Upaya Kementerian KPPPA Hapus Bias Gender Lewat Buku Mata Kuliah

Pendidikan

Upaya Kementerian KPPPA Hapus Bias Gender Lewat Buku Mata Kuliah

Persoalan bias gender dalam kurikulum dunia pendidikan masih ditemui sampai saat ini, tak terkecuali dalam institusi perguruan tinggi. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), setidaknya masih ada materi pembelajaran bias gender yang tersebar di tiga ribu perguruan tinggi di Indonesia. Sepertiga atau sembilan ratus diantaranya, merupakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Menteri PPPA Bintang Puspayoga mengatakan, konstruksi bias gender juga dijumpai dalam buku rujukan yang digunakan untuk pembelajaran, metode yang diterapkan, atau pun elaborasi pemahaman yang disampaikan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dapat berdampak pada pola pikir dan sikap mahasiswa.

Upaya Kementerian KPPPA Hapus Bias Gender Lewat Buku Mata Kuliah

“Nilai-nilai kurang responsif gender masih dapat ditemui dalam proses belajar mengajar di kampus. Konstruksi gender yang bias juga masih dijumpai dalam referensi yang digunakan dalam pembelajaran, metode yang diterapkan, atau pun elaborasi pemahaman yang disampaikan dalam proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada cara pandang, sikap, dan pengambilan keputusan mahasiswa,” tutur Menteri PPPA, Bintang Puspayoga, dalam siaran pers yang diterima PingPoint.co.id (5/3/2020).

Atas kondisi tersebut, pemerintah kemudian berupaya membangun kesadaran gender dalam dunia akademik melalui buku mata kuliah. Peluncuran buku yang responsif gender ini dilakukan melalui kerjasama KPPPA dengan Kementerian Agama dan sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Bintang mengatakan adanya penyusunan bahan ajar yang responsif gender diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang sejalan dengan keadilan dan kesetaraan gender.

[Baca Juga: KPPPA: Pemda Perlu Perkuat Upaya Pencegahan Pelanggaran Hak Anak]

“Penyusunan bahan ajar yang responsif gender diharapkan mampu membentuk pola pikir yang mampu membentuk tingkah laku keseharian yang non-diskriminatif, adil, setara, serta memperhatikan aspek kebutuhan laki-laki dan perempuan,” katanya.

Perlu Upaya Kolektif

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat PTKI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suwendi. Menurutnya, adanya masalah tersebut tak terlepas dari materi pembelajaran sebelumnya yang sarat akan bias gender.

Sementara itu, Ahli bidang Hukum Keluarga Islam Perspektif Gender sekaligus Dosen UIN Jakarta Musdah Mulia mengatakan, untuk mewujudkan keadilan gender merupakan persoalan kolektif. Oleh karena itu, menurutnya untuk melakukan rekonstruksi budaya dapat dilakukan melalui pendidikan.

[Baca Juga: Ini 6 Tuntutan Aliansi Masyarakat Sipil di Hari Perempuan Internasional]

Dia mengatakan, pendidik atau dosen seharusnya tidak mengindoktrinasi. Menurutnya, dosen seharusnya mengajarkan keilmuan dengan proses dialektika dan analisis sosial. Sebab, tugas dosen adalah mencerdaskan kehidupan intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik.

“Jadi kita bukan pendakwah. Peluncuran buku ini adalah kerja intelektual dan langkah awal untuk membangun perspektif gender dan merupakan langkah yang progresif,” terang Musdah.


Read More

Artikel Lainnya

carro_1.jpg

Bisnis

Gerai CARRO di PRJ Suguhkan Pengalaman Menarik Beli Mobil Bekas

06 July 2022, 17:00

CARRO memiliki harapan untuk dapat semakin menjangkau masyarakat luas melalui layanan pembelian mobil bekas yang berkualitas.

Kedai Ini Hadirkan Sajian Kopi Butter di Pasar Kranggan Yogyakarta.jpg

Kuliner

Kedai Ini Hadirkan Sajian Kopi Butter di Pasar Kranggan Yogyakarta

05 July 2022, 17:48

Kedai Terang Bintang di Pasar Kranggan Yogyakarta memiliki menu yang bisa dikatakan masih jarang ditemukan di kedai kopi lainnya di Kota Gudeg, yakni kopi butter.

Tak Sampai 1,5 Juta, realme Kembali Hadirkan Smartphone yang Ramah di Kantung.jpg

Bisnis

Tak Sampai 1,5 Juta, realme Kembali Hadirkan Smartphone Ramah Kantong

05 July 2022, 13:47

Perusahaan realme terus menggandeng para konsumennya yang menginginkan ponsel pintar dengan harga terjangkau dan kali ini hal itu direalisasikan melalui produk realme C30.

Tiga Mahasiswi ITB Menangi L’Oréal Brandstorm 2022 Global Tech Track

Pendidikan

3 Mahasiswi ITB Ini Berhasil Sabet Juara L’Oreal Brandstorm 2022 'Tech Track'

05 July 2022, 11:44

Para mahasiswi ITB berhasil membanggakan almamaternya usai meraih gelar juara di salah satu kategori kompetisi tingkat global L’Oreal Brandstorm 2022.


Comments


Please Login to leave a comment.