Virus Corona Baru Disebut dapat Menginfeksi Otak Manusia

Kesehatan

Virus Corona Baru Disebut dapat Menginfeksi Otak Manusia

Pakar Virologi Pierre Talbot yang dalam 25 tahun terakhir meneliti Virus Corona mengungkapkan alasan mengapa Virus Corona baru bernama SARS-CoV-2 dapat sangat mematikan. Ia mengatakan, gagal napas yang selama ini menjadi penyebab kematian pasien COVID-19 bukan hanya akibat dari pneumonia, tapi mungkin saja karena virus baru itu menginfeksi otak pasien.

“Dokter harus menyadari kemungkinan ini,” kata Talbot. “Itu mungkin saja bukan hanya pneumonia [yang membunuh pasien], tetapi virus bisa saja menginfeksi otak,” lanjutnya, melansir Psychology Today (28/4/2020).

Virus Corona baru, kata Talbot, masuk ke otak melalui saraf olfaktori dalam rongga hidung. Saraf olfaktori adalah sel reseptor utama dalam indera penciuman manusia.

Beberapa Peneliti Bersiap Lakukan Uji Coba Antivirus Corona

Ungkapan Talbot ini bukanlah celotehan tak beralasan. Peneliti yang merupakan Profesor Virologi di Institut Armand Frappier, Universitas Quebec, Kanada itu telah mempelajari bagaimana Virus Corona menginfeksi otak melalui saraf olfaktori. Sebelumnya, Talbot dan rekan penelitinya menemukan Virus Corona penyebab flu biasa menginfeksi otak manusia. Maka, dia memiliki pandangan bahwa SARS-CoV-2, Virus Corona penyebab COVID-19 juga akan melakukan hal serupa.

Dalam proses penelitiannya, Ia pun melihat bukti adanya SARS-CoV atau virus penyebab SARS pada otak pasien yang meninggal. Talbot menjelaskan, virus yang sampai di otak akan berada dalam neuron atau sel saraf dibandingkan tipe sel otak lainnya. Neuron inilah yang berfungsi mengatur pernapasan manusia. Ketika neuron di otak diinfeksi virus, maka terjadilah gagal napas.

[Baca Juga: Siapa Saja yang Boleh Donor Plasma Darah untuk Kesembuhan COVID-19?]

Kasus ini ditemukan pada penyakit SARS dan sebagaimana diketahui, virus penyebab SARS masih satu keluarga dengan virus penyebab COVID-19. Maka menurut Talbot, kemungkinan infeksi otak pada penyakit yang kali pertama ditemukan di Wuhan itu tidak dapat disepelekan.

Bukan hanya Talbot, penelitian yang dilakukan Jilin University dan Pusat Penelitian Otak RIKEN Brain Science Jepang juga menyimpulkan hal yang sama. Para peneliti mengamati dan mempelajari kondisi pasien COVID-19 di China. Mereka menemukan pasien-pasien COVID-19 yang dirawat di ICU tidak bisa bernapas sehingga butuh alat bantu. Mereka pun menunjukkan gejala neurologis seperti sakit kepala, mual, dan muntah. Sekitar 50 persen dari pasien itu lama kelamaan memburuk dan pada akhirnya meninggal karena gagal napas.

Neuron Bisa Terinfeksi

Peneliti studi tersebut yang terdiri dari Yan Chao Li, Wan Zhu Bai dan Tsutomo Kashikawa itu pun akhirnya menyimpulkan bila neuron atau sel saraf yang mengatur pernapasan bisa terinfeksi.

Kesimpulan penelitian ini disebut masuk akal oleh seorang Mikrobiologis di Universitas Lowa Amerika Serikat Stanley Pearlman. “Sangat masuk akal bahwa ini [infeksi pada sel saraf] dapat terjadi pada sebagian kecil pasien COVID-19. Mungkin yang paling parah gejalanya,” kata Pearlman.

Bagaimana Pengobatan yang Diterima oleh Pasien COVID-19

Masalah yang dihadapi Talbot sampai saat ini adalah jalur infeksi otak yang dilakukan oleh SARS-CoV-2 belum dapat ditemukan. Pada saat autopsi pasien COVID-19 yang meninggal, pencarian rute infeksi virus pada otak terhalang oleh luasnya infeksi di seluruh tubuh. Terlebih lagi, pada kasus autopsi pasien COVID-19, sel olfaktori dan jaringan otak tidak diambil sampelnya.

Cara membuktikan infeksi virus pada otak seperti penelitian eksperimental pun tidak dapat dilakukan karena alasan etis. Namun, Pearlman setidaknya pernah menguji tikus yang direkayasa dan menyuntikkan SARS-CoV pada saraf olfaktorinya. Virus penyebab SARS itu pun menyebar menuju otak. Gagal napas yang dialami tikus pada kasus ini benar disebabkan infeksi neuron pada otak yang bertugas mengontrol pernapasan.

[Baca Juga: Menerka Sifat Virus Corona Baru di Masa Mendatang]

Walau belum terbukti dengan jelas, Talbot tetap ingin dokter yang menangani COVID-19 menaruh perhatiannya terhadap kemungkinan infeksi neuron di otak oleh SARS-CoV-2. Ini demi mengantisipasi penanganan yang harus dilakukan jika kasus ini memang betul terjadi.

Talbot mengatakan, pasien dengan pneumonia memang bisa ditangani dengan pemakaian alat bantu napas. Namun, kalau akar masalahnya adalah hilangnya kemampuan bernapas akibat diserangnya neuron pada otak, belum diketahui apakah alat bantu napas akan mampu menanganinya.

“Sulit rasanya memecahkan masalah dari gagal napas akibat infeksi sistem saraf pusat,” ujar Talbot.


Read More

Artikel Lainnya

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Ell y.jpg

Kuliner

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Elly

07 December 2022, 16:31

Fore Coffee baru-baru ini mengumumkan menu pendamping baru yang tepat untuk jadi teman minum kopi dan menu ini merupakan hasil kreasi kolaborasi dengan Oma Elly.

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kot a.jpg

Bisnis

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kota

07 December 2022, 14:29

Pada akhir pekan lalu, Kawan lama Group kembali menggelar aksi donor darah secara serentak di puluhan gerai ACE serta Informa yang tersebar di 27 kota.

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital.jpg

Bisnis

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital

07 December 2022, 12:26

Perusahaan Amartha mengumumkan berhasil menggandeng hingga lebih dari 50.000 UMKM di Sumatera Barat untuk proses adopsi digitalisasi via Amartha+.

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rist a.jpg

Bisnis

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rista

06 December 2022, 16:16

Hadapi perwakilan Chatime dari enam negara lainnya, tea-rista Chatime Indonesia berhasil menyabet juara kedua di kompetisi brewed tea tingkat dunia di Taiwan.


Comments


Please Login to leave a comment.