UNEP Waspada Permintaan Produk Hewani dan Potensi Wabah di Masa Depan

Kesehatan

UNEP: Waspada Permintaan Produk Hewani, Potensi Wabah Masa Depan

Dalam laporan terbarunya, Mencegah Wabah Selanjutnya: Penyakit Zoonosis dan Bagaimana Memutus Rantai Penularan yang dirilis pada 6 Juli 2020, para ahli Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperingatkan faktor seperti intensifikasi pertanian dan peternakan, peningkatan permintaan protein hewani, serta deforestasi dan perubahan iklim dapat menyebabkan munculnya wabah baru yang berasal dari hewan sebelum ditularkan ke manusia, seperti kasus yang terjadi pada virus corona saat ini.

“Faktor-faktor tersebut merusak habitat alami dan memperlihatkan eksploitasi yang dilakukan oleh manusia ke spesies lain, yang membuat manusia semakin dekat dengan sumber penyakit. Jika telah ditularkan pada manusia, penyakit tersebut dapat menyebar cepat dalam dunia yang saling terhubung saat ini, seperti yang kita lihat terjadi pada kasus COVID-19”, ungkap Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen dalam rilis yang diterima PingPoint.co.id (8/9/2020).

UNEP Waspada Permintaan Produk Hewani dan Potensi Wabah di Masa Depan

Laporan tersebut menjelaskan bagaimana hewan seperti sapi, babi, dan ayam, sering dibesarkan dalam kondisi yang “tidak ideal” dalam level produksi yang tinggi serta cenderung serupa secara genetik, sehingga sangat rentan mengalami infeksi dibandingkan dalam populasi yang lebih beragam. Lebih parahnya lagi, mayoritas hewan ternak saat ini dibesarkan dalam peternakan pabrikasi, fasilitas yang dirancang untuk mengurung ribuan hewan dalam satu tempat dan tidak memberi ruang untuk adanya jarak fisik antar satu hewan dengan yang lainya.

Di banyak negara berkembang, seperti Indonesia, UNEP menyebutkan bahwa terdapat peningkatan tajam terhadap konsumsi produk hewani, yang membuat produksi daging meningkat sebesar 260 persen dan telur 360 persen secara global dalam 50 tahun terakhir.

[Baca Juga: Zoonosis, Kata yang Jadi Akrab di Telinga Kala Pandemi COVID-19]

Tidak pula mengagetkan, menurut laporan tersebut, “Sejak tahun 1940, usaha dalam melakukan intensifikasi pertanian dan peternakan seperti, waduk, proyek irigasi, dan peternakan pabrikasi telah dikaitkan dengan lebih dari 25 persen dari semua penyakit–serta lebih dari 50 persen dari penyakit zoonosis–menular yang telah muncul ke manusia.”

UNEP juga menekankan adanya faktor risiko tambahan di negara berkembang, karena seringkali produksi hewan ternak berada di dekat kota, praktik biosekuriti dan peternakan yang dilakukan sering tidak memadai, limbah peternakan sering tidak dikelola dengan baik, juga obat antimikroba yang sering digunakan untuk menjadi tameng kondisi atau praktik yang buruk.

Kerusakan Lingkungan & Peternakan Hewan Liar

Selain itu, industri peternakan juga menjadi salah satu penyebab utama rusaknya lingkungan. “Sekitar sepertiga lahan pertanian digunakan untuk pakan hewan. Di beberapa negara hal ini menjadi faktor yang menyebabkan deforestasi”, ungkap UNEP. Deforestasi memainkan peran utama yang memperparah perubahan iklim, satu faktor yang meningkatkan resiko wabah. Pengrusakan hutan juga diasosiasikan dengan peningkatan penyakit menular seperti demam berdarah, malaria, dan penyakit penyakit kuning.

Zoonosis, Kata yang Jadi Akrab di Telinga Kala Pandemi COVID-19

Laporan tersebut juga melihat fakta bahwa bukan hanya peningkatan permintaan daging tradisional saja yang tumbuh, namun juga permintaan daging untuk hewan liar, yang menyebabkan spesies baru diternakkan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menjelaskan munculnya SARS-CoV dan SARS-COV-2 di Asia Timur serta, penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) yang ditularkan melalui unta ke manusia, yang mengalami transisi produksi unta dari ekstensif ke sistem produksi intensif. Di mana awal mulanya diidentifikasi terjadi di Arab Saudi, yang sekarang telah menyebar ke 27 negara.

Advokasi Pola Makan Berbasis Nabati

Hasil temuan PBB, sangat didukung oleh Act for Farmed Animals, LSM yang mengadvokasi pola makan berbasis nabati. ”Kita tentunya akan hidup lebih berkelanjutan dan aman jika bukan karena protein hewani. Kita tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada sistem pangan yang mengancam ekosistem dan kesehatan kita,” ungkap Manajer Kampanye di Sinergia Animal Dian Pitaloka masih dari sumber yang sama.

[Baca Juga: Potensi Zoonosis dalam Sistem Kandang Baterai Peternakan Ayam Petelur]

LSM Act for Farmed Animals meluncurkan kampanye Sebelum Terlambat yang meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil aksi dalam mencegah wabah di masa depan dengan menghentikan deforestasi, menyetop penggunaan tidak bertanggung jawab obat-obatan yang digunakan di peternakan hewan dan mengubah sistem pangan yang tidak terlalu bergantung pada operasi intensif peternakan. Klik di sini untuk melihatnya.

Hal yang sama dilakukan oleh UNEP dengan pendekatan one health, sebagai metode yang menekankan pada pemahaman hubungan yang kompleks antara lingkungan, keanekaragaman hayati, masyarakat, dan penyakit manusia dengan menyatukan kesehatan publik, serta ilmu kedokteran hewan dan juga lingkungan. Hal tersebut penting, menurut PBB, bukan hanya untuk merespons wabah masa depan juga untuk mencegah wabah baru.


Read More

Artikel Lainnya

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo.jpg

Hobi dan Hiburan

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo

23 September 2022, 15:57

Setelah sukses digelar di Candi Prambanan, konser Dewa 19 yang menghadirkan full team akan kembali manggung bersama dan kali ini digelar di wilayah Solo.

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim.jpg

Bisnis

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim

23 September 2022, 13:56

Baru-baru ini Amartha dan BPR Jatim resmi berkolaborasi dalam upaya menyalurkan Rp250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis perempuan pengusaha mikro di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIVAIDS.jpg

Kesehatan

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIV/AIDS

23 September 2022, 11:54

Setelah bulan lalu sempat ramai pembahasan kabar ribuan orang di Kota Bandung yang menderita HIV/AIDS, pakar Universitas Padjadjaran memberikan masukan terkait metode pencegahannya, khususnya di wilayah kampus.

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition Uncertainty

Hobi dan Hiburan

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition ‘Uncertainty’

22 September 2022, 18:20

Seniman muda Kota Malang, Bambang Suprapto, menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Uncertainty’ di Kedai Lantjar Djaya, Kota Malang.


Comments


Please Login to leave a comment.