolah Dokter Djawa menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Genneeskundingen atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi. Pengubahan nama kembali dilakukan sembilan tahun kemudian menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Pribumi.

Pada era STOVIA, lama menempuh pendidikan menjadi dokter berubah menjadi 9 tahun mulai 1 Maret 1902 yang bersamaan dengan adanya gedung sekolah kedokteran yang baru di area yang sekarang menjadi Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh 26. Lama pendidikan pun kembali mengalami penyesuaian pada 1913 dengan penentuan 10 tahun masa studi yang dibagi dengan tiga tahun perkenalan dan tujuh tahun pendidikan kedokteran.

Namun, selain waktu masa studi, pada 1913 terjadi perubahan dalam STOVIA. Perubahan itu merujuk kepada kata “Inlandsche” yang berarti pribumi dan diganti menjadi Indische atau Hindia. Perubahaan ini diperlukan karena STOVIA yang sebelumnya hanya menerima penduduk asli atau pribumi. Sedangkan pada tahun tersebut akhirnya menerima warga keturunan Eropa serta non-Eropa yang dikenal dengan istilah orang-orang Timur Asing.

Para akademisi dan praktisi Tanah Air pun menyambut kabar gembira kebijakan tersebut. Pada 9 Agustus 1927, pendidikan dokter telah resmi diakui sebagai pendidikan tinggi. Saat itu nama yang dipilih adalah Geneeskundige Hooge School yang berarti Sekolah Tinggi Kedokteran.

Perubahaan wajah pendidikan medis di Indonesia pun kembali mengalami perubahaan saat Jepang meruntuhkan Kolonialisme Belanda dan memulai masa pendudukannya di Tanah Air. Sistem pendidikan di Indonesia yang diubah oleh Jepang memicu berdirinya sekolah kedokteran bernama Ika Daigaku pada 29 April 1943.

Barulah pasca-Kemerdekaan Indonesia, pada 2 Februari 1950, citra dan “wajah” UI Salemba mulai dikenal saat dua institusi yang menjadi tiang pancang pendidikan medis di Tanah Air bersatu dan lahirlah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Saat itu FKUI menggunakan sarana pendidikan yang berada di Kompleksa Salemba 6 (lokasi UI Salemba), Pegangsaan Timur 16, Rumah Sakit Umum Pusat dan Rumah Sakit Raden Saleh.

Read More

Artikel Lainnya

Pemkab Bekasi Minta Jangan Ragu Tangani COVID-19 dengan Dana Desa

Berita Kawasan

Pemkab Bekasi Minta Jangan Ragu Tangani COVID-19 dengan Dana Desa

04 April 2020, 18:00

Bagi sektor ekonomi kerakyatan, serbuan wabah COVID-19 telah meninggalkan dampak yang signifikan. Ketahanan pangan di setiap desa pada Kabupaten Bekasi adalah prioritas yang harus segera tuntas.

Berdayakan Warga, Bupati Bogor Bentuk 3759 RW Siaga COVID-19

Berita Kawasan

Berdayakan Warga, Bupati Bogor Bentuk 3759 RW Siaga COVID-19

04 April 2020, 17:00

Wabah COVID-19 hanya bisa diatasi jika ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemkab Bogor ajak warga Bogor untuk siaga penuh bersama pemerintah.

Akibat COVID-19, Kegiatan Pemugaran 4 Stasiun Kereta Dihentikan

Berita Kawasan

Akibat COVID-19, Kegiatan Pemugaran 4 Stasiun Kereta Dihentikan

04 April 2020, 16:00

Jumlah kasus COVID-19 terus bertambah setiap harinya. Tak mau ambil risiko, Pemprov hentikan sementara penataan kawasan empat stasiun di Jakarta.

Cegah Penyebaran Covid-19, Buat Kartu Kuning di Depok Bisa Online

Berita Kawasan

Cegah Penyebaran COVID-19, Buat Kartu Kuning di Depok Bisa Online

04 April 2020, 15:00

Untuk menjalankan physical distancing, Disnaker Kota Depok memberlakukan sistem pembuatan kartu kuning secara online.


Comments


Please Login to leave a comment.