Upaya Menghapus Stigma Pasien TBC

Kesehatan

Upaya Menghapus Stigma Pasien TBC

Rasa minder sempat melanda Satrio (nama samaran), manakala dirinya didiagnosa mengidap Tuberkulosis atau TBC di bulan Januari lalu. Kala itu, ia merasa tak percaya diri lantaran harus mengenakan masker setiap hari. Apalagi dirinya saat ini masih duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Pria berusia 17 tahun ini merasa khawatir dengan respon orang-orang disekitarnya karena ia menggunakan masker sepanjang hari, terutama di sekolah. Bagi Satrio memakai masker di sekolah menjadi beban tersendiri baginya. Dia merasa orang-orang yang dijumpainya cenderung memberikan tatapan berbeda kepadanya.

“Semuanya sedih. Kalau rasa minder pasti karena dokter suruh aku untuk memakai masker di rumah maupun di sekolah. Paling berat itu di sekolah karena yang lain tidak pakai masker, terus aku sendiri pakai. Jadi kayak suka diliatin ‘ini kenapa pakai masker setiap hari gitu’ rasanya,” kata Satrio, kepada jurnalis PingPoint (24/3/2020).

Upaya Menghapus Stigma Pasien TBC

Beruntung, teman-temannya memberi respon yang positif kepadanya. Satrio yang bersekolah di salah satu sekolah menengah di Bekasi, Jawa Barat ini mengaku mendapat dukungan dari teman-temannya setelah ia menjelaskan kondisi kesehatannya.

Dukungan

Bagi Satrio, dukungan dari teman-temannya sangat lah berarti. Sebab, penyembuhan untuk pasien TB tidaklah cepat. Pengobatan terhadap pasien TB dapat memakan waktu 6 hingga 9 bulan. Selain itu, pasien juga harus rutin meminum obat sebagaimana resep yang diterimanya. Pasalnya, bila pasien TB telat minum obat maka harus mulai pengobatan dari awal.

“Obat TB tidak boleh kita telat minum obat TB itu karena kita akan ulang lagi pengobatan dari awal. Contoh kecil aja Kak, kaya aku disuruh minum obat TB jam delapan malam dan aku telat sekarang jam 8.30. Kalau kita konsul ke dokter malah mungkin kita disuruh ulang lagi pengobatannya,” tuturnya.

[Baca Juga: Upaya Menumpas TBC Di Masa Pandemi Covid-19]

Meski banyak obat yang harus diminumnya, tapi Satrio mengatakan kalau ia menikmati prosesnya. Ia sadar kalau penyakitnya dapat menular ke orang lain, sehingga dia berusaha untuk selalu rutin meminum obat dan mengenakan masker saat berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya.

“Mungkin awal aku ikutin minum obat sehari lima butir. Bagi aku awal-awal cukup berat, tapi pertengahan waktu sampai saat ini aku santai aja,” katanya.

Kesadaran

Meski dirinya tak mendapat perlakuan diskriminatif, Satrio tetap berusaha agar orang-orang di sekitarnya tetap aman selama berkomunikasi dengannya. Satrio paham bila penyakitnya ini dapat menular.

Oleh karenanya, ia sangat mematuhi anjuran dokter selama masa pengobatannya. Ia pun berpesan agar masyarakat, terutama anak muda untuk tidak merokok agar tidak terkena TB.

“Buat temen-temen yang sedang berjuang untuk sembuh karena penyakit TB harus tetap semangat terus tetap berdoa sama Allah biar dikasih kesehatan dan kesembuhan,” pesannya.

Upaya Menumpas TBC Di Masa Pandemi Covid-19

Satrio, hanyalah salah satu dari ratusan ribu orang di Indonesia yang mengidap TB dan tak mendapat diskriminasi di masyarakat. Untuk diketahui, berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, setidaknya ada 845.00 orang di Indonesia mengalami penyakit TB.

Banyaknya kasus TB tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang 60 persen kasus TB yang ada di dunia. Hal itu juga membuat Indonesia berada di peringkat ketiga dengan kasus TBC tertinggi di dunia. Sementara peringkat pertama ditempati oleh India dan China di posisi kedua.

Sayangnya, pengetahuan masyarakat akan perihal penyakit TB ini tergolong masih rendah. Sejumlah riset menunjukkan adanya pasien TB yang mengalami diskriminasi. Hasil riset Eni Hidayati mengenai Pengetahuan dan Stigma Masyarakat Terhadap TBC menunjukkan adanya pasien TB yang mengalami diskriminasi oleh masyarakat.

[Baca Juga: Masih Ada Ancaman TBC di Tengah Pandemi Covid-19]

Riset yang dilakukan pada tahun 2014 itu menyebutkan ditemukan bahwa masyarakat khawatir tertular TB. Dalam riset yang dilakukan kepada klien TB di Kota Semarang ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden memiliki stigma rendah.

Dari 30 orang yang menjadi responden dalam penelitian ini, sebanyak 66,67 persen memiliki stigma rendah. Artinya, ada harapan yang tinggi oleh pasien agar stigma dapat berubah menjadi dukungan.

Berdasrkan sejumlah riset, stigma terhadap pasien TB berdampak pada gangguan psikologis, depresi dan ketakutan. Bahkan dapat memperparah kondisi penyakit pasien. Stigma terhadap pasien TB pun tak jarang membuat pasien enggan mengungkapkan kalau mereka memiliki riwayat penyakit ini. Mereka merasa malu dan takut dijauhi oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, hasil riset ini mendorong agar penyakit TB perlu mendapat perhatian. Selain itu, perlu upaya untuk mendorong pasien agar tetap semangat di tengah stigma yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, adanya edukasi ke masyarakat sangat penting dilakukan agar tak ada lagi stigma terhadap pasien TB.


Read More

Artikel Lainnya

Pastikan Anak Terlindung dari Campak via Vaksinasi, Pemkot Surabaya Siap Sweepin g.jpg

Kesehatan

Pastikan Anak Terlindung dari Campak via Imunisasi, Pemkot Surabaya Siap Sweeping

27 January 2023, 13:57

Banyaknya kasus campak di wilayah perbatasan Surabaya-Madura, mendorong Pemkot Surabaya untuk bergerak secara agresif demi memastikan anak-anak Kota Pahlawan sudah mendapatkan imunisasi campak.

Selama 2022 Ada Puluhan Suspek Campak, Dinkes Kota Yogyakarta Dorong Imunisasi Anak.jpg

Kesehatan

Selama 2022 Ada Puluhan Suspek Campak, Dinkes Kota Yogyakarta Dorong Imunisasi Anak

27 January 2023, 10:55

Dinkes Kota Yogyakarta meminta agar orangtua melindungi buah hatinya dari ancaman penyakit campak dengan segera datang ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi.

East Ventures Pimpin Pendanaan Awal untuk Startup Manufaktur In i.jpg

Bisnis

East Ventures Pimpin Pendanaan Awal untuk Startup Manufaktur Ini

26 January 2023, 15:30

Baru-baru ini perusahaan startup manufaktur Imajin disebut berhasil meraih suntikan pendanaan awal yang dipimpin East Ventures.

Ukur Kemampuan Bahasa Indonesia Mahasiswa, Dosen Unpad Hadirkan Tes Khusus.jpg

Pendidikan

Ukur Kemampuan Bahasa Indonesia Mahasiswa, Dosen Unpad Hadirkan Tes Khusus

26 January 2023, 13:28

Tim dosen Unpad berhasil membuat inovasi tes khusus yang dapat menunjukan bagaimana kompetensi mahasiswa dalam berbahasa Indonesia.


Comments


Please Login to leave a comment.