PLUIT_KESEHATAN_WASPADA DAN KENALI PERBEDAAN DIFTERI DAN RADANG TENGGOROKAN_OCI_1100 px X 600 px-01.jpg

Kesehatan

Waspada dan Kenali Perbedaan Difteri dan Radang Tenggorokan

Pada 2017 Kasus difteri mewabah. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Namun, pada awal tahun Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri telah berhenti. Ia pun mengatakan tidak ada kasus difteri baru memasuki tahun 2018 ini. Namun, masih banyak yang belum tahu perbedaan difteri dan Radang Tenggorokan.

Difteri adalah infeksi bakteri yang memiliki efek serius pada selaput lendir hidung dan tenggorokan. Berdasarkan artikel dari situs RS Pluit, bakteri yang menyebabkan penyakit ini dapat menghasilkan racun yang merusak jaringan pada manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan.

Salah satu gejala khas dari difteri adalah munculnya selaput putih keabuan di pangkal tenggorokan. Selaput ini merupakan kumpulan sel-sel mati yang membentuk membran. Penyebabnya adalah bakteri corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan racun dan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan sehingga akhirnya menjadi sel mati. Namun, tahukah Anda bahwa selain difteri, ada juga penyakit yang menimbulkan selaput di pangkal tenggorokan? Penyakit ini adalah tonsilitis atau radang amandel yang sering terjadi pada anak-anak.

Perbedaan dengan Radang

Dokter spesialis anak, Marlyn Cecilia Malonda seperti dikutip dari kompas.com menjelaskan perbedaan antara tonsilitis dan difteri. Dia berkata bahwa pasien tonsilitis tidak menunjukkan gejala sakit berat. Anak akan mengeluh sakit tenggorokan, sulit menelan, dan terkadang demam sekitar 39 derajat celsius. "Munculnya cepat dan akut," kata Marlyn.

Selain itu, jika pada difteri selaputnya tebal dan menutupi pangkal tenggorokan sehingga mengakibatkan susah bernapas, maka bercak-bercak atau selaput putih (beslag) akibat tonsilitis hanya terjadi pada amandel saja. "Jika terjadi tonsilitis yang berat atau parah, memang susah membedakannya dengan difteri. Karena bisa juga terdapat erosi yang dilapisi membran abu dan coklat (jika tonsilitis parah)," jelas Marlyn. Tonsilitis memang lebih umum terjadi pada anak-anak dan ancamannya tidak separah difteri. Meski begitu, pengobatan radang amandel ini harus tetap dilakukan.

"Tentu saja untuk pengobatan tonsilitis folikularis ringan sampai berat kita (dokter) harus sembuhkan sampai tuntas dan selaput putihnya menghilang," jelasnya. "Untuk membedakan difteri atau bukan, selain anamnesa dan pemeriksaan fisik, harus ada pemeriksaan laboratorium seperti sampel swab tenggorokan dengan pewarnaan neisser pada pasien yang dicurigai difteri tonsil," imbuhnya.

Pada pasien tonsilitis ringan, perawatannya tidak seperti difteri yang harus dirawat di ruang isolasi. Namun, ada pengecualian jika tonsilitis yang dialami anak sudah parah. "Bila tonsilitis berat, beslag-nya (selaput putih) agak susah dibedakan dengan difteri. Untuk kasus seperti ini, maka pasien wajib diisolasi sampai terbukti bukan difteri," katanya.

Waspada Wabah

Karena sudah tidak mewabah, alangkah baiknya agar kita bersama mencegah penyakit ini muncul lagi. "Data terakhir 9 Januari 2018 kami terdapat 85 kabupaten dari 170 kabupaten yang sudah tidak ditemukan kasus baru. Jadi berarti KLB sudah berakhir pada 9 Januari 2018," ucap Nila dari sumber yang sama.

Menurut Riskesdas 2007 dan 2013, kasus Difteri di Indonesia sebetulnya adalah wabah lama dan umumnya menyerang anak-anak. Meski berbahaya, namun Difteri dapat diatasi dengan vaksin DPT yang diberikan untuk mencegah penularan ini.

Namun setelah beberapa tahun (sejak 1990-an dan baru muncul lagi tahun 2009), difteri kembali dinyatakan mewabah. Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Indonesia mulai dilaporkan sejak Januari 2017. Kasusnya hingga November sudah tercatat mencapai 593 kasus dan 32 kasus kematian akibat difteri.

Munculnya wabah ini diduga terjadi karena tiga faktor yakni kembali ditemukannya kasus difteri yang telah lama hilang dalam satu daerah. Terjadinya peningkatan kasus dua kali lipat dalam satu periode, serta peningkatan pada kematian akibat penyakit tersebut.

Di DKI Jakarta sendiri, tercatat sudah mencapai 25 kasus difteri yang sudah menyebabkan dua orang meninggal. "Posisinya menyebar pada 12 kecamatan dan cukup luas di Jakbar dan Jakut, sedangkan Jaktim, Jakpus, dan Jaksel tidak sebanyak di Jakbar dan Jakut," ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto di tempat yang sama bersana Nila. Itulah mengapa kita perlu mengenali perbedaan difteri dan radang tenggorokan agar lebih mudah menangani dan mencegah penyakit ini.

Read More

Artikel Lainnya

Slank Akan Rayakan Ulang Tahun ke-36 di Padang Savana

Berita Kawasan

Slank Akan Rayakan Ulang Tahun ke-36 di Padang Savana

15 November 2019, 21:00

Padang Savana Puru Kambera yang nantinya akan digunakan sebagai venue akan disulap layaknya festival woodstock.

Ramai Restoran AYCE, Ini yang Buat Hanamasa Eksis Sejak 1987

Kuliner

Ramai Restoran AYCE, Ini yang Buat Hanamasa Eksis Sejak 1987

15 November 2019, 20:00

Hanamasa merupakan salah satu restoran All You Can Eat yang pertama hadir di Indonesia tapi masih bisa bertahan hingga sekarang.

Wisata Budaya Jakarta, Alternatif Liburan Edukatif yang Bermanfaat

Berita Kawasan

Wisata Budaya Jakarta, Alternatif Liburan Edukatif yang Bermanfaat

15 November 2019, 19:00

Wisata di kota metropolitan identik dengan pusat perbelanjaan, restoran mewah, hotel atau teater canggih. Namun, bagaimana dengan wisata edukasi bermuatan budaya?

Deteksi Arti Tangisan Bayi Lewat Aplikasi Buatan Dosen IPB

Pendidikan

Deteksi Arti Tangisan Bayi Lewat Aplikasi Buatan Dosen IPB

15 November 2019, 18:00

Tangisan bayi memiliki arti yang berbeda-beda sesuai bunyinya, agar dapat memahaminya dengan baik dengan aplikasi ini.


Comments


Please Login to leave a comment.